KK
Tuhan Allah, Namamu
Grosser Gott, Wir Loben Dich
60
Nomor
do=f
Nada Dasar
Kode
KK 60
Buku
Kidung Keesaan
Tematik
Puji-pujian dan Pembukaan Ibadah
Nada Dasar
do=f
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
96
Style
FinalWaltz, 9-8Waltz
Pencipta Lagu
Austria
Pencipta Syair
Ignaz Franz
Penerjemah
Yamuger
Cross Ref.
KJ 5 , NR 11 , KC 123 , BE 21
Syair / Lirik
7 bait
1
Tuhan Allah, nama-Mu kami puji dan masyhurkan;
Isi dunia sujud di hadapan-Mu, ya Tuhan!
Bala surga menyembah Dikau, Khalik semesta!
2
Kerubim dan Serafim nyanyi: βSuci, suci, suci!β
Para rasul dan nabi, martir yang berjubah putih,
Greja yang kudus, esa, kepada-Mu menyembah.
3
Bapa agung dan kudus, mahamurah dan rahmani.
Putra Tunggal, Penebus, Roh, Penghibur yang sejati,
langit-bumi pun penuh kemuliaan nama-Mu!
4
Kristus, Raja mulia, Putra Bapa yang abadi,
Kautebus manusia oleh kurban-Mu di salib.
Kuasa maut menyerah, surga pun terbukalah!
5
Takhta-Mu kekal teguh pada sisi kanan Bapa;
dalam penghakiman-Mu, tolong umat-Mu yang papa:
diri kami yang lemah dalam Dikau slamatlah!
6
Tiap hari nama-Mu kami puji dan muliakan,
kini dan selalu trus sampai kesudahan zaman.
Buat kami bertekun hingga Hari Datang-Mu.
7
Tuhan, kasihanilah! Kasihani kami ini;
dalam cahya karunia tuntun yang telah Kaupilih.
Kau Harapan umat-Mu: kasih-Mu kekal teguh!
Syair: Grosser Gott, wir loben dich, Ignaz Franz, 1768,
menurut Te Deum laudamus, awal abad ke-5
terj. H.A. Pandopo, 1975/J.M. Malessy, 1983, revisi Yamuger, 2016
Lagu: Austria (Wina), 1774
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
7 slide
Kisah di Balik Lagu
Kisah mendalam di balik lagu pujian yang agung, "Tuhan Allah, Namamu" atau yang lebih dikenal dengan judul aslinya dalam bahasa Jerman, "Grosser Gott, wir loben dich."
Kisah lagu ini bukanlah kisah personal seorang komposer tunggal dalam satu waktu, melainkan sebuah perjalanan lintas waktu dan budaya yang membentang lebih dari satu milenium, menjadikannya salah satu himne tertua dan paling dihormati dalam tradisi Kristen.
### 1. Akar Kuno: Te Deum Laudamus (Abad ke-4/5 Masehi)
Untuk memahami "Grosser Gott," kita harus kembali ke akar-akarnya yang paling kuno, yaitu kidung Latin **"Te Deum Laudamus"** (yang berarti "Engkau, Tuhan, kami puji").
* **Asal-Usul:** "Te Deum" diyakini berasal dari Gereja awal Kristen, sekitar abad ke-4 atau ke-5 Masehi. Walaupun atribusi pastinya masih diperdebatkan, tradisi sering mengaitkannya dengan Santo Ambrosius (Uskup Milan) dan Santo Agustinus, yang konon menyusunnya secara spontan saat pembaptisan Agustinus. Namun, teori lain menunjukkan kemungkinan penulisannya oleh Nicetas dari Remesiana.
