NR
Selalu Hu, Gembalaku
118
Nomor
Kode
NR 118A
Buku
Nyanyian Rohani
Tematik
Kejadian Dunia Dan Pemeliharaan Tuhan
Metronom
0
Cross Ref.
KK 371, KJ 285, KPKA 60
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
1
Selalu Hu, Gembalaku, bri hatiku senang
di padang hijau di tepi telaga air tenang.
2
Dibri-Nya jiwaku segar dan karna nama-Nya,
ditunjukkan-Nya jalanku yang lurus dan baka.
3
Tak usah takut hatiku di lembah maut gelap;
kudengar saja tongkat-Nya, penghiburan tetap.
4
Kaupanggil ke perjamuan; sedia mejaku;
kepalaku Kauurapi dan cawanku penuh.
5
Ku disertai rahmat-Nya seumur hidupku
dan tempat diamku kekal di rumah Tuhan Hu.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
5 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu "Tuhan Allah Gembalaku" (The Lord's My Shepherd) adalah salah satu lagu himne Kristen yang paling dicintai dan dikenal di seluruh dunia. Kisah di baliknya bukanlah sekadar cerita tunggal, melainkan perpaduan dari teks kuno yang penuh makna dan melodi yang indah dan menenangkan, masing-masing dengan sejarahnya sendiri yang menarik.
Mari kita selami detail kisah di balik lagu ini:
---
### Bagian 1: Teks – Mazmur 23 dan Adaptasi William Whittingham
Inti dari lagu "Tuhan Allah Gembalaku" berasal dari **Mazmur 23** dalam Alkitab Perjanjian Lama. Mazmur ini adalah salah satu teks yang paling terkenal dan dicintai dalam seluruh Alkitab, secara tradisional dikaitkan dengan Raja Daud, seorang gembala sebelum menjadi raja, yang melukiskan Allah sebagai gembala yang penuh kasih.
**Makna Mazmur 23:**
Mazmur ini berbicara tentang pemeliharaan, bimbingan, perlindungan, dan penghiburan ilahi. Baris-baris seperti "Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang," "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku," dan "Meja Engkau sediakan bagiku di hadapan lawan-lawanku" memberikan gambaran tentang Tuhan yang menyediakan segala kebutuhan, menghibur di tengah kesulitan, dan memberikan jaminan keselamatan kekal.
**Peran William Whittingham (Abad ke-16):**
William Whittingham (sekitar 1524–1579) adalah seorang reformis Protestan Inggris yang hidup di pengasingan di Jenewa, Swiss, selama masa penganiayaan terhadap Protestan di bawah Ratu Mary I ("Bloody Mary"). Di Jenewa, ia menjadi tokoh kunci dalam komunitas para pengungsi Inggris.
* **Latar Belakang Reformasi:** Selama Reformasi Protestan, ada keinginan kuat untuk memungkinkan jemaat berpartisipasi lebih aktif dalam ibadah, termasuk melalui nyanyian. Mazmur, yang sebelumnya dinyanyikan dalam bahasa Latin oleh paduan suara atau para rohaniawan, perlu diadaptasi ke dalam bahasa sehari-ari (vernakular) dan format yang bisa dinyanyikan oleh seluruh jemaat.
* **Parafrase Metrik:** Whittingham tidak menerjemahkan Mazmur 23 secara harfiah, melainkan menciptakan **parafrase metrik** dari Mazmur tersebut. Ini berarti ia mengubah teks Mazmur ke dalam bentuk syair atau puisi dengan pola rima dan irama yang teratur (disebut "Common Metre" atau "CM" dalam himnologi) agar dapat dinyanyikan dengan melodi yang sudah ada.
* **Geneva Psalter:** Versi parafrase Whittingham dari Mazmur 23 (dan Mazmur lainnya) pertama kali diterbitkan dalam **"Geneva Psalter" tahun 1556** (kemudian direvisi dan diperluas pada tahun 1561). Psalter ini menjadi sangat berpengaruh di kalangan Protestan berbahasa Inggris dan merupakan salah satu sumber utama bagi nyanyian jemaat di masa itu.
* **Teks yang Abadi:** Parafrase Whittingham, yang dimulai dengan "The Lord's my Shepherd, I'll not want," telah menjadi bentuk standar dari Mazmur 23 yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris selama berabad-abad, dikenal karena kesederhanaan, keindahan, dan kesetiaannya pada semangat asli Mazmur tersebut.
