PKJ
Pujilah Tuhan, Hai Jiwaku
I'll praise my Maker while I've breath
137
Nomor
Kode
PKJ 137
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Tematik
Pernyataan Keyakinan Iman
Metronom
0
Pencipta Lagu
G. Davis
Pencipta Syair
Isaac Watts
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
Pujilah Tuhan, hai jiwaku!
Ingin sepanjang umurku
kumuliakan namaNya!
Selagi hidup diberi,
pun bila nafas berhenti,
kupuji Dia s’lamanya!
2
Sungguh bahagia yang imannya
pada Pencipta semesta,
yang kesetiaanNya kekal.
Si miskin dientaskanNya,
yang lapar dikenyangkanNya:
terurus adil tiap hal.
3
Yang tersekap dibebaskanNya,
mata si buta pun cerah,
tegaklah orang yang penat;
yang jujur dikasihiNya,
yang asing pun dijagaNya,
piatu diberi tempat.
4
Tuhanlah Raja selamanya,
adil, setia hukumNya,
belas kasihanNya kudus.
Dia yang patut disembah:
nyanyikanlah Haleluya!
sekarang dan kekal terus!
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Pujilah Tuhan, Hai Jiwaku"** (dalam bahasa Inggris berjudul **"I'll Praise My Maker While I’ve Breath"**) adalah salah satu karya pujian paling klasik yang didasarkan pada **Mazmur 146**.
Untuk memahami kisah di baliknya, kita harus melihat sosok penulisnya, **Isaac Watts**, yang dikenal sebagai "Bapak Musik Gereja Inggris."
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang lagu ini:
### 1. Sosok Penulis: Isaac Watts (1674–1748)
Isaac Watts hidup pada masa di mana ibadah gereja di Inggris sangat kaku. Saat itu, jemaat hanya diizinkan menyanyikan Mazmur secara harfiah (terjemahan langsung dari Alkitab) dengan irama yang membosankan dan monoton.
Watts merasa frustrasi. Ia percaya bahwa ibadah harus menjadi ekspresi sukacita yang segar dan relevan bagi kehidupan sehari-hari orang Kristen. Ia pun mulai menulis syair-syair yang "mengkristenkan" Mazmur, sehingga Mazmur tidak hanya dilihat sebagai sejarah Israel, tetapi sebagai pujian yang berpusat pada karya penebusan Kristus.
### 2. Inspirasi: Mazmur 146
Lagu ini adalah parafrase dari **Mazmur 146:1-2**:
> *"Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku mau memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada!"*
Watts mengambil inti dari ayat ini dan mengembangkannya menjadi pengakuan iman yang mendalam. Fokus utamanya bukan sekadar memuji Tuhan saat senang, tetapi komitmen untuk tetap memuji-Nya di tengah keterbatasan manusiawi.
### 3. Makna di Balik Syairnya
Syair lagu ini sangat kontras dan realistis, yang menjadi ciri khas penulisan Watts:
* **Kebergantungan pada Tuhan:** Dalam bait-baitnya, Watts menekankan bahwa manusia (bahkan raja atau orang berkuasa) hanyalah debu. Ketika napas mereka hilang, semua rencana mereka musnah.
* **Kesetiaan Tuhan:** Sebaliknya, ia menyoroti bahwa Tuhan adalah Pencipta yang setia, yang membela orang tertindas, memberi makan yang lapar, dan memerdekakan orang tawanan.
* **Komitmen Seumur Hidup:** Judul asli *"I'll Praise My Maker While I've Breath"* mencerminkan tekad seseorang yang menyadari bahwa hidup ini singkat. Karena hidup ini singkat, maka setiap helaan napas yang tersisa harus digunakan untuk memuliakan Penciptanya.
### 4. Mengenai G. Davis
Anda menyebutkan nama **G. Davis**. Dalam catatan sejarah himne, sering terjadi kekeliruan atau penyebutan nama arranger/komposer musik. Isaac Watts adalah penulis syairnya. Nama "G. Davis" kemungkinan besar merujuk pada komposer musik atau penyunting buku himne di kemudian hari yang menata lagu ini ke dalam melodi yang populer digunakan di gereja-gereja (seringkali dinyanyikan dengan nada *Old 113th*).
### 5. Warisan Lagu Ini
Lagu ini menjadi sangat terkenal karena dampaknya bagi tokoh besar dunia, yaitu **John Wesley** (pendiri Metodis).
Ada sebuah catatan sejarah yang sangat mengharukan tentang lagu ini. Ketika John Wesley sedang terbaring di ranjang kematiannya pada tahun 1791, di usia 87 tahun, ia berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Meskipun ia sangat lemah dan nyaris tidak bisa bicara, ia menyanyikan bait dari lagu ini dengan suara yang gemetar:
> *"I'll praise my Maker while I've breath;*
> *And when my voice is lost in death,*
> *Praise shall employ my nobler powers."*
*(Aku akan memuji Penciptaku selagi aku bernapas; dan ketika suaraku hilang dalam kematian, pujian akan terus menggunakan kemampuanku yang lebih mulia.)*
Bagi banyak orang, lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan **"lagu perpisahan"** yang menjadi pengingat bahwa tujuan utama hidup manusia—baik saat sehat, sakit, maupun di ambang kematian—adalah memuliakan Tuhan.
### Kesimpulan
Lagu "Pujilah Tuhan, Hai Jiwaku" adalah sebuah pernyataan iman bahwa meskipun dunia ini fana, kasih setia Tuhan adalah kekal. Isaac Watts mengubah Mazmur 146 dari sekadar teks kuno menjadi sebuah komitmen hidup yang sangat pribadi, yang hingga hari ini masih terus dinyanyikan sebagai pengakuan akan kedaulatan Tuhan atas hidup dan mati kita.
