Bekasi, Cikarang & Karawang
142
Nomor
Kode
PKJ 142
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Tematik
Pernyataan Keyakinan Iman
Metronom
0
Pencipta Lagu
Johann Georg Ebeling
Pencipta Syair
Paul Gerhardt
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 6 bait
1
Untuk apa susah hati? Bukankah Yesuslah kawanmu abadi! Harta imanku tak hilang: bagiku Penebus adalah jaminan.
2
Saat lahirku di dunia, nyatanya tiadalah milik yang β€˜ku punya. Tanpa milik apa jua, akhirnya haruslah β€˜ku berangkat pula.
3
Aku bukan milik diri; jiwaku, ragaku, Tuhan yang miliki. Diberi dan diambilNya; berserah s’lamanya β€˜ku memuji Dia.
4
Bila salib dan sengsara kutempuh, tak perlu aku putus asa. Aku tak perlu kuatir: aku tahu, Tuhan mau susahku berakhir.
5
Banyak hariku ceria; apakah lawannya tidak kuterima? Tuhan adil dan setia: apapun nasibku, kuandalkan Dia!
6
Tuhan, Sumber kesukaan, diriku milikMu: tak β€˜kan terpisahkan. Aku yakin dan percaya: Kau Terang, Kau Teman, untuk selamanya.
Partitur / Not
Partitur Chord PKJ 142
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 3 slide
Slide 1 β€” PKJ 142 1
Slide 2 β€” PKJ 142 2
Slide 3 β€” PKJ 142 3
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Warum sollt ich mich denn grΓ€men?"** (Mengapa Aku Harus Bersusah Hati?) adalah salah satu kidung (himne) Kristen paling terkenal dari Jerman yang lahir di masa-masa sulit dalam sejarah Eropa.

Karya ini merupakan kolaborasi antara penyair **Paul Gerhardt** (lirik) dan komposer **Johann Georg Ebeling** (melodi). Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di baliknya:

### 1. Latar Belakang Penulis: Paul Gerhardt
Paul Gerhardt (1607–1676) sering disebut sebagai penyair himne terhebat dalam sejarah Lutheran. Hidupnya penuh dengan tragedi pribadi dan gejolak zaman:
* **Perang Tiga Puluh Tahun:** Ia hidup melewati masa perang yang menghancurkan Jerman. Ia menyaksikan kelaparan, wabah penyakit (wabah pes), dan kehancuran moral di sekitarnya.
* **Tragedi Keluarga:** Dari lima anaknya, empat meninggal saat masih kecil. Istrinya juga meninggal setelah masa pernikahan yang singkat.
* **Penderitaan Hidup:** Gerhardt kehilangan posisinya sebagai pendeta karena menolak tunduk pada tekanan politik yang memaksanya berkompromi dengan keyakinan teologisnya.

Meski hidup dalam penderitaan yang luar biasa, Gerhardt tidak menjadi pahit. Sebaliknya, ia menulis himne-himne yang berfokus pada ketenangan jiwa dan kepercayaan mutlak kepada pemeliharaan Tuhan.

### 2. Makna di Balik Lirik
Lagu ini ditulis sekitar tahun **1653**. Secara teologis, lagu ini merupakan sebuah "dialog" atau refleksi diri. Gerhardt bertanya pada dirinya sendiri: *Mengapa aku harus bersedih?*

* **Penyangkalan atas keputusasaan:** Liriknya dimulai dengan retorika bahwa bersedih tidak akan mengubah situasi. Ia mengakui bahwa Tuhan adalah Pencipta yang memelihara setiap detail hidupnya, termasuk helai rambut di kepalanya.
* **Penyerahan diri (Surrender):** Inti dari lagu ini adalah penyerahan total kepada kehendak Tuhan. Gerhardt menekankan bahwa jika Tuhan sudah memberikan yang terbesar (yaitu Anak-Nya, Yesus Kristus), maka hal-hal kecil lainnya dalam hidup (seperti makanan, pakaian, atau perlindungan) pasti akan dicukupi-Nya.
* **Penghiburan di masa depan:** Lagu ini juga menyinggung tentang kehidupan setelah kematian, di mana segala penderitaan duniawi akan dihapuskan.

### 3. Kontribusi Johann Georg Ebeling
Johann Georg Ebeling (1637–1676) adalah seorang komposer yang menjadi teman dekat Gerhardt. Ia adalah orang yang mempublikasikan kumpulan himne Gerhardt dalam buku berjudul *Geistliche Andachten* (Renungan Rohani).

Ebeling menggubah melodi untuk lagu ini dengan nuansa yang tenang, meditatif, dan penuh martabat (tipe melodi *Chorale*). Melodi ini dirancang agar mudah dinyanyikan oleh jemaat di gereja, memberikan rasa damai bagi mereka yang mendengarkan atau melantunkannya di tengah kesulitan hidup.

### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Berpengaruh?
Lagu ini bertahan selama berabad-abad karena alasan-alasan berikut:
* **Kejujuran Emosional:** Lagu ini tidak memaksa seseorang untuk "menjadi bahagia". Ia mengakui adanya kesusahan hati, namun ia memberikan perspektif spiritual untuk mengatasinya.
* **Penawar Kecemasan:** Di era modern yang penuh dengan kecemasan (*anxiety*), lirik Gerhardt tentang "Tuhan memegang kendali atas hari esok" dianggap sangat relevan.
* **Saksi Iman:** Lagu ini menjadi bukti sejarah bahwa iman Kristen yang teguh seringkali lahir bukan dari kemakmuran, melainkan dari ujian yang paling berat.

### Kesimpulan
*"Warum sollt ich mich denn grΓ€men?"* adalah sebuah perlawanan rohani terhadap keputusasaan. Paul Gerhardt menuliskan ini bukan sebagai teori teologis yang dingin, melainkan sebagai "obat" untuk hatinya sendiri yang sedang remuk. Hingga hari ini, lagu ini tetap dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia sebagai pengingat bahwa di balik segala kesulitan hidup, ada tangan Tuhan yang tidak pernah melepaskan umat-Nya.

Jika Anda mendengarkannya dalam bahasa Jerman aslinya, Anda akan merasakan irama yang tenang, seolah-olah sang penyair sedang berbisik pada jiwanya sendiri agar tidak perlu merasa takut atau khawatir lagi.

Narasi dari Wikipedia/AI β€” sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.