KK
Baht'ra Yang Dipandu Yesus
T Scheepke Onder Jezus' Hoede
506
Nomor
Do=D
Nada Dasar
Kode
KK 506
Buku
Kidung Keesaan
Tematik
Hidup Dalam Tuntunan Tuhan
Nada Dasar
Do=D
Ketukan
6/8 ketuk
Metronom
50
Jumlah Bait
3 bait
Style
FinalWaltz
Pencipta Lagu
Buku Nyanyian Johan De Heer (1926)
Pencipta Syair
Carel Steven Adama Van Scheltema (1815)
Penerjemah
Hermanus Arie Pandopo (H.A. Van Dop) (1984)
Cross Ref.
KJ 418
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
1
Bahtra yang dipandu Yesus, panji salib tandanya,
itu bahtra keslamatan bagi orang yang resah.
Meskipun badai menyesah dan ombak menderu,
Dipandu Tuhan bahtraNya ke pantai yang teduh.
2
Hai pedosa, mari lihat panji salib terbentang!
Ikut bahtra Juruslamat, agar jangan tenggelam!
Meskipun badai menyesah dan ombak menderu,
Dipandu Tuhan bahtraNya ke pantai yang teduh.
3
Matahari tampak lagi, badai topan pun reda;
bunyi riak mengiringi lagu doa yang lega.
Bersyukurlah dan angkatlah nyanyian yang merdu:
Dipandu Tuhan bahtraNya ke pantai yang teduh!
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
3 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Baht'ra yang Dipandu Yesus"** (dalam bahasa Belanda berjudul ***'t Scheepke onder Jezus' hoede***) adalah salah satu lagu rohani klasik yang sangat dicintai, terutama di kalangan gereja-gereja yang menggunakan buku nyanyian *Johan De Heer*.
Berikut adalah kisah di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Carel Steven Adama van Scheltema
Lirik lagu ini ditulis oleh **Carel Steven Adama van Scheltema** (1877–1924). Ia adalah seorang penyair Belanda yang cukup ternama pada zamannya. Hidupnya cukup tragis dan penuh pergolakan; ia dikenal sebagai seorang sosialis yang idealis, namun di balik pandangan politiknya, ia memiliki kedalaman spiritual yang luar biasa.
Adama van Scheltema menulis puisi ini bukan sebagai lagu liturgi formal, melainkan sebagai ekspresi kerohanian yang personal. Ia menggambarkan kehidupan manusia sebagai sebuah **"perahu kecil"** (*’t scheepke*) yang sedang mengarungi lautan dunia yang luas dan berbahaya.
### 2. Makna di Balik Metafora Perahu
Metafora "perahu" dalam lagu ini sangat mendalam. Pada awal abad ke-20, perjalanan laut adalah simbol dari ketidakpastian hidup. Penulis ingin menyampaikan pesan bahwa:
* **Perahu:** Melambangkan jiwa manusia atau perjalanan hidup kita.
* **Lautan:** Melambangkan dunia yang penuh dengan badai, godaan, dan tantangan.
* **Yesus sebagai Nakhoda:** Pesan sentralnya adalah bahwa sekuat apa pun kita mendayung, kita tidak akan selamat jika tidak membiarkan Yesus mengambil alih kemudi.
Liriknya menegaskan bahwa perahu tersebut akan tetap aman selama "nakhoda" (Yesus) ada di dalamnya. Meskipun badai datang (dalam hidup, ini bisa berarti penyakit, kesedihan, atau pergumulan), selama Yesus memegang kendali, perahu itu tidak akan karam.
### 3. Peran Johan de Heer
Lagu ini menjadi populer secara luas karena dimasukkan ke dalam buku nyanyian yang disusun oleh **Johan de Heer** (1866–1938). De Heer adalah seorang penginjil, musisi, dan penerbit musik Kristen terkemuka di Belanda yang sangat berpengaruh dalam menyebarkan lagu-lagu rohani yang menyentuh hati rakyat kecil.
