NR
Hai, Bertepuk Tangan dan Tari
123
Nomor
Kode
NR 123
Buku
Nyanyian Rohani
Tematik
Kejadian Dunia Dan Pemeliharaan Tuhan
Metronom
94
Jumlah Bait
3 bait
Style
IrishDance
Cross Ref.
KJ 292, KK 467
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
1
Hai, bertepuk tangan dan tari,
bunyikan suling dan gendang!
Nyanyi syukur, rayakan hari,
kamu bersuka dan senang!
Pujilah Hu, Penolongmu,
yang tlah melalukan
tindisan dan beban.
2
Di Israel Itu biasa;
turutlah juga bertelut
di dapan-Nya yang berkuasa,
bawalah hormat bersujud.
Nyanyikan gah kepada-Nya
yang firman-Nya benar
dan kasih-Nya besar!
3
Dulu telah Tuhan lepaskan
kaum-Nya yang dalam susah prang.
Mega mendung dan kegelapan
diganti-Nya cuaca trang.
pula di sini Tuhan bri
selamat-Mu besar,
sentosa dan gemar!
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
3 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu yang Anda maksud, **"Tabuh Gendang"** (atau dalam bahasa Belanda dikenal sebagai **"Komt Nu Met Zang"**) memiliki latar belakang sejarah yang sangat menarik. Lagu ini berasal dari koleksi lagu-lagu perjuangan Belanda pada masa Perang Delapan Puluh Tahun (Perang Kemerdekaan Belanda melawan Spanyol).
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Asal-Usul: *Nederlandtsche Gedenck-clanck*
Lagu ini pertama kali dipublikasikan dalam buku berjudul **"Nederlandtsche Gedenck-clanck"** (Catatan Kenangan Belanda) yang disusun oleh **Adrianus Valerius** (1575–1625) dan diterbitkan pada tahun **1626**, tepat setahun setelah ia wafat.
Adrianus Valerius adalah seorang penyair, musisi, dan petugas pajak asal Veere, Belanda. Buku karyanya ini merupakan kompilasi lagu-lagu yang menggambarkan perjuangan Belanda melawan penjajahan Spanyol (Dinasti Habsburg) selama Perang Delapan Puluh Tahun (1568–1648).
### 2. Melodi yang Diadaptasi
Lagu "Komt Nu Met Zang" (Ayo Bernyanyi Sekarang) sebenarnya menggunakan melodi yang berasal dari lagu rakyat Prancis abad ke-16 yang berjudul *"Vous perdrez vos plumes"* (Kamu akan kehilangan bulu-bulumu). Valerius mengambil melodi yang sudah populer di Eropa saat itu dan memberikan lirik baru dalam bahasa Belanda yang sarat dengan semangat nasionalisme dan religiusitas (Protestan).
### 3. Makna Lirik (Konteks Perjuangan)
Secara harfiah, lirik *"Komt nu met zang van zoete tonen"* mengajak orang-orang untuk bernyanyi dengan nada-nada manis untuk merayakan kemenangan atau untuk memuji Tuhan atas kebebasan yang telah diraih.
* **Semangat Perlawanan:** Di masa itu, lagu ini berfungsi untuk membangkitkan semangat moral rakyat Belanda yang sedang berjuang demi kemerdekaan beragama dan kemerdekaan politik dari kekuasaan Spanyol yang Katolik dan absolut.
* **Identitas Nasional:** Buku *Gedenck-clanck* sendiri dianggap sebagai "buku sejarah dalam bentuk lagu". Valerius ingin memastikan bahwa generasi mendatang tidak lupa akan pengorbanan para leluhur mereka dalam memerdekakan negara.
### 4. Versi Indonesia: "Tabuh Gendang"
Dalam konteks di Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan atau diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dengan judul **"Tabuh Gendang"**.
Adaptasi ini sering muncul di lingkungan gereja atau paduan suara (sering ditemukan dalam buku nyanyian rohani seperti *Kidung Jemaat* atau buku musik sekolah). Dalam konteks Indonesia, lagu ini tidak lagi dikaitkan dengan perang melawan Spanyol, melainkan diubah menjadi lagu pujian atau lagu perayaan yang ceria, sesuai dengan melodi aslinya yang memang bersifat *upbeat* dan optimis.
### 5. Mengapa Lagu ini Penting?
* **Dokumen Sejarah:** *Gedenck-clanck* milik Valerius adalah salah satu dokumen musik paling penting dalam sejarah Belanda. Ia merekam bagaimana musik digunakan sebagai alat propaganda dan perekat solidaritas nasional.