---
### Bagian 2: Melodi – "Crimond" dan Jessie Seymour Irvine
Setelah teks parafrase metrik tersedia, tantangan berikutnya adalah menemukan melodi yang tepat untuk menyanyikannya. Melodi yang paling terkenal yang diasosiasikan dengan teks Whittingham adalah **"Crimond."**
**Jessie Seymour Irvine (1855–1948):**
Jessie Seymour Irvine adalah komposer dari melodi "Crimond." Ia lahir pada tahun 1855 di Skotlandia, putri dari seorang pendeta Gereja Skotlandia, Rev. Alexander Irvine.
* **Komposisi di Usia Muda:** Kisah paling umum adalah bahwa Jessie, pada usia yang sangat muda (sekitar 15 tahun), menciptakan melodi ini. Pada saat itu, ayahnya menjabat sebagai pendeta di paroki Crimond, Aberdeenshire, Skotlandia.
* **Konteksnya:** Ada beberapa versi cerita tentang bagaimana melodi ini muncul:
* **Kompetisi atau Tugas:** Beberapa sumber menyebutkan bahwa Jessie menggubah melodi ini sebagai tugas untuk kelas musik atau kompetisi komponis himne lokal di tahun 1871.
* **Ayah yang Mendukung:** Sang ayah, Rev. Alexander Irvine, sangat bangga dengan karya putrinya. Ia diduga mengedit sedikit melodi tersebut (mungkin untuk menyelaraskannya dengan Common Metre) dan kemudian menyerahkannya untuk diterbitkan.
* **Nama "Crimond":** Melodi ini dinamakan "Crimond" untuk menghormati paroki tempat ayahnya melayani saat itu, yang juga merupakan tempat Jessie menghabiskan masa kecilnya.
* **Publikasi Awal:** Melodi "Crimond" pertama kali diterbitkan dalam **"The Northern Psalter" pada tahun 1871** (beberapa sumber menyebutkan "The Scottish Psalter" tahun 1871 atau "The Presbyterian Hymnal" tahun 1872). Menariknya, pada awalnya, melodi ini terkadang dikaitkan dengan ayahnya, Rev. Alexander Irvine, atau editor musiknya, David Grant, karena mereka yang mungkin menyerahkannya untuk publikasi atau melakukan editing. Namun, konsensus modern adalah bahwa Jessie Seymour Irvine adalah komposer aslinya.
* **Ciri Melodi "Crimond":** Melodi ini sederhana, tenang, agung, dan sangat mudah dinyanyikan. Keindahan dan kemudahannya membuatnya cepat menyebar dan dicintai, memberikan kesan kedamaian dan penghiburan yang sempurna untuk teks Mazmur 23.
---
### Sinergi dan Warisan Abadi
Sinergi antara teks parafrase William Whittingham dan melodi "Crimond" karya Jessie Seymour Irvine adalah alasan mengapa lagu ini begitu kuat dan bertahan lama.
* **Penyatuan yang Sempurna:** Teks Whittingham, dengan pesan penghiburan dan jaminan ilahi yang mendalam, menemukan rumah yang sempurna dalam melodi Irvine yang menenangkan dan agung. Keduanya saling melengkapi, memperkuat pesan spiritual satu sama lain.
* **Kepopuleran Global:** "The Lord's My Shepherd" dengan melodi "Crimond" melampaui batasan denominasi dan budaya. Ia dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia, diibaratkan sebagai "lagu kebangsaan" spiritual bagi banyak orang Kristen.
* **Koneksi Kerajaan:** Salah satu momen paling terkenal yang menegaskan status ikonik lagu ini adalah hubungannya dengan **Ratu Elizabeth II**. Lagu ini adalah himne favoritnya dan dinyanyikan pada pernikahannya pada tahun 1947 serta pada pemakamannya pada tahun 2022. Hal ini menunjukkan betapa mendalamnya makna dan kenyamanan yang diberikan lagu ini, bahkan bagi seorang kepala negara.
* **Kenyamanan di Masa Sulit:** Lagu ini sering dinyanyikan pada saat-saat penting dalam hidup, terutama pada pemakaman, memberikan penghiburan yang mendalam bagi mereka yang berduka. Pesannya tentang gembala yang setia, yang memimpin melalui "lembah kekelaman," memberikan harapan dan kedamaian di tengah kesedihan.
**Kesimpulan:**
"Tuhan Allah Gembalaku / The Lord's My Shepherd" adalah mahakarya spiritual yang lahir dari gabungan warisan kuno dan kreativitas modern. Dari hati Raja Daud yang menulis Mazmur 23, melalui upaya William Whittingham yang mengubahnya menjadi syair yang dapat dinyanyikan oleh jemaat, hingga sentuhan jenius Jessie Seymour Irvine yang memberikannya melodi yang abadi, lagu ini adalah testimoni akan kekuatan iman, pengharapan, dan kenyamanan yang melampaui generasi. Ini adalah lagu yang terus beresonansi karena pesannya yang universal tentang pemeliharaan Allah yang tak berkesudahan.
