BE
Holan Jesus Do Hubaen
260
Nomor
Kode
BE 260
Buku
Buku Ende
Tematik
Parungkilon
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 421, KK 325, BN 260
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
1
Holan Jesus do hubaen donganku
Ai Ibana pasonangkon au
Ingkon sai tongtong tiur langkangku
Molo raphon Jesus i au lao
Molo raphon Jesus i au lao.
2
Tano dohot laut sonang hubolus
Molo sai diiring Jesus au
Tu banuaginjang pe sai torus
Do boanon ni Tuhanku au.
Do boanon ni Tuhanku au.
3
Di na modom manang di na hehe
Jesus do donganku sai tongtong
SoaraNa do tongtong hubege
Mangapuli au na dangol on,
Mangapuli au na dangol on.
4
Jesus do tongtong haporusanku
Arta dohot hangoluanki
Nang tondingku nang pe pamatangku
Hupasahat tu tanganNa i
Hupasahat tu tanganNa i.
5
Di na ro panjouna di tondingku
Las rohangku mangihuthon i
Ndang tagamon susa be rohangku
Raphon Tuhanki di surgo i,
Raphon Tuhanki di surgo i.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
5 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Yesus Saja Kawanku Musafir"** (judul asli Jerman: *Nur mit Jesus will ich pilgerwandern*) adalah salah satu lagu rohani klasik yang sangat dicintai karena kedalaman maknanya tentang perjalanan hidup orang percaya.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis: Johann Peter Schock
Lagu ini ditulis oleh **Johann Peter Schock** (1821–1892), seorang pendeta dan penyair rohani asal Jerman. Schock dikenal sebagai sosok yang hidup dalam masa di mana Pietisme (gerakan yang menekankan kesalehan pribadi dan hubungan intim dengan Tuhan) sangat berpengaruh di Jerman.
Meskipun informasi biografis tentang Schock tidak semeriah komponis besar lainnya seperti Bach atau Luther, karya-karyanya mencerminkan semangat zaman tersebut: fokus pada penyerahan diri secara total kepada Yesus Kristus sebagai "teman seperjalanan" yang setia di tengah dunia yang penuh tantangan.
### 2. Makna di Balik Judul dan Lirik
Judul aslinya, *Nur mit Jesus will ich pilgerwandern*, secara harfiah berarti "Hanya bersama Yesus aku ingin berjalan sebagai peziarah."
Kisah di balik lirik ini berakar dari konsep teologis **"Hidup sebagai Peziarah"** (*Pilgerleben*):
* **Dunia Bukan Rumah:** Penulis memandang dunia ini sebagai tempat persinggahan sementara. Umat Kristen dianggap sebagai "musafir" yang sedang dalam perjalanan menuju "rumah abadi" (Sorga).
* **Pentingnya Pendampingan:** Di tengah perjalanan hidup yang seringkali penuh dengan lembah kekelaman, godaan, dan kelelahan, Schock menegaskan bahwa satu-satunya pendamping yang tidak akan pernah meninggalkan adalah Yesus Kristus.
* **Penyerahan Diri:** Lirik ini bukan sekadar lagu tentang perjalanan fisik, melainkan metafora tentang ketaatan. "Berjalan bersama Yesus" berarti membiarkan Yesus menentukan arah langkah, baik di jalan yang rata maupun yang terjal.
### 3. Konteks Sejarah Lagu
Lagu ini ditulis pada pertengahan abad ke-19, sebuah era di mana Eropa mengalami revolusi industri dan perubahan sosial yang cepat. Banyak orang merasa "terasing" di tengah hiruk-pikuk dunia yang berubah.
Dalam konteks tersebut, lagu ini menjadi semacam "jangkar" bagi umat Kristen. Pesan utamanya adalah: **"Apapun yang terjadi di dunia, selama Yesus berjalan di sampingku, hidupku aman."** Hal ini memberikan penghiburan bagi mereka yang merasa kesepian atau kehilangan arah di tengah tekanan dunia.
### 4. Popularitas di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini sangat populer di berbagai denominasi gereja, terutama di kalangan Gereja-gereja yang menggunakan buku nyanyian *Kidung Jemaat* (KJ No. 445).
Penerjemahan lagu ini ke dalam bahasa Indonesia mempertahankan esensi aslinya yang sangat puitis dan reflektif. Beberapa baris yang sangat ikonik bagi umat Kristen di Indonesia adalah:
> *"Yesus saja kawanku musafir, tempat perlindungan yang teguh..."*
### Mengapa Lagu Ini Tetap Relevan?
Kisah di balik lagu ini tetap hidup karena **universalitas pesannya**. Setiap manusia, lintas generasi, pasti akan menghadapi masa-masa di mana mereka merasa sendirian, lelah, atau tidak tahu harus melangkah ke mana. Lagu ini menawarkan jawaban bahwa hidup bukanlah perjalanan yang harus ditempuh sendirian.
Dengan melodi yang cenderung tenang dan khidmat, lagu ini sering dinyanyikan dalam ibadah-ibadah penghiburan, kebaktian padang, atau saat seseorang ingin merenungkan kembali arah hidupnya di hadapan Tuhan.
**Kesimpulan:**
*Nur mit Jesus will ich pilgerwandern* bukan sekadar lagu pujian biasa. Ia adalah pernyataan iman seorang Johann Peter Schock yang memilih untuk menanggalkan ketergantungan pada dunia dan memilih Yesus sebagai teman perjalanan satu-satunya hingga tiba di tujuan akhir.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis: Johann Peter Schock
Lagu ini ditulis oleh **Johann Peter Schock** (1821–1892), seorang pendeta dan penyair rohani asal Jerman. Schock dikenal sebagai sosok yang hidup dalam masa di mana Pietisme (gerakan yang menekankan kesalehan pribadi dan hubungan intim dengan Tuhan) sangat berpengaruh di Jerman.