Johan de Heer melihat bahwa puisi Adama van Scheltema memiliki kekuatan "penghiburan" bagi jemaat. Ia kemudian mempopulerkan lagu ini dengan irama yang tenang dan khidmat. Di tangan Johan de Heer, lagu ini menjadi lagu wajib dalam berbagai kebaktian rumah tangga dan pertemuan doa di Belanda, dan kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
### 4. Relevansi dalam Konteks Sejarah
Lagu ini lahir di era di mana Eropa sedang menghadapi ketidakpastian besar menjelang dan selama Perang Dunia I. Pesan bahwa "Yesus memandu perahu kita" memberikan rasa damai bagi banyak orang yang merasa hidup mereka sedang terombang-ambing oleh situasi dunia yang kacau.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Menyentuh?
Banyak orang Kristen di Indonesia mengenal lagu ini melalui terjemahan "Baht'ra yang Dipandu Yesus". Kekuatan lagu ini terletak pada **kerendahan hati**. Lagu ini tidak menjanjikan bahwa laut akan selalu tenang, tetapi menjanjikan bahwa **nakhoda kita adalah pribadi yang berkuasa meredakan badai**.
**Lirik inti (dalam terjemahan bebas):**
> *"Baht'ra yang dipandu Yesus, takkan karam oleh badai..."*
Kalimat ini menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa keselamatan bukan bergantung pada kekuatan fisik atau kecerdasan kita dalam mendayung, melainkan pada penyerahan diri total kepada Yesus sebagai "nakhoda" hidup kita.
### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah kisah tentang **penyerahan diri**. Seorang penyair yang intelektual namun gelisah (Adama van Scheltema) dan seorang penginjil yang praktis (Johan de Heer) bertemu dalam satu pesan iman: bahwa hidup manusia hanyalah perahu kecil yang akan menemukan pelabuhannya jika Yesus yang memegang kemudinya. Hingga hari ini, lagu ini tetap dinyanyikan sebagai simbol ketenangan di tengah badai kehidupan.
Berikut adalah kisah di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Carel Steven Adama van Scheltema
Lirik lagu ini ditulis oleh **Carel Steven Adama van Scheltema** (1877–1924). Ia adalah seorang penyair Belanda yang cukup ternama pada zamannya. Hidupnya cukup tragis dan penuh pergolakan; ia dikenal sebagai seorang sosialis yang idealis, namun di balik pandangan politiknya, ia memiliki kedalaman spiritual yang luar biasa.
Adama van Scheltema menulis puisi ini bukan sebagai lagu liturgi formal, melainkan sebagai ekspresi kerohanian yang personal. Ia menggambarkan kehidupan manusia sebagai sebuah **"perahu kecil"** (*’t scheepke*) yang sedang mengarungi lautan dunia yang luas dan berbahaya.
### 2. Makna di Balik Metafora Perahu
Metafora "perahu" dalam lagu ini sangat mendalam. Pada awal abad ke-20, perjalanan laut adalah simbol dari ketidakpastian hidup. Penulis ingin menyampaikan pesan bahwa:
* **Perahu:** Melambangkan jiwa manusia atau perjalanan hidup kita.
* **Lautan:** Melambangkan dunia yang penuh dengan badai, godaan, dan tantangan.
* **Yesus sebagai Nakhoda:** Pesan sentralnya adalah bahwa sekuat apa pun kita mendayung, kita tidak akan selamat jika tidak membiarkan Yesus mengambil alih kemudi.
Liriknya menegaskan bahwa perahu tersebut akan tetap aman selama "nakhoda" (Yesus) ada di dalamnya. Meskipun badai datang (dalam hidup, ini bisa berarti penyakit, kesedihan, atau pergumulan), selama Yesus memegang kendali, perahu itu tidak akan karam.
### 3. Peran Johan de Heer
Lagu ini menjadi populer secara luas karena dimasukkan ke dalam buku nyanyian yang disusun oleh **Johan de Heer** (1866–1938). De Heer adalah seorang penginjil, musisi, dan penerbit musik Kristen terkemuka di Belanda yang sangat berpengaruh dalam menyebarkan lagu-lagu rohani yang menyentuh hati rakyat kecil.
