Bekasi, Cikarang & Karawang
271
Nomor
Kode
NKI 271
Buku
Nyanyian Kemenangan Iman
Tematik
Salib
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 361, KK 450, NP 132, PPK 110
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
1
Aku naik ke Joljuta Dengan sakit dan lemah Di salib di sanalah Aku ini k’lak betah. Anak Allah disalib Engkau saja yang tabib Kepada-Mu kusujud Di salib-Mu ku telut.
2
Sudah lama ku keluh Melalui Joljuta Baru s’karang ku teduh Perhentikanlah lelah.
3
Akan barang yang fana Tidak lagi kukenang Tuhan yang di Joljuta Saja sempat b’ri senang.
4
Kar’na darah Penebus Kar’na maut-Nya yang pedih Bapa murah dan kudus T’rima aku yang keji.
5
B’ri nama-Nya termasyur Dan keliling terkenal Kepada-Nya b’ri syukur S’karang ini dan kekal.
Partitur / Not
Partitur Chord NKI 271
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — NKI 271 1
Slide 2 — NKI 271 2
Slide 3 — NKI 271 3
Slide 4 — NKI 271 4
Slide 5 — NKI 271 5
Kisah di Balik Lagu
Kisah di balik lagu **"Ku Mengungsi ke Salib" (I Am Coming to the Cross)** adalah kisah yang lahir dari sebuah gerakan kebangunan rohani (revival) di Amerika Serikat pada abad ke-19. Lagu ini bukan sekadar melodi, melainkan sebuah pernyataan komitmen iman yang mendalam.

Berikut adalah detail sejarah di balik lagu tersebut:

### 1. Pencipta: William McDonald dan William G. Fischer
Lagu ini merupakan kolaborasi antara dua tokoh gereja Metodis pada zamannya:

* **William McDonald (1820–1901):** Ia adalah seorang pendeta Metodis yang sangat giat dalam gerakan "Kekudusan" (*Holiness Movement*). McDonald menulis lirik lagu ini pada tahun 1870. Saat itu, ia sedang memimpin pertemuan doa dan kebaktian kebangunan rohani.
* **William G. Fischer (1835–1912):** Ia adalah seorang musisi dan komposer yang sangat berbakat. Fischer bertugas mengiringi musik dalam pertemuan-pertemuan yang dipimpin McDonald. Ia kemudian menciptakan melodi (musik) untuk lirik yang ditulis oleh McDonald tersebut.

### 2. Latar Belakang Penulisan (Tahun 1870)
Kisah ini bermula di sebuah kamp pertemuan (camp meeting) di **Vineland, New Jersey, Amerika Serikat**.

Pada masa itu, gerakan kebangunan rohani sedang marak. William McDonald ingin menulis sebuah lagu yang dapat menggambarkan proses penyerahan diri seseorang kepada Tuhan secara total—sebuah pengakuan akan kelemahan diri dan kebutuhan mutlak akan kasih karunia Tuhan melalui salib Kristus.

McDonald menulis liriknya dengan sangat jujur. Ia ingin mengungkapkan bahwa tidak ada yang bisa dibawa manusia ke hadapan Tuhan selain tangan yang hampa, dan satu-satunya alasan seseorang diterima adalah karena darah Yesus.

### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Judul aslinya, *"I Am Coming to the Cross"* (Aku Datang ke Salib), mencerminkan kerendahan hati. Beberapa poin penting dalam liriknya:

* **Pengakuan Dosa:** Liriknya mengakui bahwa "aku lemah dan penuh dosa." Ini adalah syarat utama untuk mendekati salib, yaitu kesadaran bahwa manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dengan usahanya sendiri.
* **Penyerahan Diri:** Frasa "Ku serahkan diriku" menjadi inti dari lagu ini. Lagu ini sering digunakan dalam altar call (ajakan ke depan untuk berdoa/bertobat) karena sangat menyentuh hati para pendengar yang sedang mencari pengampunan.
* **Keyakinan akan Penerimaan:** Bagian chorus lagu ini menekankan bahwa "Aku datang ke salib, aku bersandar pada salib-Mu," yang memberikan rasa aman bagi orang percaya bahwa mereka diterima apa adanya oleh Kristus.

### 4. Dampak Lagu Ini
Setelah William G. Fischer memberikan melodi yang sederhana namun khusyuk, lagu ini dengan cepat menyebar luas. Lagu ini menjadi salah satu "hymn" (pujian) paling populer dalam buku-buku nyanyian gereja Metodis dan kemudian diadopsi oleh berbagai denominasi di seluruh dunia.

Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan dengan judul **"Ku Mengungsi ke Salib"** dan tetap menjadi lagu klasik yang sering dinyanyikan dalam ibadah-ibadah yang menekankan pertobatan dan penyerahan diri.

### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah pengingat bahwa kebangunan rohani yang sejati selalu dimulai dengan **penyerahan diri**. William McDonald dan William G. Fischer tidak bermaksud menciptakan karya seni yang megah, melainkan sebuah doa yang dinyanyikan. Hingga hari ini, lagu ini tetap relevan karena pesannya yang universal: bahwa di tengah kelemahan, setiap orang selalu memiliki tempat untuk "mengungsi" dan menemukan pemulihan, yaitu di kaki salib Kristus.

Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.