NR
Kepada Tuhan jua
130
Nomor
Kode
NR 130
Buku
Nyanyian Rohani
Tematik
Kejadian Dunia Dan Pemeliharaan Tuhan
Metronom
0
Cross Ref.
KPJ 133, KPKA 79
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
10 bait
1
Kepada Tuhan jua serahkan jalanmu,
kuatirmu semua dan pokok mengeluh.
Pengurus jalan zaman dan arah dunia
bri juga jalan aman kepada anak-Nya.
2
Bersandar pada Tuhan, berdoa beriman;
tiada pengeluhan membri pertolongan.
Tentu pernah kaulihat ajaib mujizat-Nya,
yang menyatakan hikmat dengan anugerah.
3
Nasibku, Allah Bapa, dipimpin kasih-Mu.
Ku tidak tahu apa yang jadi untungku.
Dan maksud yang sedia tentu Kausampaikan;
tak mungkin sia-sia yang tlah Kaurancangkan.
4
Meski kuasa jahat semua menempuh,
neraka tidak kuat melawan maksud-Mu.
Kemuliaan Tuhan sekali nanti trang;
tentulah kesungguhan dan kasih-Mu menang.
5
Kepada-Ny serahkan beban pengurusan.
oleh-Nya dikerjakan, engkau keheranan.
Yang kini menyebabkan ngkau mengeluh-ngesah,
kelak diselesaikan oleh kuasa-Nya.
6
Buangkanlah gelisah, cemasmu dan keluh;
tentulah ngkau tak bisa mengurus jalanmu.
Engkaukah dipertuan dan tahu semuanya?
Yang Mahakuasa Tuhan, yang hikmat-Nya baka.
7
Tentulah kadang-kadang tak tampak tangan-Nya
dan rupanya teradang terang anugerah,
seolah-olah Tuhan melupakan engkau,
tak mendengar seruan dan kasihan-Nya jauh.
8
Imanmu harus tahan di tengah malam pun
dan sampai kesudahan ngkau harus bertekun.
Dibri-Nya ngkau melihat: tak usah ngkau cemas,
beban berat diangkat dan engkau terlepas.
9
Jikalau ngkau setia dengan iman teguh,
pahalamu sedia di tangan Tuhanmu.
Sesudah perjuangan dikaruniakan-Nya
mahkota kemenangan di rumah-Nya baka.
10
Dengarkanlah seruan dan bri kekuatan,
sertai kami, Tuhan, di saat kematian,
sehingga maut menjadi keuntungan baka,
gapura trang abadi terbuka pintunya.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
10 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Pracaya Lan Pasrah"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Percaya dan Berserahlah"*) adalah gubahan dari himne Jerman yang sangat terkenal, **"Befiehl du deine Wege"**.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat dua sosok utama: **Paul Gerhardt** (penulis syair) dan **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (komponis melodi yang sering dikaitkan dengan tradisi lagu ini).
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Latar Belakang Penulis Syair: Paul Gerhardt (1607β1676)
Paul Gerhardt adalah seorang pendeta Lutheran di Jerman yang hidup di masa yang sangat kelam, yaitu **Perang Tiga Puluh Tahun** (1618β1648). Masa ini adalah salah satu periode paling destruktif dalam sejarah Eropa, yang menyebabkan kelaparan, wabah penyakit, dan kehancuran moral.
**Kisah di balik syairnya:**
Pada tahun 1653, Gerhardt menulis himne ini. Konon, ia menulisnya dalam masa kesedihan yang mendalam. Ia kehilangan banyak anggota keluarganya, dipecat dari pekerjaannya karena alasan teologis, dan hidup dalam pengasingan.