Mari kita selami detail kisah di balik lagu ini:
---
### Bagian 1: Teks – Mazmur 23 dan Adaptasi William Whittingham
Inti dari lagu "Tuhan Allah Gembalaku" berasal dari **Mazmur 23** dalam Alkitab Perjanjian Lama. Mazmur ini adalah salah satu teks yang paling terkenal dan dicintai dalam seluruh Alkitab, secara tradisional dikaitkan dengan Raja Daud, seorang gembala sebelum menjadi raja, yang melukiskan Allah sebagai gembala yang penuh kasih.
**Makna Mazmur 23:**
Mazmur ini berbicara tentang pemeliharaan, bimbingan, perlindungan, dan penghiburan ilahi. Baris-baris seperti "Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang," "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku," dan "Meja Engkau sediakan bagiku di hadapan lawan-lawanku" memberikan gambaran tentang Tuhan yang menyediakan segala kebutuhan, menghibur di tengah kesulitan, dan memberikan jaminan keselamatan kekal.
**Peran William Whittingham (Abad ke-16):**
William Whittingham (sekitar 1524–1579) adalah seorang reformis Protestan Inggris yang hidup di pengasingan di Jenewa, Swiss, selama masa penganiayaan terhadap Protestan di bawah Ratu Mary I ("Bloody Mary"). Di Jenewa, ia menjadi tokoh kunci dalam komunitas para pengungsi Inggris.
* **Latar Belakang Reformasi:** Selama Reformasi Protestan, ada keinginan kuat untuk memungkinkan jemaat berpartisipasi lebih aktif dalam ibadah, termasuk melalui nyanyian. Mazmur, yang sebelumnya dinyanyikan dalam bahasa Latin oleh paduan suara atau para rohaniawan, perlu diadaptasi ke dalam bahasa sehari-ari (vernakular) dan format yang bisa dinyanyikan oleh seluruh jemaat.
* **Parafrase Metrik:** Whittingham tidak menerjemahkan Mazmur 23 secara harfiah, melainkan menciptakan **parafrase metrik** dari Mazmur tersebut. Ini berarti ia mengubah teks Mazmur ke dalam bentuk syair atau puisi dengan pola rima dan irama yang teratur (disebut "Common Metre" atau "CM" dalam himnologi) agar dapat dinyanyikan dengan melodi yang sudah ada.
* **Geneva Psalter:** Versi parafrase Whittingham dari Mazmur 23 (dan Mazmur lainnya) pertama kali diterbitkan dalam **"Geneva Psalter" tahun 1556** (kemudian direvisi dan diperluas pada tahun 1561). Psalter ini menjadi sangat berpengaruh di kalangan Protestan berbahasa Inggris dan merupakan salah satu sumber utama bagi nyanyian jemaat di masa itu.
* **Teks yang Abadi:** Parafrase Whittingham, yang dimulai dengan "The Lord's my Shepherd, I'll not want," telah menjadi bentuk standar dari Mazmur 23 yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris selama berabad-abad, dikenal karena kesederhanaan, keindahan, dan kesetiaannya pada semangat asli Mazmur tersebut.
---
### Bagian 2: Melodi – "Crimond" dan Jessie Seymour Irvine
Setelah teks parafrase metrik tersedia, tantangan berikutnya adalah menemukan melodi yang tepat untuk menyanyikannya. Melodi yang paling terkenal yang diasosiasikan dengan teks Whittingham adalah **"Crimond."**
**Jessie Seymour Irvine (1855–1948):**
Jessie Seymour Irvine adalah komposer dari melodi "Crimond." Ia lahir pada tahun 1855 di Skotlandia, putri dari seorang pendeta Gereja Skotlandia, Rev. Alexander Irvine.
* **Komposisi di Usia Muda:** Kisah paling umum adalah bahwa Jessie, pada usia yang sangat muda (sekitar 15 tahun), menciptakan melodi ini. Pada saat itu, ayahnya menjabat sebagai pendeta di paroki Crimond, Aberdeenshire, Skotlandia.
* **Konteksnya:** Ada beberapa versi cerita tentang bagaimana melodi ini muncul:
* **Kompetisi atau Tugas:** Beberapa sumber menyebutkan bahwa Jessie menggubah melodi ini sebagai tugas untuk kelas musik atau kompetisi komponis himne lokal di tahun 1871.
* **Ayah yang Mendukung:** Sang ayah, Rev. Alexander Irvine, sangat bangga dengan karya putrinya. Ia diduga mengedit sedikit melodi tersebut (mungkin untuk menyelaraskannya dengan Common Metre) dan kemudian menyerahkannya untuk diterbitkan.
