KPKA
Pamuji Konjuk Mring Allah
17
Nomor
Kode
KPKA 17
Buku
Kidung Pasamuwan Kristen Anyar
Tematik
Pamuji
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 243, KK 336, NR 8, KPK 117
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
Pinuji Allah Sang Rama kang nitahken. jagad raya
wah tansah nglestantuna sung mangsa jawah ketiga
nenanem panenan uga alam runtut tinata.
2
Pinuji Allah Sang Putra kang nylametken gung manungsa
paring tentrem raharja sumrambah pra makluk wrata
luwar sing pangrehing dosa dadya Pirdus sadonya.
3
Pinujia Sang Roh Suci yeku kang nganyarken ati
temah mursid sayekti nggih rukun klayan sesami
wah asih mring alam ugi bawana ayu edi.
4
Dhuh Rama, Putra, Roh Suci tetiga tunggil Hyang Widi
pinujia pinundhi samukawisnya sampurna
krana pakaryan Paduka Dhuh Gusti "maranatha".
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
4 slide
Kisah di Balik Lagu
Kisah di balik lagu **"Haleluya! Terpujilah"** (dalam bahasa Prancis dikenal sebagai *AllΓ©luia! Louange Γ Dieu*) memiliki akar sejarah yang cukup panjang dan melibatkan tokoh-tokoh penting dalam tradisi musik gerejawi Eropa.
Untuk memahami lagu ini, kita harus membedah dua elemen utamanya: **teks (lirik)** dan **melodi**.
### 1. Sosok Pierre Daniel Huet
Pierre Daniel Huet (1630β1721) adalah seorang sarjana, teolog, dan uskup asal Prancis. Ia adalah sosok intelektual yang sangat dihormati pada masanya. Huet bukan sekadar penulis lagu; ia adalah seorang pemikir yang hidup di era di mana puisi dan musik gerejawi menjadi sarana untuk mengekspresikan kedalaman teologi Kristen.
Lirik lagu ini ditulis oleh Huet sebagai bentuk respons atau interpretasi atas kemegahan Mazmur, yang kemudian diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Belanda (*Liedboek voor de Kerken*).
### 2. Akar dalam Tradisi *Psautier de Genève*
Lagu ini sering dikaitkan dengan tradisi nyanyian Mazmur dari Jenewa (Genevan Psalter). Tradisi ini sangat kental dengan pengaruh **Jean Calvin**, yang menginginkan nyanyian gereja berfokus sepenuhnya pada isi Alkitab.
Meskipun lagu ini muncul dalam berbagai kumpulan nyanyian Belanda, esensi dari "Alleluia, Louange Γ Dieu" adalah sebuah himne pujian yang menggunakan struktur pengulangan (antifonal) untuk menekankan sukacita umat percaya. Dalam konteks Belanda, lagu ini sering muncul di dalam *Liedboek voor de Kerken* (Buku Nyanyian Gereja) yang merupakan hasil kompilasi para teolog dan musisi gereja Belanda untuk menyatukan umat melalui nyanyian yang teologis namun mudah dinyanyikan.
### 3. Melodi dan Komposisi
Melodi lagu ini sering dikaitkan dengan gaya **Barok awal**. Ciri khas dari lagu ini adalah penggunaan kata "Haleluya" yang berulang. Dalam tradisi gereja, penggunaan "Haleluya" (Puji Tuhan) bukan sekadar kata, melainkan sebuah proklamasi kemenangan iman.
Secara musikal, lagu ini dibangun di atas ritme yang megah. Penggabungan antara lirik Huet yang puitis dan melodi yang kuat menciptakan nuansa:
* **Kekhidmatan:** Mewakili tradisi intelektual Huet.
* **Sukacita:** Mewakili semangat reformasi di Belanda yang ingin membuat jemaat aktif bernyanyi dengan penuh semangat.
### 4. Mengapa Lagu ini Penting dalam Konteks Belanda?
Di Belanda, lagu-lagu yang berasal dari tradisi Prancis (seperti karya Huet) sering kali diadaptasi untuk mengisi celah dalam ibadah Minggu. Lagu "Haleluya! Terpujilah" menjadi sangat populer karena:
1. **Teosentris:** Fokusnya adalah memuliakan Allah (sesuai dengan prinsip *Soli Deo Gloria*).
2. **Komunal:** Karena bentuknya yang berulang, jemaat sangat mudah menghafal dan menyanyikannya secara bersama-sama, menciptakan rasa persatuan dalam ibadah.
3. **Pewarisan Tradisi:** Dengan mengadaptasi karya Pierre Daniel Huet, gereja-gereja di Belanda ingin menunjukkan bahwa iman Kristen bersifat lintas batas (dari Prancis ke Belanda) dan berakar kuat pada sejarah gereja dunia.
### Ringkasan Makna
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **upaya para teolog masa lampau untuk menerjemahkan keagungan Tuhan ke dalam bahasa musik yang dapat diakses oleh jemaat biasa.** Pierre Daniel Huet memberikan "roh" melalui kata-katanya, sementara para komposer dalam tradisi gereja Belanda memberikan "tubuh" (melodi) agar pesan tersebut terus hidup dari generasi ke generasi.
Saat kita menyanyikan lagu ini, kita sebenarnya sedang menghubungkan diri kita dengan tradisi intelektual dan spiritual abad ke-17 di Eropa, di mana setiap nada dan kata dipilih dengan cermat untuk memastikan bahwa tidak ada kemuliaan lain selain bagi Allah semata.
Untuk memahami lagu ini, kita harus membedah dua elemen utamanya: **teks (lirik)** dan **melodi**.