* **Struktur dan Isi:** "Te Deum" adalah sebuah kidung pujian trinitarian yang luar biasa, menggabungkan elemen-elemen dari doa, kredo, dan kidung. Ia memuji Allah Tritunggal MahakudusβBapa, Putra, dan Roh Kudusβdan mengakui keterlibatan seluruh ciptaan, mulai dari malaikat, para Rasul, para Nabi, hingga para Martir, dalam pujian ilahi. Bagian akhirnya adalah permohonan belas kasihan dan perlindungan.
* **Penggunaan Liturgis:** Selama berabad-abad, "Te Deum" menjadi salah satu bagian terpenting dari liturgi Kristen Barat, khususnya dalam ibadat Matins (doa pagi). Ia dinyanyikan dalam berbagai kesempatan agung: penobatan raja, pengangkatan uskup, perayaan kemenangan militer, atau saat-masa syukur yang mendalam. Kemegahan dan kesakralan "Te Deum" menjadikannya jantung ibadat yang khusyuk.
### 2. Jembatan ke Dunia Jerman: Ignaz Franz (Abad ke-18 Masehi)
Pada abad ke-18, dengan meningkatnya keinginan untuk ibadat dalam bahasa vernakular (bahasa rakyat), banyak himne Latin kuno mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Di sinilah peran **Ignaz Franz (1719β1790)** menjadi krusial.
* **Siapa Ignaz Franz?** Ia adalah seorang imam Yesuit, teolog, dan penyair himne asal Austria. Ia dikenal karena kontribusinya dalam memperkaya perbendaharaan himne Gereja Katolik berbahasa Jerman.
* **Terjemahan dan Adaptasi (1771):** Pada tahun 1771, Ignaz Franz menerjemahkan dan mengadaptasi "Te Deum Laudamus" ke dalam bahasa Jerman. Namun, ini bukanlah sekadar terjemahan harfiah. Franz dengan cermat merestrukturisasi dan mengolah liriknya agar tidak hanya setia pada semangat dan teologi aslinya, tetapi juga mudah dinyanyikan dan dipahami oleh jemaat awam. Ia berhasil menangkap keagungan dan kedalaman Te Deum dalam bentuk yang puitis dan mengalir dalam bahasa Jerman.
* **Judul:** Terjemahan Ignaz Franz inilah yang menghasilkan judul **"Grosser Gott, wir loben Dich"** (Allah yang Agung, kami memuji-Mu). Keberhasilannya terletak pada kemampuannya untuk menjaga kemegahan aslinya sambil membuatnya relevan dan dapat diakses untuk umat pada masanya.
### 3. Melodi yang Abadi (Akhir Abad ke-18 Masehi)
Meskipun teksnya sudah ada sejak lama, melodi yang paling populer dan dikenal luas untuk "Grosser Gott, wir loben Dich" mulai tersebar pada akhir abad ke-18.
* **Penyebaran Melodi:** Melodi yang paling umum saat iniβyang agung, lambat, dan penuh martabatβdiyakini muncul dan dipopulerkan sekitar tahun 1770-an. Salah satu sumber penting yang mempopulerkannya adalah **"Generalgesangbuch" (Buku Kidung Umum)** yang diterbitkan pada tahun 1777. Meskipun sering dikaitkan dengan komposer seperti Christian Gotthilf Tag, atribusi pasti melodi ini, seperti banyak melodi himne kuno lainnya, sulit dipastikan secara tunggal karena sering berkembang secara organik dan diadaptasi dari berbagai sumber.
* **Karakter Melodi:** Melodi ini sangat cocok dengan liriknya. Ia memiliki nuansa yang khusyuk, universal, dan membangkitkan perasaan kagum dan hormat. Karakteristik inilah yang membuatnya begitu mudah diingat dan dicintai oleh banyak orang, melintasi batas-batas denominasi.
### 4. Dampak Global dan Warisan (Abad ke-19 hingga Sekarang)
Dari Jerman, "Grosser Gott, wir loben Dich" menyebar ke seluruh dunia.
