NP
Suara Yesus Berkumandang
Jesus Calls Us o'er the Tumult
142
Nomor
Kode
NP 142
Buku
Nyanyian Pujian
Tematik
Pekerjaan Allah, Undangan dan Penerimaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
William H. Jude
Pencipta Syair
Cecil Frances Alexander
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
Suara Yesus berkumandang
Di tengah keributan:
"Mari ikutilah Aku!"
Itu panggilan Tuhan.
2
Suara Yesus berkumandang
Bagi yang mendewakan
Harta atau kesenangan:
"Kasih hanya kan Tuhan!"
3
Waktu kami memuaskan
Hawa nafsu dunia,
Suara Yesus mengingatkan:
"Yang utama, Akulah."
4
Ya Almasih, panggilanMu
Akan kami indahkan,
Membaktikan hidup kami,
Kasih hanya kan Tuhan.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Suara Yesus Berkumandang"** (dalam bahasa Inggris berjudul *"Jesus Calls Us o'er the Tumult"*) adalah salah satu himne (lagu pujian) Kristen yang paling dicintai di dunia. Di balik liriknya yang menenangkan, terdapat kisah tentang perenungan mendalam mengenai panggilan hidup dan prioritas spiritual di tengah dunia yang bising.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: Cecil Frances Alexander
Lirik lagu ini ditulis oleh **Cecil Frances Alexander** (1818β1895), seorang penyair Irlandia yang sangat produktif dalam menulis lagu-lagu rohani. Ia terkenal karena kemampuannya menulis lirik yang sederhana namun sangat mendalam (ia juga menulis *βOnce in Royal Davidβs Cityβ*).
Lirik ini ditulis pada tahun **1852**. Latar belakang penulisan lagu ini didasarkan pada kisah di Alkitab dalam **Matius 4:18-22**, yakni saat Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertamaβSimon Petrus dan Andreasβyang sedang menjala ikan di Danau Galilea.
### 2. Makna Lirik: "Di Tengah Keriuhan Dunia"
Judul asli bahasa Inggrisnya, *"Jesus Calls Us o'er the Tumult"*, menggunakan kata *βtumultβ* (keributan/kekacauan). Cecil Frances Alexander ingin menggambarkan bahwa hidup manusia sering kali penuh dengan suara-suara yang mengganggu: ambisi duniawi, kecemasan, kesibukan, dan "kebisingan" masalah hidup.
Dalam liriknya, ia menekankan tiga hal utama:
* **Panggilan yang Menembus:** Di tengah kekacauan dunia, suara Yesus tetap terdengar lembut namun tegas memanggil.
* **Daya Tarik Duniawi:** Ia mengakui bahwa sering kali hal-hal duniawi (pekerjaan, keluarga, keinginan diri) menahan kita untuk mengikuti Yesus sepenuhnya.
* **Ketaatan:** Lagu ini adalah ajakan untuk meninggalkan "jala" (prioritas lama kita) dan mengutamakan Kristus di atas segalanya.
### 3. Komposisi Musik: William H. Jude
Meskipun liriknya ditulis pada 1852, melodi yang paling terkenal untuk lagu ini sekarang dikenal dengan nama **"GALILEE"**, yang diciptakan oleh **William Herbert Jude** (1851β1922).
William H. Jude adalah seorang organis, komposer, dan pengajar musik asal Inggris. Ia menciptakan melodi ini pada tahun **1887**. Melodi "GALILEE" dipilih karena nuansanya yang tenang, mengalir, namun memiliki kekuatan yang membangun, sangat kontras dengan kata "tumult" (keributan) yang disebutkan di awal lagu. Gabungan antara lirik Alexander dan musik Jude inilah yang membuat lagu ini menjadi klasik dan abadi.
### 4. Relevansi Lagu Ini
Lagu ini sering dinyanyikan dalam perayaan **Hari Raya Santo Andreas** (karena merujuk pada kisah pemanggilan Petrus dan Andreas), namun juga sangat populer dalam kebaktian umum karena pesan universalnya:
* **Panggilan bagi semua orang:** Lagu ini tidak hanya untuk para pendeta atau misionaris, tetapi untuk setiap orang Kristen dalam pekerjaan sehari-hari mereka.
* **Komitmen:** Bait terakhir lagu ini (dalam bahasa Inggris: *"Jesus, call us! by Thy mercies, Savior, make us hear Thy call..."*) adalah sebuah doa agar hati kita peka mendengar panggilan Tuhan di tengah dunia yang semakin bising.
### Kesimpulan
Kisah lagu ini bukan tentang peristiwa dramatis besar, melainkan tentang **keintiman spiritual**. Cecil Frances Alexander mengajak kita untuk sejenak berhenti, mengabaikan "keributan" dunia luar, dan memusatkan pendengaran kita pada satu suara yang paling penting: suara Yesus yang memanggil kita untuk melayani-Nya dengan kasih dan ketaatan.
