KPJ
Pinuji Allah
25
Nomor
Do=Bes
Nada Dasar
Kode
KPJ 25
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Tematik
Kidung Pamuji
Nada Dasar
Do=Bes
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
88
Jumlah Bait
4 bait
Pencipta Lagu
Kitab Nyanyian Belanda (1806)
Pencipta Syair
Pierre Daniel Huet (1761)
Cross Ref.
KJ 243, KK 336, NR 8, KPKA 17, KPK 117
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
Pinuji Allah, Sang Rama
kang nitahken jagad raya,
wah tansah ngupakara srana
rendheng lan ketiga,
nuwuhken panenan uga.
Samudaya tumata.
2
Pinuji Allah Sang Putra
kang nglanting sagung manungsa,
paring tentrem-raharja
sumrambah pra makiuk wrata,
luwar sing pangrêhing dosa,
wus binirat sadonya.
3
Pinujia Sang Roh Suci,
yéku kang nganyarken ati
dados burus sayekti,
temah rukun mring sesami,
suka ngrimat alam ugi,
bawana dadya adi.
4
Sang Rama saha Sang Putra
tetiga Ian sang Roh Suci
yéku Allah sawiji.
Samukawisnya sampurna,
awit saking pakaryannya.
Mila yogya pinuja.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
4 slide
Kisah di Balik Lagu
Kisah di balik lagu **"Haleluya! Terpujilah"** (dalam bahasa Prancis dikenal sebagai *AllΓ©luia! Louange Γ Dieu*) memiliki akar sejarah yang cukup panjang dan melibatkan tokoh-tokoh penting dalam tradisi musik gerejawi Eropa.
Untuk memahami lagu ini, kita harus membedah dua elemen utamanya: **teks (lirik)** dan **melodi**.
### 1. Sosok Pierre Daniel Huet
Pierre Daniel Huet (1630β1721) adalah seorang sarjana, teolog, dan uskup asal Prancis. Ia adalah sosok intelektual yang sangat dihormati pada masanya. Huet bukan sekadar penulis lagu; ia adalah seorang pemikir yang hidup di era di mana puisi dan musik gerejawi menjadi sarana untuk mengekspresikan kedalaman teologi Kristen.
Lirik lagu ini ditulis oleh Huet sebagai bentuk respons atau interpretasi atas kemegahan Mazmur, yang kemudian diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Belanda (*Liedboek voor de Kerken*).
### 2. Akar dalam Tradisi *Psautier de Genève*
Lagu ini sering dikaitkan dengan tradisi nyanyian Mazmur dari Jenewa (Genevan Psalter). Tradisi ini sangat kental dengan pengaruh **Jean Calvin**, yang menginginkan nyanyian gereja berfokus sepenuhnya pada isi Alkitab.
Meskipun lagu ini muncul dalam berbagai kumpulan nyanyian Belanda, esensi dari "Alleluia, Louange Γ Dieu" adalah sebuah himne pujian yang menggunakan struktur pengulangan (antifonal) untuk menekankan sukacita umat percaya. Dalam konteks Belanda, lagu ini sering muncul di dalam *Liedboek voor de Kerken* (Buku Nyanyian Gereja) yang merupakan hasil kompilasi para teolog dan musisi gereja Belanda untuk menyatukan umat melalui nyanyian yang teologis namun mudah dinyanyikan.
### 3. Melodi dan Komposisi
Melodi lagu ini sering dikaitkan dengan gaya **Barok awal**. Ciri khas dari lagu ini adalah penggunaan kata "Haleluya" yang berulang. Dalam tradisi gereja, penggunaan "Haleluya" (Puji Tuhan) bukan sekadar kata, melainkan sebuah proklamasi kemenangan iman.
Secara musikal, lagu ini dibangun di atas ritme yang megah. Penggabungan antara lirik Huet yang puitis dan melodi yang kuat menciptakan nuansa:
* **Kekhidmatan:** Mewakili tradisi intelektual Huet.