* **Terjemahan Lain:** Himne ini kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa lain. Versi bahasa Inggris yang paling terkenal adalah **"Holy God, We Praise Thy Name,"** yang diterjemahkan oleh Clarence A. Walworth pada tahun 1858.
* **Penggunaan Lintas Denominasi:** Meskipun awalnya merupakan himne Katolik, keindahan teologis dan musikalnya telah membuatnya diadopsi secara luas oleh berbagai denominasi Kristen, termasuk Lutheran, Anglikan, Metodis, dan banyak gereja Protestan lainnya.
* **Kehadiran Abadi:** Hingga hari ini, "Tuhan Allah, Namamu" tetap menjadi salah satu himne pujian yang paling dicintai dan sering dinyanyikan. Ia digunakan dalam Misa, ibadat, pernikahan, pemakaman, upacara syukur, dan acara-acara penting lainnya. Kemegahan lirik dan melodinya mampu mengangkat jiwa dan menyatukan umat beriman dalam pujian kepada Allah.
### Kesimpulan
Kisah "Tuhan Allah, Namamu" adalah kisah tentang keberlanjutan iman. Ini bukan sekadar lagu, melainkan sebuah jembatan waktu yang menghubungkan umat Kristen modern dengan tradisi Gereja awal. Ia dimulai sebagai "Te Deum Laudamus" di Kekaisaran Romawi kuno, diadaptasi dengan cemerlang oleh Ignaz Franz di Austria pada abad ke-18, diperkaya dengan melodi yang tak terlupakan, dan terus bergema di seluruh dunia sebagai seruan universal untuk memuji Allah yang Maha Agung. Ignaz Franz mungkin bukan pencipta aslinya, tetapi perannya dalam menerjemahkan dan membentuknya ke dalam bentuk Jerman yang sekarang kita kenal adalah sebuah mahakarya sastra dan spiritual yang telah memberkati jutaan orang selama berabad-abad.
Kisah lagu ini bukanlah kisah personal seorang komposer tunggal dalam satu waktu, melainkan sebuah perjalanan lintas waktu dan budaya yang membentang lebih dari satu milenium, menjadikannya salah satu himne tertua dan paling dihormati dalam tradisi Kristen.
### 1. Akar Kuno: Te Deum Laudamus (Abad ke-4/5 Masehi)
Untuk memahami "Grosser Gott," kita harus kembali ke akar-akarnya yang paling kuno, yaitu kidung Latin **"Te Deum Laudamus"** (yang berarti "Engkau, Tuhan, kami puji").
* **Asal-Usul:** "Te Deum" diyakini berasal dari Gereja awal Kristen, sekitar abad ke-4 atau ke-5 Masehi. Walaupun atribusi pastinya masih diperdebatkan, tradisi sering mengaitkannya dengan Santo Ambrosius (Uskup Milan) dan Santo Agustinus, yang konon menyusunnya secara spontan saat pembaptisan Agustinus. Namun, teori lain menunjukkan kemungkinan penulisannya oleh Nicetas dari Remesiana.
* **Struktur dan Isi:** "Te Deum" adalah sebuah kidung pujian trinitarian yang luar biasa, menggabungkan elemen-elemen dari doa, kredo, dan kidung. Ia memuji Allah Tritunggal MahakudusβBapa, Putra, dan Roh Kudusβdan mengakui keterlibatan seluruh ciptaan, mulai dari malaikat, para Rasul, para Nabi, hingga para Martir, dalam pujian ilahi. Bagian akhirnya adalah permohonan belas kasihan dan perlindungan.
* **Penggunaan Liturgis:** Selama berabad-abad, "Te Deum" menjadi salah satu bagian terpenting dari liturgi Kristen Barat, khususnya dalam ibadat Matins (doa pagi). Ia dinyanyikan dalam berbagai kesempatan agung: penobatan raja, pengangkatan uskup, perayaan kemenangan militer, atau saat-masa syukur yang mendalam. Kemegahan dan kesakralan "Te Deum" menjadikannya jantung ibadat yang khusyuk.
