KPJ
Para Jalmi, Giranga
A Toi la Gloire
238
Nomor
Do=E
Nada Dasar
Kode
KPJ 238
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Tematik
Kidung Natal
Nada Dasar
Do=E
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Pencipta Lagu
Georg Friedrich Handel (1747)
Pencipta Syair
Edmond Budry (1884)
Cross Ref.
KLIK 327, KJ 194
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
1
Para jalmi, giranga,mujia, pramudita
Ratu nira wus prapta jumeneng Ratu salam.
para jalmi, giranga, mujia, pramudita.
2
Kaluhurna kang Putra, kekasihing kang Rama,
mbangun karatonira, jumeneng Ratu Mulya.
Para jalmi, giranga, mujia, pramudita.
3
Kamulyakna Pamarta, kang rawuh ing pra umat,
Pambirating duraka, jumeneng Juruslamet.
Para jalmi, giranga, mujia, pramudita.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
3 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu pujian (hymne) yang kita kenal dengan judul **"Dikau, Yang Bangkit, Mahamulia"** (dalam bahasa Inggris berjudul *"Thine Be the Glory"*, dan aslinya dalam bahasa Prancis *"Γ Toi la Gloire"*) adalah sebuah mahakarya yang menyatukan melodi agung dari abad ke-18 dengan lirik penuh pengharapan dari abad ke-19.
Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Musik: Warisan Georg Friedrich HΓ€ndel (1747)
Melodi yang digunakan dalam lagu ini tidak diciptakan khusus untuk pujian gerejawi, melainkan diambil dari oratorio karya **Georg Friedrich HΓ€ndel** berjudul ***Judas Maccabaeus*** yang disusun pada tahun 1746 dan pertama kali dipentaskan pada tahun 1747.
* **Konteks Asli:** HΓ€ndel menulis melodi ini untuk paduan suara (chorus) berjudul *"See, the Conquering Hero Comes"*. Lagu ini dikomposisi untuk merayakan kemenangan militer Pangeran William, Adipati Cumberland, yang kembali ke London setelah mengalahkan pemberontakan Jacobite dalam Pertempuran Culloden (1746).
* **Karakter Melodi:** Melodi ini sangat megah, bersifat kemenangan (triumphant), dan membangkitkan semangat. Karena sifatnya yang sangat "menang" inilah, melodi ini kemudian diadaptasi ke berbagai konteks, termasuk upacara penyambutan pahlawan di masa lalu.
### 2. Lirik: Edmond Budry dan Tragedi Pribadi (1884)
Dua ratus tahun kemudian, seorang pendeta Swiss bernama **Edmond Budry** (1854β1932) merasa membutuhkan sebuah nyanyian untuk merayakan kemenangan kebangkitan Kristus yang lebih mendalam daripada lagu-lagu paskah yang ada saat itu.
* **Latar Belakang Budry:** Budry tinggal di kota Vevey, Swiss. Ia adalah seorang pria yang hidup dalam bayang-bayang kesedihan pribadi. Istri pertamanya meninggal dunia hanya setahun setelah mereka menikah.
* **Proses Penulisan:** Pada tahun 1884, Budry menulis lirik dalam bahasa Prancis, *"Γ Toi la Gloire"*. Ia terinspirasi oleh keyakinan mendalam bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah satu-satunya sumber pengharapan sejati di tengah dunia yang penuh dengan penderitaan, dukacita, dan kematian.
* **Tujuan:** Budry ingin menekankan bahwa kemenangan Kristus bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan sebuah realitas yang menaklukkan ketakutan manusia akan kematian. Melodi HΓ€ndel dipilih karena ritmenya yang tegak dan jaya sangat cocok untuk menggambarkan Kristus sebagai "Pahlawan yang Menang" atas maut.
### 3. Penyatuan Melodi dan Lirik
Lagu ini tidak langsung mendunia. Baru pada tahun 1923, lirik bahasa Prancis karya Budry diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh **Richard Birch Hoyle**. Hoyle diminta untuk menerjemahkannya saat ia sedang menghadiri konferensi YMCA di Jenewa.
Ketika lirik tersebut dipadukan dengan melodi HΓ€ndel, hasilnya luar biasa. Nyanyian ini segera menjadi salah satu lagu Paskah yang paling populer di dunia karena:
* **Struktur Musik:** Melodi HΓ€ndel yang berbaris (march-like) memberikan nuansa kemenangan yang megah.
* **Pesan Teologis:** Liriknya dengan jelas menceritakan kisah kebangkitan (Kristus bangkit, maut dikalahkan, hidup kekal dijanjikan) dengan gaya yang sangat puitis namun tegar.
### Makna di Balik "Dikau, Yang Bangkit"
Dalam versi bahasa Indonesia maupun bahasa lainnya, lagu ini berfungsi sebagai **proklamasi kemenangan**.
* Liriknya mengajak jemaat untuk tidak lagi takut akan "kubur" karena Kristus telah membukanya.
* Lagu ini sering dinyanyikan di banyak negara pada hari Minggu Paskah karena melodi "pemenang" HΓ€ndel sangat efektif dalam membangkitkan suasana sukacita setelah masa refleksi (Prapaskah).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini adalah perjalanan dari sebuah lagu penyambutan pahlawan perang di London (HΓ€ndel) yang kemudian "ditebus" dan disucikan menjadi sebuah hymne kebangkitan Kristus oleh seorang pendeta yang telah mengalami duka mendalam (Budry). Lagu ini menjadi pengingat bahwa bagi umat Kristen, "Pahlawan" yang paling agung bukanlah seorang komandan militer, melainkan Yesus Kristus yang telah mengalahkan musuh terbesar manusia: **Kematian.**
Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Musik: Warisan Georg Friedrich HΓ€ndel (1747)
Melodi yang digunakan dalam lagu ini tidak diciptakan khusus untuk pujian gerejawi, melainkan diambil dari oratorio karya **Georg Friedrich HΓ€ndel** berjudul ***Judas Maccabaeus*** yang disusun pada tahun 1746 dan pertama kali dipentaskan pada tahun 1747.