Untuk memahami kisah di baliknya, kita harus melihat sosok penulisnya, **Isaac Watts**, yang dikenal sebagai "Bapak Musik Gereja Inggris."
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang lagu ini:
### 1. Sosok Penulis: Isaac Watts (1674–1748)
Isaac Watts hidup pada masa di mana ibadah gereja di Inggris sangat kaku. Saat itu, jemaat hanya diizinkan menyanyikan Mazmur secara harfiah (terjemahan langsung dari Alkitab) dengan irama yang membosankan dan monoton.
Watts merasa frustrasi. Ia percaya bahwa ibadah harus menjadi ekspresi sukacita yang segar dan relevan bagi kehidupan sehari-hari orang Kristen. Ia pun mulai menulis syair-syair yang "mengkristenkan" Mazmur, sehingga Mazmur tidak hanya dilihat sebagai sejarah Israel, tetapi sebagai pujian yang berpusat pada karya penebusan Kristus.
### 2. Inspirasi: Mazmur 146
Lagu ini adalah parafrase dari **Mazmur 146:1-2**:
> *"Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku mau memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada!"*
Watts mengambil inti dari ayat ini dan mengembangkannya menjadi pengakuan iman yang mendalam. Fokus utamanya bukan sekadar memuji Tuhan saat senang, tetapi komitmen untuk tetap memuji-Nya di tengah keterbatasan manusiawi.
### 3. Makna di Balik Syairnya
Syair lagu ini sangat kontras dan realistis, yang menjadi ciri khas penulisan Watts:
* **Kebergantungan pada Tuhan:** Dalam bait-baitnya, Watts menekankan bahwa manusia (bahkan raja atau orang berkuasa) hanyalah debu. Ketika napas mereka hilang, semua rencana mereka musnah.
* **Kesetiaan Tuhan:** Sebaliknya, ia menyoroti bahwa Tuhan adalah Pencipta yang setia, yang membela orang tertindas, memberi makan yang lapar, dan memerdekakan orang tawanan.
* **Komitmen Seumur Hidup:** Judul asli *"I'll Praise My Maker While I've Breath"* mencerminkan tekad seseorang yang menyadari bahwa hidup ini singkat. Karena hidup ini singkat, maka setiap helaan napas yang tersisa harus digunakan untuk memuliakan Penciptanya.
### 4. Mengenai G. Davis
Anda menyebutkan nama **G. Davis**. Dalam catatan sejarah himne, sering terjadi kekeliruan atau penyebutan nama arranger/komposer musik. Isaac Watts adalah penulis syairnya. Nama "G. Davis" kemungkinan besar merujuk pada komposer musik atau penyunting buku himne di kemudian hari yang menata lagu ini ke dalam melodi yang populer digunakan di gereja-gereja (seringkali dinyanyikan dengan nada *Old 113th*).
### 5. Warisan Lagu Ini
Lagu ini menjadi sangat terkenal karena dampaknya bagi tokoh besar dunia, yaitu **John Wesley** (pendiri Metodis).
Ada sebuah catatan sejarah yang sangat mengharukan tentang lagu ini. Ketika John Wesley sedang terbaring di ranjang kematiannya pada tahun 1791, di usia 87 tahun, ia berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Meskipun ia sangat lemah dan nyaris tidak bisa bicara, ia menyanyikan bait dari lagu ini dengan suara yang gemetar:
> *"I'll praise my Maker while I've breath;*
> *And when my voice is lost in death,*
> *Praise shall employ my nobler powers."*
*(Aku akan memuji Penciptaku selagi aku bernapas; dan ketika suaraku hilang dalam kematian, pujian akan terus menggunakan kemampuanku yang lebih mulia.)*
Bagi banyak orang, lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan **"lagu perpisahan"** yang menjadi pengingat bahwa tujuan utama hidup manusia—baik saat sehat, sakit, maupun di ambang kematian—adalah memuliakan Tuhan.
### Kesimpulan
Lagu "Pujilah Tuhan, Hai Jiwaku" adalah sebuah pernyataan iman bahwa meskipun dunia ini fana, kasih setia Tuhan adalah kekal. Isaac Watts mengubah Mazmur 146 dari sekadar teks kuno menjadi sebuah komitmen hidup yang sangat pribadi, yang hingga hari ini masih terus dinyanyikan sebagai pengakuan akan kedaulatan Tuhan atas hidup dan mati kita.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Tema :
Pernyataan Keyakinan Iman
117
Ada yang Tanya
118
Agar Semua Orang Percaya
119
Ya, Tuhan Allah
120
Allah Bapa, Kami Puji Engkau
121
Andaikan KasihMu Tidak Merangkulku
122
Dalam Nama Yesus Kita Bertelut
123
Dengan Yesus di Dalam P'rahu
124
Di Saat Ini Kau Perlu Tuhan
125
Dia Sanggup
126
Hanyalah Yesus Juruselamat
127
Jadilah, Tuhan, KehendakMu
128
Kasih Tuhan Yesus Tiada Bertepi
129
Kau Perkasa, 'Ku Lemah
130
Kita 'Kan Menang
131
'Ku Yakin Tuhan Tuntun Langkahku
132
Langit Menceritakan
133
Lautan Rahmat Abadi
134
Menakjubkan Benar
135
O Sungai Rahmat
136
Pada Bintang Nyata KaryaNya
138
SetiaMu, Tuhanku, Tiada Bertara
139
Tuhan, Ya Allahku
140
Tuhanku Berjanji
141
Tuhanku Besar
142
Untuk Apa Susah Hati
143
Yesus Tetap Mengasihi Aku
144
Dia Kristus