### 2. Jembatan ke Dunia Jerman: Ignaz Franz (Abad ke-18 Masehi)
Pada abad ke-18, dengan meningkatnya keinginan untuk ibadat dalam bahasa vernakular (bahasa rakyat), banyak himne Latin kuno mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Di sinilah peran **Ignaz Franz (1719β1790)** menjadi krusial.
* **Siapa Ignaz Franz?** Ia adalah seorang imam Yesuit, teolog, dan penyair himne asal Austria. Ia dikenal karena kontribusinya dalam memperkaya perbendaharaan himne Gereja Katolik berbahasa Jerman.
* **Terjemahan dan Adaptasi (1771):** Pada tahun 1771, Ignaz Franz menerjemahkan dan mengadaptasi "Te Deum Laudamus" ke dalam bahasa Jerman. Namun, ini bukanlah sekadar terjemahan harfiah. Franz dengan cermat merestrukturisasi dan mengolah liriknya agar tidak hanya setia pada semangat dan teologi aslinya, tetapi juga mudah dinyanyikan dan dipahami oleh jemaat awam. Ia berhasil menangkap keagungan dan kedalaman Te Deum dalam bentuk yang puitis dan mengalir dalam bahasa Jerman.
* **Judul:** Terjemahan Ignaz Franz inilah yang menghasilkan judul **"Grosser Gott, wir loben Dich"** (Allah yang Agung, kami memuji-Mu). Keberhasilannya terletak pada kemampuannya untuk menjaga kemegahan aslinya sambil membuatnya relevan dan dapat diakses untuk umat pada masanya.
### 3. Melodi yang Abadi (Akhir Abad ke-18 Masehi)
Meskipun teksnya sudah ada sejak lama, melodi yang paling populer dan dikenal luas untuk "Grosser Gott, wir loben Dich" mulai tersebar pada akhir abad ke-18.
* **Penyebaran Melodi:** Melodi yang paling umum saat iniβyang agung, lambat, dan penuh martabatβdiyakini muncul dan dipopulerkan sekitar tahun 1770-an. Salah satu sumber penting yang mempopulerkannya adalah **"Generalgesangbuch" (Buku Kidung Umum)** yang diterbitkan pada tahun 1777. Meskipun sering dikaitkan dengan komposer seperti Christian Gotthilf Tag, atribusi pasti melodi ini, seperti banyak melodi himne kuno lainnya, sulit dipastikan secara tunggal karena sering berkembang secara organik dan diadaptasi dari berbagai sumber.
* **Karakter Melodi:** Melodi ini sangat cocok dengan liriknya. Ia memiliki nuansa yang khusyuk, universal, dan membangkitkan perasaan kagum dan hormat. Karakteristik inilah yang membuatnya begitu mudah diingat dan dicintai oleh banyak orang, melintasi batas-batas denominasi.
### 4. Dampak Global dan Warisan (Abad ke-19 hingga Sekarang)
Dari Jerman, "Grosser Gott, wir loben Dich" menyebar ke seluruh dunia.
* **Terjemahan Lain:** Himne ini kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa lain. Versi bahasa Inggris yang paling terkenal adalah **"Holy God, We Praise Thy Name,"** yang diterjemahkan oleh Clarence A. Walworth pada tahun 1858.
* **Penggunaan Lintas Denominasi:** Meskipun awalnya merupakan himne Katolik, keindahan teologis dan musikalnya telah membuatnya diadopsi secara luas oleh berbagai denominasi Kristen, termasuk Lutheran, Anglikan, Metodis, dan banyak gereja Protestan lainnya.
* **Kehadiran Abadi:** Hingga hari ini, "Tuhan Allah, Namamu" tetap menjadi salah satu himne pujian yang paling dicintai dan sering dinyanyikan. Ia digunakan dalam Misa, ibadat, pernikahan, pemakaman, upacara syukur, dan acara-acara penting lainnya. Kemegahan lirik dan melodinya mampu mengangkat jiwa dan menyatukan umat beriman dalam pujian kepada Allah.