Di Indonesia, lagu ini masuk dalam **Kidung Jemaat nomor 369**, dengan terjemahan yang tetap mempertahankan semangat aslinya: mengajak umat untuk tidak membiarkan dunia menghalangi langkah mereka mengikuti Yesus.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: Cecil Frances Alexander
Lirik lagu ini ditulis oleh **Cecil Frances Alexander** (1818β1895), seorang penyair Irlandia yang sangat produktif dalam menulis lagu-lagu rohani. Ia terkenal karena kemampuannya menulis lirik yang sederhana namun sangat mendalam (ia juga menulis *βOnce in Royal Davidβs Cityβ*).
Lirik ini ditulis pada tahun **1852**. Latar belakang penulisan lagu ini didasarkan pada kisah di Alkitab dalam **Matius 4:18-22**, yakni saat Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertamaβSimon Petrus dan Andreasβyang sedang menjala ikan di Danau Galilea.
### 2. Makna Lirik: "Di Tengah Keriuhan Dunia"
Judul asli bahasa Inggrisnya, *"Jesus Calls Us o'er the Tumult"*, menggunakan kata *βtumultβ* (keributan/kekacauan). Cecil Frances Alexander ingin menggambarkan bahwa hidup manusia sering kali penuh dengan suara-suara yang mengganggu: ambisi duniawi, kecemasan, kesibukan, dan "kebisingan" masalah hidup.
Dalam liriknya, ia menekankan tiga hal utama:
* **Panggilan yang Menembus:** Di tengah kekacauan dunia, suara Yesus tetap terdengar lembut namun tegas memanggil.
* **Daya Tarik Duniawi:** Ia mengakui bahwa sering kali hal-hal duniawi (pekerjaan, keluarga, keinginan diri) menahan kita untuk mengikuti Yesus sepenuhnya.
* **Ketaatan:** Lagu ini adalah ajakan untuk meninggalkan "jala" (prioritas lama kita) dan mengutamakan Kristus di atas segalanya.
### 3. Komposisi Musik: William H. Jude
Meskipun liriknya ditulis pada 1852, melodi yang paling terkenal untuk lagu ini sekarang dikenal dengan nama **"GALILEE"**, yang diciptakan oleh **William Herbert Jude** (1851β1922).
William H. Jude adalah seorang organis, komposer, dan pengajar musik asal Inggris. Ia menciptakan melodi ini pada tahun **1887**. Melodi "GALILEE" dipilih karena nuansanya yang tenang, mengalir, namun memiliki kekuatan yang membangun, sangat kontras dengan kata "tumult" (keributan) yang disebutkan di awal lagu. Gabungan antara lirik Alexander dan musik Jude inilah yang membuat lagu ini menjadi klasik dan abadi.
### 4. Relevansi Lagu Ini
Lagu ini sering dinyanyikan dalam perayaan **Hari Raya Santo Andreas** (karena merujuk pada kisah pemanggilan Petrus dan Andreas), namun juga sangat populer dalam kebaktian umum karena pesan universalnya:
* **Panggilan bagi semua orang:** Lagu ini tidak hanya untuk para pendeta atau misionaris, tetapi untuk setiap orang Kristen dalam pekerjaan sehari-hari mereka.
* **Komitmen:** Bait terakhir lagu ini (dalam bahasa Inggris: *"Jesus, call us! by Thy mercies, Savior, make us hear Thy call..."*) adalah sebuah doa agar hati kita peka mendengar panggilan Tuhan di tengah dunia yang semakin bising.
### Kesimpulan
Kisah lagu ini bukan tentang peristiwa dramatis besar, melainkan tentang **keintiman spiritual**. Cecil Frances Alexander mengajak kita untuk sejenak berhenti, mengabaikan "keributan" dunia luar, dan memusatkan pendengaran kita pada satu suara yang paling penting: suara Yesus yang memanggil kita untuk melayani-Nya dengan kasih dan ketaatan.
Di Indonesia, lagu ini masuk dalam **Kidung Jemaat nomor 369**, dengan terjemahan yang tetap mempertahankan semangat aslinya: mengajak umat untuk tidak membiarkan dunia menghalangi langkah mereka mengikuti Yesus.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
133
Mari Masuk Hatiku
134
Jadikan Yesus Tuhanmu
135
Hai Orang yang Penuh Dosa
136
Sebagaimana Adaku
137
Mari Barangsiapa Mau
138
Sungguh Lembut Suara Yesus
139
Yesus MemanggilMu
140
Ku Suka Hidup BagiMu
141
Kudengar Yesus Memanggil
143
Mengikut Yesus Keputusanku
144
Pandanglah pada Yesus
145
Engkau Kudoakan
146
Sambutlah!
147
Dosamu Dihapuskan