KK
Tuhan Sambut Jiwaku
When I Kneel To Pray Comer2
540
Nomor
Kode
KK 540
Buku
Kidung Keesaan
Tematik
Hidup Dalam Tuntunan Tuhan
Metronom
0
Pencipta Lagu
George Thomas Speer
Pencipta Syair
Herbert Emery Buffum
Penerjemah
Kristianto Pudjo Nugroho
Cross Ref.
NKB 140
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
1
Tuhan sambut jiwaku, bila ëku berdoa;
Dia dan ëku bertemu, bila ëku berdoa.
Bila ëku berdoa, bila ëku berdoa,
Tuhan sambut jiwaku, bila ëku berdoa.
2
Tiada bimbang dan gentar, bila ëku berdoa;
hatiku pun bergemar, bila ëku berdoa.
Bila ëku berdoa, bila ëku berdoa,
Tuhan sambut jiwaku, bila ëku berdoa.
3
Yesus tahu dan mengerti, bila ëku berdoa;
pengampunan diberi, bila ëku berdoa.
Bila ëku berdoa, bila ëku berdoa,
Tuhan sambut jiwaku, bila ëku berdoa.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
3 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"When I Kneel to Pray"** (yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Tuhan Sambut Jiwaku"* atau *"Saat Aku Berlutut Berdoa"*) adalah sebuah lagu gospel klasik yang memiliki kedalaman spiritual yang luar biasa.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat dua tokoh di baliknya: **Herbert Emery Buffum** (penulis lirik/melodi asli) dan **George Thomas Speer** (yang mempopulerkannya melalui *Speer Family*).
### 1. Latar Belakang Penulis: Herbert Emery Buffum (1879–1939)
Herbert Buffum adalah seorang pendeta, penyair, dan penulis lagu gospel dari awal abad ke-20. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana namun memiliki kehidupan doa yang intens.
Kisah di balik lagu ini tidak lahir dari sebuah peristiwa dramatis yang spektakuler, melainkan dari **pengalaman harian Buffum dalam "ruang rahasia" doa.** Pada masa itu, Buffum sering bergumul dengan tantangan pelayanan dan kelemahan fisik. Ia percaya bahwa kekuatan bagi seorang Kristen tidak datang dari mimbar atau pujian manusia, melainkan dari momen-momen sunyi saat seseorang berlutut di hadapan Tuhan.
Lirik lagu ini mencerminkan teologi Buffum bahwa doa bukan sekadar meminta sesuatu, melainkan sebuah bentuk **penyerahan total**. Frasa "When I kneel to pray" (Saat aku berlutut untuk berdoa) adalah pernyataan kerendahan hati yang absolut.
### 2. Peran Keluarga Speer (George Thomas Speer)
Meskipun lagu ini ditulis oleh Buffum, popularitas global lagu ini tidak lepas dari peran keluarga **Speer (The Speer Family)**, kelompok musik gospel legendaris dari Amerika Serikat yang dipimpin oleh George Thomas Speer.
George Thomas Speer dikenal sebagai sosok yang sangat emosional dan religius. Bagi George Speer, lagu ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan **"doa pribadinya."** Setiap kali keluarga Speer membawakan lagu ini dalam konser-konser mereka di gereja-gereja, George sering kali tidak menyanyikannya dengan teknik vokal yang sempurna, melainkan dengan air mata yang menetes.
### 3. Makna Mendalam di Balik Liriknya
Jika kita membedah liriknya, lagu ini menceritakan tentang tiga hal utama yang menjadi alasan mengapa lagu ini begitu menyentuh jiwa banyak orang selama puluhan tahun:
* **Keintiman:** Lagu ini menggambarkan bahwa saat seseorang berlutut, dunia seakan menghilang. Tidak ada lagi jarak antara jiwa manusia dan hadirat Tuhan.