* **Nama "Crimond":** Melodi ini dinamakan "Crimond" untuk menghormati paroki tempat ayahnya melayani saat itu, yang juga merupakan tempat Jessie menghabiskan masa kecilnya.
* **Publikasi Awal:** Melodi "Crimond" pertama kali diterbitkan dalam **"The Northern Psalter" pada tahun 1871** (beberapa sumber menyebutkan "The Scottish Psalter" tahun 1871 atau "The Presbyterian Hymnal" tahun 1872). Menariknya, pada awalnya, melodi ini terkadang dikaitkan dengan ayahnya, Rev. Alexander Irvine, atau editor musiknya, David Grant, karena mereka yang mungkin menyerahkannya untuk publikasi atau melakukan editing. Namun, konsensus modern adalah bahwa Jessie Seymour Irvine adalah komposer aslinya.
* **Ciri Melodi "Crimond":** Melodi ini sederhana, tenang, agung, dan sangat mudah dinyanyikan. Keindahan dan kemudahannya membuatnya cepat menyebar dan dicintai, memberikan kesan kedamaian dan penghiburan yang sempurna untuk teks Mazmur 23.
---
### Sinergi dan Warisan Abadi
Sinergi antara teks parafrase William Whittingham dan melodi "Crimond" karya Jessie Seymour Irvine adalah alasan mengapa lagu ini begitu kuat dan bertahan lama.
* **Penyatuan yang Sempurna:** Teks Whittingham, dengan pesan penghiburan dan jaminan ilahi yang mendalam, menemukan rumah yang sempurna dalam melodi Irvine yang menenangkan dan agung. Keduanya saling melengkapi, memperkuat pesan spiritual satu sama lain.
* **Kepopuleran Global:** "The Lord's My Shepherd" dengan melodi "Crimond" melampaui batasan denominasi dan budaya. Ia dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia, diibaratkan sebagai "lagu kebangsaan" spiritual bagi banyak orang Kristen.
* **Koneksi Kerajaan:** Salah satu momen paling terkenal yang menegaskan status ikonik lagu ini adalah hubungannya dengan **Ratu Elizabeth II**. Lagu ini adalah himne favoritnya dan dinyanyikan pada pernikahannya pada tahun 1947 serta pada pemakamannya pada tahun 2022. Hal ini menunjukkan betapa mendalamnya makna dan kenyamanan yang diberikan lagu ini, bahkan bagi seorang kepala negara.
* **Kenyamanan di Masa Sulit:** Lagu ini sering dinyanyikan pada saat-saat penting dalam hidup, terutama pada pemakaman, memberikan penghiburan yang mendalam bagi mereka yang berduka. Pesannya tentang gembala yang setia, yang memimpin melalui "lembah kekelaman," memberikan harapan dan kedamaian di tengah kesedihan.
**Kesimpulan:**
"Tuhan Allah Gembalaku / The Lord's My Shepherd" adalah mahakarya spiritual yang lahir dari gabungan warisan kuno dan kreativitas modern. Dari hati Raja Daud yang menulis Mazmur 23, melalui upaya William Whittingham yang mengubahnya menjadi syair yang dapat dinyanyikan oleh jemaat, hingga sentuhan jenius Jessie Seymour Irvine yang memberikannya melodi yang abadi, lagu ini adalah testimoni akan kekuatan iman, pengharapan, dan kenyamanan yang melampaui generasi. Ini adalah lagu yang terus beresonansi karena pesannya yang universal tentang pemeliharaan Allah yang tak berkesudahan.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
114
Besarlah Khalik Dunia
115
Ya Khalik Dunia
116
Setia Hu, Tak Gagal Niat-Nya
117
Di Gunung dan di Lembah
118
Selalu Hu, Gembalaku
119
Jemaat Memuji Tuhannya
120
Betapa Indah Bumi Ini
121
Selamat Tanah, yang dilindung Tuhan Hu
122
Tuhan yang Rumah-Mu Sorga Terang
123
Hai, Bertepuk Tangan dan Tari
124
Ya Allah Abad dan Zaman
125
Makin Tambah Murka Laut
126
Hatiku, Teduhkan Diri
127
Benar dan Baik Semuanya
128
Biarkan Tuhan Menyenggara
129
Karunia Baik Semua
130
Kepada Tuhan jua
131
Pimpin Aku, Tuhan Hua
132
Ya Tuhan, Murah-Mu Baka
133
Jiwa, Puji Raja Sorga
134
Tersembunyi Ujung Jalan
135
Ingat dalam Susah dan Bala