* **Melodi yang Abadi:** Lagu ini menjadi simbol "identitas nasional" Belanda. Salah satu lagu yang paling terkenal dari koleksi buku yang sama adalah *Wilt heden nu treden* (yang kini menjadi lagu nasional Belanda tidak resmi, *O Nederland! let op u saeck*).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik "Tabuh Gendang" atau "Komt Nu Met Zang" adalah kisah tentang **seni sebagai alat perjuangan**. Adrianus Valerius berhasil mengabadikan semangat rakyat Belanda yang merdeka melalui melodi yang ia pinjam dari lagu rakyat, yang kemudian terus dinyanyikan selama berabad-abad, bahkan hingga mencapai Indonesia dengan makna baru sebagai lagu perayaan yang penuh sukacita.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Asal-Usul: *Nederlandtsche Gedenck-clanck*
Lagu ini pertama kali dipublikasikan dalam buku berjudul **"Nederlandtsche Gedenck-clanck"** (Catatan Kenangan Belanda) yang disusun oleh **Adrianus Valerius** (1575–1625) dan diterbitkan pada tahun **1626**, tepat setahun setelah ia wafat.
Adrianus Valerius adalah seorang penyair, musisi, dan petugas pajak asal Veere, Belanda. Buku karyanya ini merupakan kompilasi lagu-lagu yang menggambarkan perjuangan Belanda melawan penjajahan Spanyol (Dinasti Habsburg) selama Perang Delapan Puluh Tahun (1568–1648).
### 2. Melodi yang Diadaptasi
Lagu "Komt Nu Met Zang" (Ayo Bernyanyi Sekarang) sebenarnya menggunakan melodi yang berasal dari lagu rakyat Prancis abad ke-16 yang berjudul *"Vous perdrez vos plumes"* (Kamu akan kehilangan bulu-bulumu). Valerius mengambil melodi yang sudah populer di Eropa saat itu dan memberikan lirik baru dalam bahasa Belanda yang sarat dengan semangat nasionalisme dan religiusitas (Protestan).
### 3. Makna Lirik (Konteks Perjuangan)
Secara harfiah, lirik *"Komt nu met zang van zoete tonen"* mengajak orang-orang untuk bernyanyi dengan nada-nada manis untuk merayakan kemenangan atau untuk memuji Tuhan atas kebebasan yang telah diraih.
* **Semangat Perlawanan:** Di masa itu, lagu ini berfungsi untuk membangkitkan semangat moral rakyat Belanda yang sedang berjuang demi kemerdekaan beragama dan kemerdekaan politik dari kekuasaan Spanyol yang Katolik dan absolut.
* **Identitas Nasional:** Buku *Gedenck-clanck* sendiri dianggap sebagai "buku sejarah dalam bentuk lagu". Valerius ingin memastikan bahwa generasi mendatang tidak lupa akan pengorbanan para leluhur mereka dalam memerdekakan negara.
### 4. Versi Indonesia: "Tabuh Gendang"
Dalam konteks di Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan atau diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dengan judul **"Tabuh Gendang"**.
Adaptasi ini sering muncul di lingkungan gereja atau paduan suara (sering ditemukan dalam buku nyanyian rohani seperti *Kidung Jemaat* atau buku musik sekolah). Dalam konteks Indonesia, lagu ini tidak lagi dikaitkan dengan perang melawan Spanyol, melainkan diubah menjadi lagu pujian atau lagu perayaan yang ceria, sesuai dengan melodi aslinya yang memang bersifat *upbeat* dan optimis.
### 5. Mengapa Lagu ini Penting?
* **Dokumen Sejarah:** *Gedenck-clanck* milik Valerius adalah salah satu dokumen musik paling penting dalam sejarah Belanda. Ia merekam bagaimana musik digunakan sebagai alat propaganda dan perekat solidaritas nasional.
* **Melodi yang Abadi:** Lagu ini menjadi simbol "identitas nasional" Belanda. Salah satu lagu yang paling terkenal dari koleksi buku yang sama adalah *Wilt heden nu treden* (yang kini menjadi lagu nasional Belanda tidak resmi, *O Nederland! let op u saeck*).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik "Tabuh Gendang" atau "Komt Nu Met Zang" adalah kisah tentang **seni sebagai alat perjuangan**. Adrianus Valerius berhasil mengabadikan semangat rakyat Belanda yang merdeka melalui melodi yang ia pinjam dari lagu rakyat, yang kemudian terus dinyanyikan selama berabad-abad, bahkan hingga mencapai Indonesia dengan makna baru sebagai lagu perayaan yang penuh sukacita.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
114
Besarlah Khalik Dunia
115
Ya Khalik Dunia
116
Setia Hu, Tak Gagal Niat-Nya
117
Di Gunung dan di Lembah
118
Selalu Hu, Gembalaku
118
Selalu Hu, Gembalaku
119
Jemaat Memuji Tuhannya
120
Betapa Indah Bumi Ini
121
Selamat Tanah, yang dilindung Tuhan Hu
122
Tuhan yang Rumah-Mu Sorga Terang
124
Ya Allah Abad dan Zaman
125
Makin Tambah Murka Laut
126
Hatiku, Teduhkan Diri
127
Benar dan Baik Semuanya
128
Biarkan Tuhan Menyenggara
129
Karunia Baik Semua
130
Kepada Tuhan jua
131
Pimpin Aku, Tuhan Hua
132
Ya Tuhan, Murah-Mu Baka
133
Jiwa, Puji Raja Sorga
134
Tersembunyi Ujung Jalan
135
Ingat dalam Susah dan Bala