* **Keamanan:** Dalam bait-baitnya, lagu ini sering menekankan bahwa ketika dunia luar terasa kacau atau ketika seseorang merasa tidak berdaya, tempat teraman di dunia bukanlah rumah atau pelukan sesama manusia, melainkan di bawah kaki Tuhan (berlutut).
* **Antisipasi:** Judul atau tema "Sambut Jiwaku" (dalam versi Indonesia) merujuk pada harapan akan perjumpaan akhir. Doa bukan hanya untuk hari ini, tetapi latihan bagi jiwa untuk siap "pulang" ke rumah Bapa.
### 4. Mengapa Lagu ini Tetap Relevan?
Lagu ini bertahan melintasi generasi karena kejujurannya. Ia tidak menawarkan solusi instan atas masalah duniawi, melainkan menawarkan **"kekuatan untuk bertahan"** melalui doa.
Dalam konteks pelayanan, lagu ini sering digunakan untuk menutup ibadah atau saat perjamuan kudus. Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja karena nadanya yang sendu (melankolis) namun memiliki kekuatan *crescendo* yang membawa pendengarnya seolah benar-benar sedang berkomunikasi dengan Tuhan.
**Kesimpulannya:**
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **"kekuatan dalam kelemahan."** Baik Buffum (sang penulis) maupun Speer (sang pembawa pesan) ingin menyampaikan bahwa ketika kita tidak lagi mampu berdiri tegak menghadapi badai kehidupan, saat itulah kita harus berlutut. Lagu ini adalah kesaksian bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan jiwa yang datang dengan kerendahan hati.
Bagi banyak orang, menyanyikan lagu ini bukan hanya sekadar bernyanyi, melainkan sebuah tindakan untuk mengundang Tuhan hadir dan "menyambut" pergumulan jiwa mereka secara pribadi.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat dua tokoh di baliknya: **Herbert Emery Buffum** (penulis lirik/melodi asli) dan **George Thomas Speer** (yang mempopulerkannya melalui *Speer Family*).
### 1. Latar Belakang Penulis: Herbert Emery Buffum (1879–1939)
Herbert Buffum adalah seorang pendeta, penyair, dan penulis lagu gospel dari awal abad ke-20. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana namun memiliki kehidupan doa yang intens.
Kisah di balik lagu ini tidak lahir dari sebuah peristiwa dramatis yang spektakuler, melainkan dari **pengalaman harian Buffum dalam "ruang rahasia" doa.** Pada masa itu, Buffum sering bergumul dengan tantangan pelayanan dan kelemahan fisik. Ia percaya bahwa kekuatan bagi seorang Kristen tidak datang dari mimbar atau pujian manusia, melainkan dari momen-momen sunyi saat seseorang berlutut di hadapan Tuhan.
Lirik lagu ini mencerminkan teologi Buffum bahwa doa bukan sekadar meminta sesuatu, melainkan sebuah bentuk **penyerahan total**. Frasa "When I kneel to pray" (Saat aku berlutut untuk berdoa) adalah pernyataan kerendahan hati yang absolut.
### 2. Peran Keluarga Speer (George Thomas Speer)
Meskipun lagu ini ditulis oleh Buffum, popularitas global lagu ini tidak lepas dari peran keluarga **Speer (The Speer Family)**, kelompok musik gospel legendaris dari Amerika Serikat yang dipimpin oleh George Thomas Speer.
George Thomas Speer dikenal sebagai sosok yang sangat emosional dan religius. Bagi George Speer, lagu ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan **"doa pribadinya."** Setiap kali keluarga Speer membawakan lagu ini dalam konser-konser mereka di gereja-gereja, George sering kali tidak menyanyikannya dengan teknik vokal yang sempurna, melainkan dengan air mata yang menetes.
### 3. Makna Mendalam di Balik Liriknya
Jika kita membedah liriknya, lagu ini menceritakan tentang tiga hal utama yang menjadi alasan mengapa lagu ini begitu menyentuh jiwa banyak orang selama puluhan tahun:
* **Keintiman:** Lagu ini menggambarkan bahwa saat seseorang berlutut, dunia seakan menghilang. Tidak ada lagi jarak antara jiwa manusia dan hadirat Tuhan.