Johan de Heer melihat bahwa puisi Adama van Scheltema memiliki kekuatan "penghiburan" bagi jemaat. Ia kemudian mempopulerkan lagu ini dengan irama yang tenang dan khidmat. Di tangan Johan de Heer, lagu ini menjadi lagu wajib dalam berbagai kebaktian rumah tangga dan pertemuan doa di Belanda, dan kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
### 4. Relevansi dalam Konteks Sejarah
Lagu ini lahir di era di mana Eropa sedang menghadapi ketidakpastian besar menjelang dan selama Perang Dunia I. Pesan bahwa "Yesus memandu perahu kita" memberikan rasa damai bagi banyak orang yang merasa hidup mereka sedang terombang-ambing oleh situasi dunia yang kacau.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Menyentuh?
Banyak orang Kristen di Indonesia mengenal lagu ini melalui terjemahan "Baht'ra yang Dipandu Yesus". Kekuatan lagu ini terletak pada **kerendahan hati**. Lagu ini tidak menjanjikan bahwa laut akan selalu tenang, tetapi menjanjikan bahwa **nakhoda kita adalah pribadi yang berkuasa meredakan badai**.
**Lirik inti (dalam terjemahan bebas):**
> *"Baht'ra yang dipandu Yesus, takkan karam oleh badai..."*
Kalimat ini menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa keselamatan bukan bergantung pada kekuatan fisik atau kecerdasan kita dalam mendayung, melainkan pada penyerahan diri total kepada Yesus sebagai "nakhoda" hidup kita.
### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah kisah tentang **penyerahan diri**. Seorang penyair yang intelektual namun gelisah (Adama van Scheltema) dan seorang penginjil yang praktis (Johan de Heer) bertemu dalam satu pesan iman: bahwa hidup manusia hanyalah perahu kecil yang akan menemukan pelabuhannya jika Yesus yang memegang kemudinya. Hingga hari ini, lagu ini tetap dinyanyikan sebagai simbol ketenangan di tengah badai kehidupan.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
Tema :
Hidup Dalam Tuntunan Tuhan
503
Bersama Yesus 'Ku Tetap Teguh
504
Adalah Seorang Menaburkan Benih
505
Bagai Kapal Yang Berlayar
507
Berkilat Halilintar
508
Bintang Pandanganku
509
Di Dalam Suka
510
Di Jalanku Diiringi
511
Gembala Baik Bersuling Nan Merdu
512
Gembalaku Allah
513
Gembalaku Tuhan!
514
Andaikan Kasihmu Tidak Merangkulku
515
Hai, Jangan Sendirian
516
Hanya Tuhan Sumber Hikmat
517
Hujan Berkat 'Kan Tercurah
518
Janganlah Takut
519
Kasih Tuhanku
520
'Kau Perkasa, 'Ku Lemah
521
Kaulah, Ya Tuhan, Surya Hidupku
522
Kidung Yang Merdu Di Hatiku
523
'Ku Ingin Selalu Dekat Padamu
524
Kudaki Jalan Mulia
525
Kuperlukan Jurus'lamat
526
Makin Dekat, Tuhan
527
Seindah Siang Disinari Terang
528
Sejahtera Tuhan
529
Seperti Wanita Di Pinggir Sumur
530
Serahkan Pada Tuhan
531
Serahkanlah Segala Kuatirmu
532
Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok
533
Tenanglah Kini Hatiku
534
Tersembunyi Ujung Jalan
535
Tiap Langkahku
536
Tolong Aku, Tuhan
537
Tenteramlah, Hai Jiwaku
538
Tuhan, 'Kau Gembala Kami
539
Tuhan, Pimpin Anakmu
540
Tuhan Sambut Jiwaku
541
Tuhan Yesus Sahabatku
542
Tuntun Aku, Tuhan Allah
543
Ya Cah'ya Kasih, Jalanku Kelam
544
Ya Tuhan, Bimbing Aku
545
Yesus Kristus Kehidupan Dunia
546
Yesus Sayang Padaku