Bekasi, Cikarang & Karawang
121
Nomor
Kode
NKB 121
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Tematik
Pengakuan Iman
Metronom
0
Pencipta Lagu
Sangaraparanam
Pencipta Syair
D.T. Niles
Penerjemah
H.A. Pandopo
Cross Ref.
GB 204
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
1
Dialah Sahabatku paling akrab dan teguh; Dia ‘ku pegang selalu: Yesus Jurus’lamatku. Yesus Tuhanku, Dialah segalanya; dalam pergumulan dunia, Yesus Tuhanku!
2
Dialah Gembalaku yang memimpin langkahku Kawan seperjalananku di sepanjang hidupku. Yesus Tuhanku, Dialah segalanya; dalam pergumulan dunia, Yesus Tuhanku!
3
Bila badai menderu, Dia perlindunganku; bila sakit, bila susah, Dia Surya hidupku. Yesus Tuhanku, Dialah segalanya; dalam pergumulan dunia, Yesus Tuhanku!
4
Dia mengajariku maksud Allah bagiku: ikut mengabdikan diri dalam karya Tuhanku. Yesus Tuhanku, Dialah segalanya; dalam pergumulan dunia, Yesus Tuhanku!
5
Dialah tujuanku dalam perjuanganku; yang Ia mulai dalamku, digenapkanNya penuh.
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 121
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 6 slide
Slide 1 — NKB 121 1
Slide 2 — NKB 121 2
Slide 3 — NKB 121 3
Slide 4 — NKB 121 4
Slide 5 — NKB 121 5
Slide 6 — NKB 121 6
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Yesus Tuhanku, Dialah Segalanya"** (atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan judul *Christ Is All to Me*) adalah sebuah lagu rohani yang sangat mendalam, yang lahir dari pengalaman iman **D.T. Niles** (Daniel Thambirajah Niles), seorang teolog dan pemimpin gereja terkemuka dari Sri Lanka.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Sosok D.T. Niles
D.T. Niles (1908–1970) adalah sosok yang sangat dihormati di dunia kekristenan global. Ia bukan sekadar penulis lagu, melainkan seorang teolog yang aktif dalam gerakan ekumenis, menjabat sebagai sekretaris jenderal *East Asia Christian Conference*, dan merupakan salah satu tokoh yang mempopulerkan teologi yang kontekstual bagi Asia.

Ia dikenal dengan kutipannya yang sangat terkenal: *"Kristen adalah satu orang pengemis yang menceritakan kepada pengemis lain di mana ia menemukan roti."* Kutipan ini mencerminkan semangat hidupnya yang sederhana namun penuh dengan kesaksian akan kasih Kristus.

### 2. Latar Belakang Penulisan
Lagu ini ditulis oleh D.T. Niles pada sekitar tahun 1960-an. Saat itu, ia sedang bergumul dengan berbagai tantangan, baik secara pribadi maupun sebagai pemimpin gereja yang harus melayani di tengah dunia yang penuh pergolakan dan ketidakpastian politik di Asia.

Kisah di balik penciptaannya tidak didasarkan pada satu peristiwa tragis tertentu, melainkan pada **proses perenungan teologisnya**. Niles ingin menyusun sebuah lirik yang merangkum seluruh esensi dari kehidupan seorang Kristen. Ia ingin menyatakan bahwa di tengah dunia yang sering menawarkan "segala sesuatu" (duniawi), hanya Kristuslah yang menjadi substansi utama dari kehidupan.

### 3. Makna Lirik: "Kristus adalah Segalanya"
Lirik lagu ini adalah sebuah deklarasi iman yang bersifat personal namun universal. Niles merancang liriknya untuk menunjukkan bahwa posisi Kristus dalam hidup orang percaya tidak boleh bersifat sekunder atau tambahan, melainkan pusat dari segala aspek keberadaan:

* **Dalam keputusasaan:** Kristus adalah harapan.
* **Dalam kelemahan:** Kristus adalah kekuatan.
* **Dalam dunia yang berubah:** Kristus adalah dasar yang tidak tergoyahkan.

Secara teologis, Niles dipengaruhi oleh pemikiran teologi Reformed dan tradisi penginjilan yang kuat. Ia menekankan bahwa hubungan dengan Tuhan bukan soal ritual agama, melainkan hubungan pribadi di mana Yesus menjadi "sumber" dan "tujuan" (Alpha dan Omega).

### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Lagu ini menjadi salah satu lagu yang paling dicintai di banyak gereja di Asia karena beberapa alasan:

* **Kedalaman yang Sederhana:** Tidak banyak kata-kata yang rumit. Liriknya sangat jujur dan "telanjang," membuat setiap orang yang menyanyikannya merasa bahwa pengakuan tersebut adalah milik mereka sendiri.
* **Konteks Asia:** Sebagai orang Asia, Niles menulis lirik yang bisa diterima oleh jemaat dengan latar belakang budaya yang beragam. Lagu ini tidak terjebak dalam gaya musik Barat yang kaku, tetapi memiliki kerendahan hati yang khas dari tradisi gereja di Timur.
* **Penyerahan Diri:** Lagu ini sering digunakan dalam momen perjamuan kudus atau saat teduh karena sifatnya yang berupa doa penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah.

### 5. Warisan
Meskipun D.T. Niles telah tiada, karyanya melalui lagu ini tetap hidup. Lagu ini adalah bukti bahwa iman yang sejati tidak lahir dari teologi yang rumit di ruang kelas, melainkan dari pengenalan yang intim dengan pribadi Yesus di tengah kehidupan sehari-hari.

Dalam bahasa aslinya, lagu ini memiliki nada yang tenang, seperti sebuah bisikan doa yang khusyuk. Jika Anda menyanyikannya, bayangkan D.T. Niles sedang duduk di tengah kesibukannya mengurus gereja global, namun hatinya tetap tertuju pada satu titik fokus: bahwa di balik segala kesibukan dan tantangan dunia, **Yesus adalah segalanya.**

***

*Apakah Anda sedang mempelajari lagu ini untuk pelayanan atau refleksi pribadi? Liriknya yang fokus pada "Kristus sebagai pusat" selalu menjadi pengingat yang baik untuk kembali kepada dasar iman kita.*

Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.