### Kesimpulan
Kisah "Tuhan Allah, Namamu" adalah kisah tentang keberlanjutan iman. Ini bukan sekadar lagu, melainkan sebuah jembatan waktu yang menghubungkan umat Kristen modern dengan tradisi Gereja awal. Ia dimulai sebagai "Te Deum Laudamus" di Kekaisaran Romawi kuno, diadaptasi dengan cemerlang oleh Ignaz Franz di Austria pada abad ke-18, diperkaya dengan melodi yang tak terlupakan, dan terus bergema di seluruh dunia sebagai seruan universal untuk memuji Allah yang Maha Agung. Ignaz Franz mungkin bukan pencipta aslinya, tetapi perannya dalam menerjemahkan dan membentuknya ke dalam bentuk Jerman yang sekarang kita kenal adalah sebuah mahakarya sastra dan spiritual yang telah memberkati jutaan orang selama berabad-abad.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
KJ 5 , NR 11 , KC 123 , BE 21
21
Bege Ma Sude Hamu
123
Tuhan Allah, Nama-Mu
5
Tuhan Allah, NamaMu
11
Kami Puji Engkau, Hu
1
Mari, Puji Dia
2
Allah Hadir Bagi Kita
3
Andai 'Ku Punya Banyak Lidah
4
Angkatlah Hatimu Pada Tuhan
5
Bagimu, Tuhan, Nyanyianku
6
Bergemarlah Dan Bersukaria
7
Berhimpun Semua
8
Beribu Lidah Patutlah
9
Bersoraklah Dan Puji Tuhan
10
Bersoraklah, Hai Alam Semesta
11
Bersyukurlah Pada Tuhan
12
Bukalah Gapura Indah
13
Bumi Dan Langit, Pujilah
14
Bernyanyilah, Biduan Muda-Mudi
15
Dengan Gembira
16
Hai Makhluk Semua
17
Gloria
18
Suci, Suci, Suci
19
Hai Mari Sembah
20
Hai, Masyhurkanlah
21
Haleluya! Alangkah Baik
22
Haleluya, Haleluya
23
Haleluya Pujilah
24
Hanyalah Engkau, Tuhan
25
Hari Minggu Hari Kudus
26
Hari Minggu, Hari Yang Mulia
27
Inilah Hari Minggu
28
Hari Minggu Hari Tuhan
29
Jemaat Allah, Marilah
30
Jiwaku Memuji Tuhan
31
Kami Puji Dengan Riang
32
'Kau Yang Layak
33
Kepadamu,Tuhanku
34
Kita Masuk Rumahnya
35
'Ku Gembira 'Kau Berkata
36
Mari, Bernyanyi Sertaku
37
Mari Kita Puji
38
Mari Menyembah
39
Mari Sembah
40
Marilah Bernyanyi
41
Marilah Kita Siapkan Hati Kita
42
Mulia, Mulia Namanya
43
Nyanyikanlah Mazmur Bagi Tuhan
44
Nyanyikanlah Nyanyian Baru
45
O Hari Istirahat
46
Patut Segenap Yang Ada
47
Puji, Hai Jiwaku, Puji Tuhan
48
Puji Tuhan, Pujilah Namanya
49
Puji Yesus
50
Pujilah Allah, Pujilah
51
Pujilah Tuhan
52
Pujilah Tuhan, Sang Raja
53
Salam Dan Hormat KepadaMu
54
Pujilah Tuhanmu
55
Muliakan Tuhan Allah
56
Suci, Suci, Suci
57
Sungguhlah Indah Rumahmu
58
Terpujilah Allah
59
Tuhan Allah Hadir
61
Tuhanku Yesus
62
Ya Khalik Semesta