Syair "Befiehl du deine Wege" (Serahkanlah jalan hidupmu) didasarkan pada **Mazmur 37:5**: *"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak."*
Gerhardt ingin menyampaikan pesan bahwa di tengah badai kehidupan yang tampak tidak terkendali, Tuhan tetap memegang kendali. Stanza pertama lagu ini secara harfiah berbunyi: *"Serahkanlah jalan hidupmu dan segala yang membebanimu kepada kesetiaan kasih Allah yang bertahta di surga."*
### 2. Musik dan Johannes Gijsbertus Bastiaans
Melodi yang paling identik dengan syair Gerhardt ini dikenal dengan nama *Herzlich tut mich verlangen* (sering dikaitkan dengan Hans Leo Hassler). Namun, peran **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (1812β1875), seorang organis dan komponis asal Belanda, sangat krusial dalam mempopulerkan dan mengaransemen lagu ini dalam tradisi Protestan di wilayah Eropa, termasuk pengaruhnya hingga ke gereja-gereja di Indonesia.
Bastiaans adalah tokoh musik gereja yang sangat dihormati. Ia banyak melakukan harmonisasi ulang atas himne-himne klasik (seperti karya Bach dan Gerhardt) agar dapat dinyanyikan dengan lebih khidmat di gereja-gereja reformasi. Melalui aransemennya, lagu ini mendapatkan karakter "pasrah" yang mendalamβnada yang tenang, lambat, dan kontemplatif.
### 3. Makna dalam Budaya Indonesia: "Pracaya Lan Pasrah"
Dalam bahasa Jawa, lagu ini menjadi sangat ikonik. Kata *"Pracaya"* (Percaya) dan *"Pasrah"* (Berserah) menangkap esensi teologi Paul Gerhardt secara sempurna:
* **Pracaya (Percaya):** Bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik, meskipun mata manusia tidak bisa melihatnya.
* **Pasrah (Berserah):** Melepaskan kendali atas ego dan kekhawatiran diri sendiri ke dalam tangan Tuhan.
Bagi masyarakat Kristen di Jawa, lagu ini sering dinyanyikan saat masa-masa duka (seperti pemakaman) atau saat jemaat berada dalam titik terendah dalam hidup mereka. Musik yang dibuat oleh tokoh seperti Bastiaans memberikan ruang bagi jemaat untuk tidak hanya menyanyi, tetapi melakukan "kontemplasi" atau perenungan batin.
### Ringkasan Pesan Lagu
Kisah lagu ini adalah kisah tentang **kemenangan iman atas ketakutan**. Paul Gerhardt membuktikan bahwa meskipun seseorang kehilangan segalanyaβharta, keluarga, dan posisiβia tetap memiliki Allah yang tidak akan pernah meninggalkan ciptaan-Nya.
Lagu ini menjadi pengingat abadi bahwa:
1. **Dunia ini berubah,** tetapi Tuhan tidak.
2. **Kekhawatiran adalah beban yang sia-sia,** jika kita sudah menyerahkannya kepada Yang Maha Kuasa.
3. **Kesabaran dalam penderitaan** adalah bentuk tertinggi dari ketaatan seorang beriman.
Saat Anda mendengar atau menyanyikan "Pracaya Lan Pasrah", Anda sebenarnya sedang melantunkan doa seorang pria yang hidup di tengah reruntuhan perang 400 tahun lalu, yang memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan adalah nahkoda di tengah badai hidupnya.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat dua sosok utama: **Paul Gerhardt** (penulis syair) dan **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (komponis melodi yang sering dikaitkan dengan tradisi lagu ini).
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Latar Belakang Penulis Syair: Paul Gerhardt (1607β1676)
Paul Gerhardt adalah seorang pendeta Lutheran di Jerman yang hidup di masa yang sangat kelam, yaitu **Perang Tiga Puluh Tahun** (1618β1648). Masa ini adalah salah satu periode paling destruktif dalam sejarah Eropa, yang menyebabkan kelaparan, wabah penyakit, dan kehancuran moral.
**Kisah di balik syairnya:**
Pada tahun 1653, Gerhardt menulis himne ini. Konon, ia menulisnya dalam masa kesedihan yang mendalam. Ia kehilangan banyak anggota keluarganya, dipecat dari pekerjaannya karena alasan teologis, dan hidup dalam pengasingan.
