Bekasi, Cikarang & Karawang
156
Nomor
Kode
NP 156
Buku
Nyanyian Pujian
Tematik
Pekerjaan Allah, Pimpinan dan Perlindungan
Metronom
65
Style
LoveSong
Pencipta Lagu
William B. Bradbury
Pencipta Syair
Joseph H. Gilmore
Cross Ref.
KJ 410, KK 533, KPJ 436, KPKA 149, NKI 131
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
1
Tuhan menuntun hidupku Betapa sukacitaku! Kemana saja jalanku, Tangan Tuhan menuntunku. Tuhan menuntun hidupku; TanganNya memegang teguh; Hatiku berserah penuh; Tuhan menuntun hidupku.
2
Di malam yang gelap benar, Di taman indah dan segar, Di laut teduh atau topan, Penuntunku itu Tuhan.
3
Tak kusesalkan hidupku, Betapa juga nasibku; Puas dengan kehendakMu Sebab Tuhan penuntunku.
4
Bila genaplah kerjaku, Menang berkat anugrahMu, Maut pun takkan menakutkan: Penuntunku itu Tuhan.
Partitur / Not
Partitur Chord NP 156
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — NP 156 1
Slide 2 — NP 156 2
Slide 3 — NP 156 3
Slide 4 — NP 156 4
Kisah di Balik Lagu
Lagu himne **"He Leadeth Me! O Blessed Thought"** (Tuhan Menuntun Hidupku) adalah salah satu lagu rohani paling inspiratif dalam sejarah kekristenan. Lagu ini tidak lahir dari suasana sukacita di gereja, melainkan dari kedalaman perenungan seorang pria di tengah masa kelam sejarah Amerika.

Berikut adalah kisah detail di balik penciptaan lagu tersebut:

### 1. Latar Belakang Penulis: Joseph H. Gilmore
Penulis liriknya adalah **Joseph H. Gilmore**, seorang pendeta muda asal Boston. Pada tahun 1862, saat Perang Saudara Amerika (Civil War) sedang berkecamuk hebat, Gilmore baru saja lulus dari Newton Theological Institution.

Pada hari Rabu, **26 Maret 1862**, Gilmore diminta untuk berkhotbah di sebuah gereja di Philadelphia. Topik yang ia bahas saat itu adalah mengenai **Mazmur 23**, tepatnya ayat yang berbunyi: *"Tuhan adalah gembalaku..."*

### 2. Momen Inspirasi yang Tak Terduga
Setelah kebaktian selesai, Gilmore diundang untuk makan malam di rumah seorang jemaat bernama Deacon Wattson. Saat itu, suasana hati Gilmore sedang sangat berat karena kekejaman perang yang terus berlangsung dan ketidakpastian masa depan bangsanya.

Saat duduk di meja makan, pikiran Gilmore terus berputar pada kata-kata *"Tuhan menuntun aku"* (He leadeth me). Baginya, gagasan bahwa Tuhan secara pribadi membimbing setiap langkah manusia adalah sebuah pemikiran yang sangat menenangkan dan mulia.

Ia kemudian mengambil kertas dan pena, lalu menuliskan lirik lagu tersebut dengan sangat cepat. Ia tidak menyadari bahwa apa yang ia tulis adalah sebuah puisi yang akan dinyanyikan selama ratusan tahun.

### 3. Istri yang "Menyelamatkan" Karya Tersebut
Gilmore sendiri sebenarnya menganggap tulisan itu biasa saja. Setelah selesai menulis, ia memberikan kertas itu kepada istrinya dan pergi tanpa banyak berkomentar.

Istrinya, yang sangat tersentuh dengan kata-kata tersebut, mengirimkan lirik itu ke sebuah majalah keagamaan bernama *The Watchman and Reflector* tanpa sepengetahuan Gilmore. Tanpa sepengetahuan mereka berdua pula, seorang komposer musik gereja terkenal bernama **William B. Bradbury** membaca puisi itu di majalah tersebut.

### 4. Peran William B. Bradbury
Bradbury merasa sangat terinspirasi oleh lirik tersebut. Ia kemudian menambahkan melodi yang indah dan menyusunnya menjadi lagu himne yang kita kenal sekarang. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1864, Bradbury menerbitkan lagu tersebut dalam buku kumpulan himne miliknya berjudul *The Golden Censer*.

Gilmore sendiri baru mengetahui bahwa puisinya telah menjadi lagu terkenal ketika ia mengunjungi sebuah gereja di Rochester, New York, beberapa tahun kemudian. Ia terkejut mendengar jemaat menyanyikan lagu yang liriknya ia tulis di ruang makan Deacon Wattson bertahun-tahun silam.

### Makna Mendalam
Lagu ini menjadi sangat populer karena kejujurannya. Liriknya mengakui bahwa hidup tidak selalu mudah:
* *"Kadang dalam kesenangan, kadang di tengah duka yang dalam"*
* *"Di pegunungan atau di lembah yang teduh"*

Lagu ini mengajarkan bahwa baik dalam keberhasilan maupun dalam kegagalan, Tuhan tetap memegang tangan anak-anak-Nya. Bagi Joseph Gilmore, menulis lagu ini adalah cara Tuhan menguatkan hatinya di tengah depresi dan kecemasan akibat perang, mengingatkannya bahwa **Tangan Tuhanlah yang memegang kendali**, bukan kekacauan dunia.

Hingga hari ini, *He Leadeth Me* tetap menjadi lagu penguat bagi jutaan orang yang merasa tersesat atau lelah dalam menjalani hidup, mengingatkan mereka bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.