### 1. Sosok Pierre Daniel Huet
Pierre Daniel Huet (1630β1721) adalah seorang sarjana, teolog, dan uskup asal Prancis. Ia adalah sosok intelektual yang sangat dihormati pada masanya. Huet bukan sekadar penulis lagu; ia adalah seorang pemikir yang hidup di era di mana puisi dan musik gerejawi menjadi sarana untuk mengekspresikan kedalaman teologi Kristen.
Lirik lagu ini ditulis oleh Huet sebagai bentuk respons atau interpretasi atas kemegahan Mazmur, yang kemudian diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Belanda (*Liedboek voor de Kerken*).
### 2. Akar dalam Tradisi *Psautier de Genève*
Lagu ini sering dikaitkan dengan tradisi nyanyian Mazmur dari Jenewa (Genevan Psalter). Tradisi ini sangat kental dengan pengaruh **Jean Calvin**, yang menginginkan nyanyian gereja berfokus sepenuhnya pada isi Alkitab.
Meskipun lagu ini muncul dalam berbagai kumpulan nyanyian Belanda, esensi dari "Alleluia, Louange Γ Dieu" adalah sebuah himne pujian yang menggunakan struktur pengulangan (antifonal) untuk menekankan sukacita umat percaya. Dalam konteks Belanda, lagu ini sering muncul di dalam *Liedboek voor de Kerken* (Buku Nyanyian Gereja) yang merupakan hasil kompilasi para teolog dan musisi gereja Belanda untuk menyatukan umat melalui nyanyian yang teologis namun mudah dinyanyikan.
### 3. Melodi dan Komposisi
Melodi lagu ini sering dikaitkan dengan gaya **Barok awal**. Ciri khas dari lagu ini adalah penggunaan kata "Haleluya" yang berulang. Dalam tradisi gereja, penggunaan "Haleluya" (Puji Tuhan) bukan sekadar kata, melainkan sebuah proklamasi kemenangan iman.
Secara musikal, lagu ini dibangun di atas ritme yang megah. Penggabungan antara lirik Huet yang puitis dan melodi yang kuat menciptakan nuansa:
* **Kekhidmatan:** Mewakili tradisi intelektual Huet.
* **Sukacita:** Mewakili semangat reformasi di Belanda yang ingin membuat jemaat aktif bernyanyi dengan penuh semangat.
### 4. Mengapa Lagu ini Penting dalam Konteks Belanda?
Di Belanda, lagu-lagu yang berasal dari tradisi Prancis (seperti karya Huet) sering kali diadaptasi untuk mengisi celah dalam ibadah Minggu. Lagu "Haleluya! Terpujilah" menjadi sangat populer karena:
1. **Teosentris:** Fokusnya adalah memuliakan Allah (sesuai dengan prinsip *Soli Deo Gloria*).
2. **Komunal:** Karena bentuknya yang berulang, jemaat sangat mudah menghafal dan menyanyikannya secara bersama-sama, menciptakan rasa persatuan dalam ibadah.
3. **Pewarisan Tradisi:** Dengan mengadaptasi karya Pierre Daniel Huet, gereja-gereja di Belanda ingin menunjukkan bahwa iman Kristen bersifat lintas batas (dari Prancis ke Belanda) dan berakar kuat pada sejarah gereja dunia.
### Ringkasan Makna
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **upaya para teolog masa lampau untuk menerjemahkan keagungan Tuhan ke dalam bahasa musik yang dapat diakses oleh jemaat biasa.** Pierre Daniel Huet memberikan "roh" melalui kata-katanya, sementara para komposer dalam tradisi gereja Belanda memberikan "tubuh" (melodi) agar pesan tersebut terus hidup dari generasi ke generasi.
Saat kita menyanyikan lagu ini, kita sebenarnya sedang menghubungkan diri kita dengan tradisi intelektual dan spiritual abad ke-17 di Eropa, di mana setiap nada dan kata dipilih dengan cermat untuk memastikan bahwa tidak ada kemuliaan lain selain bagi Allah semata.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
KJ 243, KK 336, NR 8, KPK 117
243
Haleluya! Terpujilah
336
Haleluya! Terpujilah
117
Pamuji Konjuk ing Allah
8
Haleluya, Hai Pujilah
Tema :
Pamuji
1
Allah Maha Kwasa
2
Allah Mbabarken Kwasanya
3
Gusti Allah Andel-Andel Sejati
4
Haleluya
5
Pamuji Konjuk Gusti
6
Pamuji Ing Pangibadah
7
Puji Konjuk Allah
8
Allah Maasih
9
Pamuji Konjuk Allah Ma Agung
10
Allahe Para Pracaya
11
Sih Kawelasanipun Allah
12
Yesus Sang Pangen Sejati
13
Aku Duwe Pamarta
14
Allah Maha Suci
15
Panggunggung Mring Pangeran
16
Puji Mring Allah Kang Maha Wisesa
18
Sih Kamirahanipun Allah
19
Angluhurken Allah
20
Panggunggung Konjuk Mring Pangeran
21
Palimirmanipun Allah
22
Kasampurnanipun Gusti
23
Tansah Saos Sokur Mring Gusti
24
Panggunggung Konjuk Mring Gusti
25
Ngabekti Mring Gusti
26
Puji Panuwun
27
Asmane Gusti Kula
28
Sowan Mring Gusti
29
Kamulyanipun Gusti
30
Pujinen Hyang Makwasa
31
Pinujia Allah
32
Sembah Bekti Konjuk Gusti
33
Sawernaning Puji
34
Sung Sembah Puja
35
Kamirahaning Gusti
36
Gusti Rawuha
37
Panggunggung Wit Sihing Gusti
38
Haleluya Puji Gusti
39
Kamulyaning Pangeran
40
Yehuwah Allah Kula