Meskipun informasi biografis tentang Schock tidak semeriah komponis besar lainnya seperti Bach atau Luther, karya-karyanya mencerminkan semangat zaman tersebut: fokus pada penyerahan diri secara total kepada Yesus Kristus sebagai "teman seperjalanan" yang setia di tengah dunia yang penuh tantangan.
### 2. Makna di Balik Judul dan Lirik
Judul aslinya, *Nur mit Jesus will ich pilgerwandern*, secara harfiah berarti "Hanya bersama Yesus aku ingin berjalan sebagai peziarah."
Kisah di balik lirik ini berakar dari konsep teologis **"Hidup sebagai Peziarah"** (*Pilgerleben*):
* **Dunia Bukan Rumah:** Penulis memandang dunia ini sebagai tempat persinggahan sementara. Umat Kristen dianggap sebagai "musafir" yang sedang dalam perjalanan menuju "rumah abadi" (Sorga).
* **Pentingnya Pendampingan:** Di tengah perjalanan hidup yang seringkali penuh dengan lembah kekelaman, godaan, dan kelelahan, Schock menegaskan bahwa satu-satunya pendamping yang tidak akan pernah meninggalkan adalah Yesus Kristus.
* **Penyerahan Diri:** Lirik ini bukan sekadar lagu tentang perjalanan fisik, melainkan metafora tentang ketaatan. "Berjalan bersama Yesus" berarti membiarkan Yesus menentukan arah langkah, baik di jalan yang rata maupun yang terjal.
### 3. Konteks Sejarah Lagu
Lagu ini ditulis pada pertengahan abad ke-19, sebuah era di mana Eropa mengalami revolusi industri dan perubahan sosial yang cepat. Banyak orang merasa "terasing" di tengah hiruk-pikuk dunia yang berubah.
Dalam konteks tersebut, lagu ini menjadi semacam "jangkar" bagi umat Kristen. Pesan utamanya adalah: **"Apapun yang terjadi di dunia, selama Yesus berjalan di sampingku, hidupku aman."** Hal ini memberikan penghiburan bagi mereka yang merasa kesepian atau kehilangan arah di tengah tekanan dunia.
### 4. Popularitas di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini sangat populer di berbagai denominasi gereja, terutama di kalangan Gereja-gereja yang menggunakan buku nyanyian *Kidung Jemaat* (KJ No. 445).
Penerjemahan lagu ini ke dalam bahasa Indonesia mempertahankan esensi aslinya yang sangat puitis dan reflektif. Beberapa baris yang sangat ikonik bagi umat Kristen di Indonesia adalah:
> *"Yesus saja kawanku musafir, tempat perlindungan yang teguh..."*
### Mengapa Lagu Ini Tetap Relevan?
Kisah di balik lagu ini tetap hidup karena **universalitas pesannya**. Setiap manusia, lintas generasi, pasti akan menghadapi masa-masa di mana mereka merasa sendirian, lelah, atau tidak tahu harus melangkah ke mana. Lagu ini menawarkan jawaban bahwa hidup bukanlah perjalanan yang harus ditempuh sendirian.
Dengan melodi yang cenderung tenang dan khidmat, lagu ini sering dinyanyikan dalam ibadah-ibadah penghiburan, kebaktian padang, atau saat seseorang ingin merenungkan kembali arah hidupnya di hadapan Tuhan.
**Kesimpulan:**
*Nur mit Jesus will ich pilgerwandern* bukan sekadar lagu pujian biasa. Ia adalah pernyataan iman seorang Johann Peter Schock yang memilih untuk menanggalkan ketergantungan pada dunia dan memilih Yesus sebagai teman perjalanan satu-satunya hingga tiba di tujuan akhir.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
KJ 421, KK 325, BN 260
260
Yesus Sahabatku
421
Yesus Saja Kawanku Musafir
325
Yesus Saja Kawanku Musafir
Tema :
Parungkilon
236
Jotjot Do Marsak
237
Jesus Kristus Do Manobus
238
Ihuthon Au Sude Hamu
239
Binsan Ro Asi Ni Roha
240
Ngot Ma Ho Dijou Soara
241
Asal Ma Ibana
242
Rahis Jala Maol
243
Sai Berengi Partonggolan
244
Binsan Ro Asi Ni Roha
245
Asal Ma Ibana
246
Jesus Urupi
247
Sai Hehe Ma Hamuna, Hamu,
248
Saleleng Ho Di Tano On
249
Ngot Ma Ho, O Tondingki
250
Hatami Ale Tuhanku
251
Na Monang I Do
252
O Jesus Sai Dongani
253
Ale Debatangki
254
Di Na Ponjot Rohangku
255
Holan Sada Do Na Ringkot
256
Jesus Kristus I Do Raja
257
Jonok Debatanta
258
Sai Hutuju
259
Sai Beta Ma Tondingku
261
Bintang Sipartogi
262
Jahowa Tuhanki
263
Tudos Tu Galumbang I
264
Adong Dope Paradianan
265
Naung Moru Do Muse Sataon
266
Tu Banuaginjang Do
267
O Tuhan Sulingkit
268
Debatangku Do Donganku
269
Tu Jolo Ni Tuhanku
270
Ngot Ai Torang Do Ari
271
Beta, Beta Hita
272
Sai Tole, Tole Ro Sude
273
Jesus Tuhanku, Rajai Ma Au
274
Sai Hehe Ma Hamuna, Hamu
275
O Jesus Tuhanhi
276
O Jesus Siparmonang I
277
Marsada Roha Hita
278
Bangso Na Sumurung I