* **Konteks Asli:** HΓ€ndel menulis melodi ini untuk paduan suara (chorus) berjudul *"See, the Conquering Hero Comes"*. Lagu ini dikomposisi untuk merayakan kemenangan militer Pangeran William, Adipati Cumberland, yang kembali ke London setelah mengalahkan pemberontakan Jacobite dalam Pertempuran Culloden (1746).
* **Karakter Melodi:** Melodi ini sangat megah, bersifat kemenangan (triumphant), dan membangkitkan semangat. Karena sifatnya yang sangat "menang" inilah, melodi ini kemudian diadaptasi ke berbagai konteks, termasuk upacara penyambutan pahlawan di masa lalu.
### 2. Lirik: Edmond Budry dan Tragedi Pribadi (1884)
Dua ratus tahun kemudian, seorang pendeta Swiss bernama **Edmond Budry** (1854β1932) merasa membutuhkan sebuah nyanyian untuk merayakan kemenangan kebangkitan Kristus yang lebih mendalam daripada lagu-lagu paskah yang ada saat itu.
* **Latar Belakang Budry:** Budry tinggal di kota Vevey, Swiss. Ia adalah seorang pria yang hidup dalam bayang-bayang kesedihan pribadi. Istri pertamanya meninggal dunia hanya setahun setelah mereka menikah.
* **Proses Penulisan:** Pada tahun 1884, Budry menulis lirik dalam bahasa Prancis, *"Γ Toi la Gloire"*. Ia terinspirasi oleh keyakinan mendalam bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah satu-satunya sumber pengharapan sejati di tengah dunia yang penuh dengan penderitaan, dukacita, dan kematian.
* **Tujuan:** Budry ingin menekankan bahwa kemenangan Kristus bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan sebuah realitas yang menaklukkan ketakutan manusia akan kematian. Melodi HΓ€ndel dipilih karena ritmenya yang tegak dan jaya sangat cocok untuk menggambarkan Kristus sebagai "Pahlawan yang Menang" atas maut.
### 3. Penyatuan Melodi dan Lirik
Lagu ini tidak langsung mendunia. Baru pada tahun 1923, lirik bahasa Prancis karya Budry diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh **Richard Birch Hoyle**. Hoyle diminta untuk menerjemahkannya saat ia sedang menghadiri konferensi YMCA di Jenewa.
Ketika lirik tersebut dipadukan dengan melodi HΓ€ndel, hasilnya luar biasa. Nyanyian ini segera menjadi salah satu lagu Paskah yang paling populer di dunia karena:
* **Struktur Musik:** Melodi HΓ€ndel yang berbaris (march-like) memberikan nuansa kemenangan yang megah.
* **Pesan Teologis:** Liriknya dengan jelas menceritakan kisah kebangkitan (Kristus bangkit, maut dikalahkan, hidup kekal dijanjikan) dengan gaya yang sangat puitis namun tegar.
### Makna di Balik "Dikau, Yang Bangkit"
Dalam versi bahasa Indonesia maupun bahasa lainnya, lagu ini berfungsi sebagai **proklamasi kemenangan**.
* Liriknya mengajak jemaat untuk tidak lagi takut akan "kubur" karena Kristus telah membukanya.
* Lagu ini sering dinyanyikan di banyak negara pada hari Minggu Paskah karena melodi "pemenang" HΓ€ndel sangat efektif dalam membangkitkan suasana sukacita setelah masa refleksi (Prapaskah).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini adalah perjalanan dari sebuah lagu penyambutan pahlawan perang di London (HΓ€ndel) yang kemudian "ditebus" dan disucikan menjadi sebuah hymne kebangkitan Kristus oleh seorang pendeta yang telah mengalami duka mendalam (Budry). Lagu ini menjadi pengingat bahwa bagi umat Kristen, "Pahlawan" yang paling agung bukanlah seorang komandan militer, melainkan Yesus Kristus yang telah mengalahkan musuh terbesar manusia: **Kematian.**
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
Tema :
Kidung Natal
212
Aku Mbok Caritanana
213
Allah Ngesorken Srira
214
Aneng Pamakanan
215
Aneng Salumahing Bumi
216
Betlehem Ing Efrata
217
Dalu Santi
218
Dalu Suci
219
Daweg Ta Kanca Kula
220
Dinten Natal Dineten Adi
221
Duk Bumi Kinemulan Ratri
222
Dumeling Kapyarsa
223
Gumebyar!
224
Gusti, Rama Ing Swarga
225
Haleluya! Yesus Kristus
226
Hosiana, Gustiku
227
Iba Endah Cahyeng Ratri
228
Ing Betlehem Kang Tan Aji
229
Kabingahan Kang Sejati
230
Kabingahan Kang Sejati
231
Kadospundi, Dhuh Gusti
232
Kamulyakna
233
Kanca Agiyaka
234
Kaprungu Swara Gumyak
235
Lintang Wetan
236
Linuhurna! Gusti Pamarta
237
Nyawaku Muji Allah
239
Pinuji Tansah
240
Para Pangon Kang Winartanan
241
Ratu Mulya
242
Rawuha Sang Imanuel
243
Sabumi Padha Suraka
244
Sajroning Pepeteng
245
Sang Pepadhang Sejati
246
Sang Ratu Adil Sejati
247
Sugeng Rawuh, Gusti
248
Tan Ana Cahya Mulya