* **Sukacita:** Mewakili semangat reformasi di Belanda yang ingin membuat jemaat aktif bernyanyi dengan penuh semangat.
### 4. Mengapa Lagu ini Penting dalam Konteks Belanda?
Di Belanda, lagu-lagu yang berasal dari tradisi Prancis (seperti karya Huet) sering kali diadaptasi untuk mengisi celah dalam ibadah Minggu. Lagu "Haleluya! Terpujilah" menjadi sangat populer karena:
1. **Teosentris:** Fokusnya adalah memuliakan Allah (sesuai dengan prinsip *Soli Deo Gloria*).
2. **Komunal:** Karena bentuknya yang berulang, jemaat sangat mudah menghafal dan menyanyikannya secara bersama-sama, menciptakan rasa persatuan dalam ibadah.
3. **Pewarisan Tradisi:** Dengan mengadaptasi karya Pierre Daniel Huet, gereja-gereja di Belanda ingin menunjukkan bahwa iman Kristen bersifat lintas batas (dari Prancis ke Belanda) dan berakar kuat pada sejarah gereja dunia.
### Ringkasan Makna
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **upaya para teolog masa lampau untuk menerjemahkan keagungan Tuhan ke dalam bahasa musik yang dapat diakses oleh jemaat biasa.** Pierre Daniel Huet memberikan "roh" melalui kata-katanya, sementara para komposer dalam tradisi gereja Belanda memberikan "tubuh" (melodi) agar pesan tersebut terus hidup dari generasi ke generasi.
Saat kita menyanyikan lagu ini, kita sebenarnya sedang menghubungkan diri kita dengan tradisi intelektual dan spiritual abad ke-17 di Eropa, di mana setiap nada dan kata dipilih dengan cermat untuk memastikan bahwa tidak ada kemuliaan lain selain bagi Allah semata.
Untuk memahami lagu ini, kita harus membedah dua elemen utamanya: **teks (lirik)** dan **melodi**.
### 1. Sosok Pierre Daniel Huet
Pierre Daniel Huet (1630β1721) adalah seorang sarjana, teolog, dan uskup asal Prancis. Ia adalah sosok intelektual yang sangat dihormati pada masanya. Huet bukan sekadar penulis lagu; ia adalah seorang pemikir yang hidup di era di mana puisi dan musik gerejawi menjadi sarana untuk mengekspresikan kedalaman teologi Kristen.
Lirik lagu ini ditulis oleh Huet sebagai bentuk respons atau interpretasi atas kemegahan Mazmur, yang kemudian diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Belanda (*Liedboek voor de Kerken*).
### 2. Akar dalam Tradisi *Psautier de Genève*
Lagu ini sering dikaitkan dengan tradisi nyanyian Mazmur dari Jenewa (Genevan Psalter). Tradisi ini sangat kental dengan pengaruh **Jean Calvin**, yang menginginkan nyanyian gereja berfokus sepenuhnya pada isi Alkitab.
Meskipun lagu ini muncul dalam berbagai kumpulan nyanyian Belanda, esensi dari "Alleluia, Louange Γ Dieu" adalah sebuah himne pujian yang menggunakan struktur pengulangan (antifonal) untuk menekankan sukacita umat percaya. Dalam konteks Belanda, lagu ini sering muncul di dalam *Liedboek voor de Kerken* (Buku Nyanyian Gereja) yang merupakan hasil kompilasi para teolog dan musisi gereja Belanda untuk menyatukan umat melalui nyanyian yang teologis namun mudah dinyanyikan.
### 3. Melodi dan Komposisi
Melodi lagu ini sering dikaitkan dengan gaya **Barok awal**. Ciri khas dari lagu ini adalah penggunaan kata "Haleluya" yang berulang. Dalam tradisi gereja, penggunaan "Haleluya" (Puji Tuhan) bukan sekadar kata, melainkan sebuah proklamasi kemenangan iman.