* **Keamanan:** Dalam bait-baitnya, lagu ini sering menekankan bahwa ketika dunia luar terasa kacau atau ketika seseorang merasa tidak berdaya, tempat teraman di dunia bukanlah rumah atau pelukan sesama manusia, melainkan di bawah kaki Tuhan (berlutut).
* **Antisipasi:** Judul atau tema "Sambut Jiwaku" (dalam versi Indonesia) merujuk pada harapan akan perjumpaan akhir. Doa bukan hanya untuk hari ini, tetapi latihan bagi jiwa untuk siap "pulang" ke rumah Bapa.
### 4. Mengapa Lagu ini Tetap Relevan?
Lagu ini bertahan melintasi generasi karena kejujurannya. Ia tidak menawarkan solusi instan atas masalah duniawi, melainkan menawarkan **"kekuatan untuk bertahan"** melalui doa.
Dalam konteks pelayanan, lagu ini sering digunakan untuk menutup ibadah atau saat perjamuan kudus. Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja karena nadanya yang sendu (melankolis) namun memiliki kekuatan *crescendo* yang membawa pendengarnya seolah benar-benar sedang berkomunikasi dengan Tuhan.
**Kesimpulannya:**
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **"kekuatan dalam kelemahan."** Baik Buffum (sang penulis) maupun Speer (sang pembawa pesan) ingin menyampaikan bahwa ketika kita tidak lagi mampu berdiri tegak menghadapi badai kehidupan, saat itulah kita harus berlutut. Lagu ini adalah kesaksian bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan jiwa yang datang dengan kerendahan hati.
Bagi banyak orang, menyanyikan lagu ini bukan hanya sekadar bernyanyi, melainkan sebuah tindakan untuk mengundang Tuhan hadir dan "menyambut" pergumulan jiwa mereka secara pribadi.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
NKB 140
140
Bila 'Ku Berdoa
Tema :
Hidup Dalam Tuntunan Tuhan
503
Bersama Yesus 'Ku Tetap Teguh
504
Adalah Seorang Menaburkan Benih
505
Bagai Kapal Yang Berlayar
506
Baht'ra Yang Dipandu Yesus
507
Berkilat Halilintar
508
Bintang Pandanganku
509
Di Dalam Suka
510
Di Jalanku Diiringi
511
Gembala Baik Bersuling Nan Merdu
512
Gembalaku Allah
513
Gembalaku Tuhan!
514
Andaikan Kasihmu Tidak Merangkulku
515
Hai, Jangan Sendirian
516
Hanya Tuhan Sumber Hikmat
517
Hujan Berkat 'Kan Tercurah
518
Janganlah Takut
519
Kasih Tuhanku
520
'Kau Perkasa, 'Ku Lemah
521
Kaulah, Ya Tuhan, Surya Hidupku
522
Kidung Yang Merdu Di Hatiku
523
'Ku Ingin Selalu Dekat Padamu
524
Kudaki Jalan Mulia
525
Kuperlukan Jurus'lamat
526
Makin Dekat, Tuhan
527
Seindah Siang Disinari Terang
528
Sejahtera Tuhan
529
Seperti Wanita Di Pinggir Sumur
530
Serahkan Pada Tuhan
531
Serahkanlah Segala Kuatirmu
532
Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok
533
Tenanglah Kini Hatiku
534
Tersembunyi Ujung Jalan
535
Tiap Langkahku
536
Tolong Aku, Tuhan
537
Tenteramlah, Hai Jiwaku
538
Tuhan, 'Kau Gembala Kami
539
Tuhan, Pimpin Anakmu
541
Tuhan Yesus Sahabatku
542
Tuntun Aku, Tuhan Allah
543
Ya Cah'ya Kasih, Jalanku Kelam
544
Ya Tuhan, Bimbing Aku
545
Yesus Kristus Kehidupan Dunia
546
Yesus Sayang Padaku