Syair "Befiehl du deine Wege" (Serahkanlah jalan hidupmu) didasarkan pada **Mazmur 37:5**: *"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak."*
Gerhardt ingin menyampaikan pesan bahwa di tengah badai kehidupan yang tampak tidak terkendali, Tuhan tetap memegang kendali. Stanza pertama lagu ini secara harfiah berbunyi: *"Serahkanlah jalan hidupmu dan segala yang membebanimu kepada kesetiaan kasih Allah yang bertahta di surga."*
### 2. Musik dan Johannes Gijsbertus Bastiaans
Melodi yang paling identik dengan syair Gerhardt ini dikenal dengan nama *Herzlich tut mich verlangen* (sering dikaitkan dengan Hans Leo Hassler). Namun, peran **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (1812β1875), seorang organis dan komponis asal Belanda, sangat krusial dalam mempopulerkan dan mengaransemen lagu ini dalam tradisi Protestan di wilayah Eropa, termasuk pengaruhnya hingga ke gereja-gereja di Indonesia.
Bastiaans adalah tokoh musik gereja yang sangat dihormati. Ia banyak melakukan harmonisasi ulang atas himne-himne klasik (seperti karya Bach dan Gerhardt) agar dapat dinyanyikan dengan lebih khidmat di gereja-gereja reformasi. Melalui aransemennya, lagu ini mendapatkan karakter "pasrah" yang mendalamβnada yang tenang, lambat, dan kontemplatif.
### 3. Makna dalam Budaya Indonesia: "Pracaya Lan Pasrah"
Dalam bahasa Jawa, lagu ini menjadi sangat ikonik. Kata *"Pracaya"* (Percaya) dan *"Pasrah"* (Berserah) menangkap esensi teologi Paul Gerhardt secara sempurna:
* **Pracaya (Percaya):** Bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik, meskipun mata manusia tidak bisa melihatnya.
* **Pasrah (Berserah):** Melepaskan kendali atas ego dan kekhawatiran diri sendiri ke dalam tangan Tuhan.
Bagi masyarakat Kristen di Jawa, lagu ini sering dinyanyikan saat masa-masa duka (seperti pemakaman) atau saat jemaat berada dalam titik terendah dalam hidup mereka. Musik yang dibuat oleh tokoh seperti Bastiaans memberikan ruang bagi jemaat untuk tidak hanya menyanyi, tetapi melakukan "kontemplasi" atau perenungan batin.
### Ringkasan Pesan Lagu
Kisah lagu ini adalah kisah tentang **kemenangan iman atas ketakutan**. Paul Gerhardt membuktikan bahwa meskipun seseorang kehilangan segalanyaβharta, keluarga, dan posisiβia tetap memiliki Allah yang tidak akan pernah meninggalkan ciptaan-Nya.
Lagu ini menjadi pengingat abadi bahwa:
1. **Dunia ini berubah,** tetapi Tuhan tidak.
2. **Kekhawatiran adalah beban yang sia-sia,** jika kita sudah menyerahkannya kepada Yang Maha Kuasa.
3. **Kesabaran dalam penderitaan** adalah bentuk tertinggi dari ketaatan seorang beriman.
Saat Anda mendengar atau menyanyikan "Pracaya Lan Pasrah", Anda sebenarnya sedang melantunkan doa seorang pria yang hidup di tengah reruntuhan perang 400 tahun lalu, yang memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan adalah nahkoda di tengah badai hidupnya.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
114
Besarlah Khalik Dunia
115
Ya Khalik Dunia
116
Setia Hu, Tak Gagal Niat-Nya
117
Di Gunung dan di Lembah
118
Selalu Hu, Gembalaku
118
Selalu Hu, Gembalaku
119
Jemaat Memuji Tuhannya
120
Betapa Indah Bumi Ini
121
Selamat Tanah, yang dilindung Tuhan Hu
122
Tuhan yang Rumah-Mu Sorga Terang
123
Hai, Bertepuk Tangan dan Tari
124
Ya Allah Abad dan Zaman
125
Makin Tambah Murka Laut
126
Hatiku, Teduhkan Diri
127
Benar dan Baik Semuanya
128
Biarkan Tuhan Menyenggara
129
Karunia Baik Semua
131
Pimpin Aku, Tuhan Hua
132
Ya Tuhan, Murah-Mu Baka
133
Jiwa, Puji Raja Sorga
134
Tersembunyi Ujung Jalan
135
Ingat dalam Susah dan Bala