Secara musikal, lagu ini dibangun di atas ritme yang megah. Penggabungan antara lirik Huet yang puitis dan melodi yang kuat menciptakan nuansa:
* **Kekhidmatan:** Mewakili tradisi intelektual Huet.
* **Sukacita:** Mewakili semangat reformasi di Belanda yang ingin membuat jemaat aktif bernyanyi dengan penuh semangat.
### 4. Mengapa Lagu ini Penting dalam Konteks Belanda?
Di Belanda, lagu-lagu yang berasal dari tradisi Prancis (seperti karya Huet) sering kali diadaptasi untuk mengisi celah dalam ibadah Minggu. Lagu "Haleluya! Terpujilah" menjadi sangat populer karena:
1. **Teosentris:** Fokusnya adalah memuliakan Allah (sesuai dengan prinsip *Soli Deo Gloria*).
2. **Komunal:** Karena bentuknya yang berulang, jemaat sangat mudah menghafal dan menyanyikannya secara bersama-sama, menciptakan rasa persatuan dalam ibadah.
3. **Pewarisan Tradisi:** Dengan mengadaptasi karya Pierre Daniel Huet, gereja-gereja di Belanda ingin menunjukkan bahwa iman Kristen bersifat lintas batas (dari Prancis ke Belanda) dan berakar kuat pada sejarah gereja dunia.
### Ringkasan Makna
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **upaya para teolog masa lampau untuk menerjemahkan keagungan Tuhan ke dalam bahasa musik yang dapat diakses oleh jemaat biasa.** Pierre Daniel Huet memberikan "roh" melalui kata-katanya, sementara para komposer dalam tradisi gereja Belanda memberikan "tubuh" (melodi) agar pesan tersebut terus hidup dari generasi ke generasi.
Saat kita menyanyikan lagu ini, kita sebenarnya sedang menghubungkan diri kita dengan tradisi intelektual dan spiritual abad ke-17 di Eropa, di mana setiap nada dan kata dipilih dengan cermat untuk memastikan bahwa tidak ada kemuliaan lain selain bagi Allah semata.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
KJ 243, KK 336, NR 8, KPKA 17, KPK 117
243
Haleluya! Terpujilah
336
Haleluya! Terpujilah
117
Pamuji Konjuk ing Allah
17
Pamuji Konjuk Mring Allah
8
Haleluya, Hai Pujilah
Tema :
Kidung Pamuji
1
Allah Iku Mahakwasa
2
Allah Mahasuci
3
Allah Mbabarken Kwasanya
4
Dhuh Nyawaku, Sira Saosa Puji
5
Dhuh Pang'ran
6
Gusti Kang Murbeng Dumadi
7
Gusti, Kawula Sowan
8
Haleluya
9
He, Sarupaning Pra Umat
10
He Wong Salumahing Bumi
11
Kula Ngaturken Sembah
12
Kula Sami Kekempalan
12
Kula Sami Kekempalan
13
Kula Sami Sowan
14
Kula Samya Tetunggilan
15
Kula Tumenga Mring Gusti
16
Langit Tansah Nyariyosken
17
Mugi Rawuha, Dhuh Gusti!
18
Nyawaku, Pujinen Allah!
19
Pamuji Konjuk Gusti
20
Pangeran Mamulya
21
Para Titah Sadaya Samya Ngrepekna
22
Puji Konjuk Allah Rama
23
Puji Mring Allah
24
Pinujia Gusti Allah
26
Pinuji Gusti
27
Sakehing Titah Ing Bumi
28
Suci, Suci, Suci
29
Sumangga Sowan Gusti
30
Swawi Pra Kadang
31
Swawi Pra Suci Nyawiji
32
Swawi Sami Muji Allah
33
Swawi Ta Kanca Kula
34
Ulukna Pamuji