Bekasi, Cikarang & Karawang
120
Nomor
Kode
NKB 120
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Tematik
Pengakuan Iman
Metronom
0
Pencipta Lagu
William B. Bradbury
Pencipta Syair
Edward Mote
Penerjemah
Lembaga Literatur Babtis
Cross Ref.
120
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
1
Tiada lain landasanku, hanyalah pada darahMu; tiada lain harapanku, ‘ku bersandarkan namaMu. Kristuslah Batu Karangku, di atas Dia ‘ku teguh; landasan lain hancur luluh.
2
Kasih karuniaMu tetap, meskipun jalanku gelap; kendati taufan menderu, tak akan karam jiwaku. Kristuslah Batu Karangku, di atas Dia ‘ku teguh; landasan lain hancur luluh.
3
Perjanjian dan darahMu menjadi dasar hidupku; walau segalanya rebah, Perlindunganku: Tuhanlah. Kristuslah Batu Karangku, di atas Dia ‘ku teguh; landasan lain hancur luluh.
4
Bila nafiri menderu, aku menghadap padaMu; dahulu kotor dan keji, olehMu ‘ku jadi bersih. Kristuslah Batu Karangku, di atas Dia ‘ku teguh; landasan lain hancur luluh.
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 120
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — NKB 120 1
Slide 2 — NKB 120 2
Slide 3 — NKB 120 3
Kisah di Balik Lagu
Lagu rohani klasik **"My Hope Is Built on Nothing Less"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Tiada Lain Landasanku"*) adalah salah satu himne paling berpengaruh dalam sejarah kekristenan. Lagu ini tidak hanya memiliki melodi yang indah, tetapi juga menyimpan kisah perjuangan pribadi dan iman yang mendalam dari penulisnya, **Edward Mote**.

Berikut adalah kisah di balik terciptanya lagu tersebut:

### 1. Masa Kecil yang Penuh Ketidakpastian
Edward Mote lahir pada tahun 1797 di London, Inggris. Masa kecilnya jauh dari kata ideal. Orang tuanya adalah pengelola sebuah kedai minuman (pub) yang tidak terlalu religius. Akibatnya, Mote tumbuh besar tanpa pendidikan agama yang layak. Ia bahkan tidak tahu apa itu Alkitab dan jarang sekali melangkahkan kaki ke dalam gereja.

Saat remaja, ia menjadi anak yang nakal dan kasar. Ia bekerja sebagai tukang kayu (sebuah profesi yang kelak ia jalani hingga usia lanjut). Perubahan besar dalam hidupnya terjadi ketika ia secara tidak sengaja mendengar khotbah dari seorang penginjil bernama John Hyatt. Pesan tersebut menyentuh hatinya begitu dalam hingga ia bertobat dan menyerahkan hidupnya kepada Kristus.

### 2. Inspirasi yang Muncul Saat Berjalan
Kisah penulisan lagu ini terjadi pada tahun 1834, ketika Mote sudah berusia 37 tahun dan bekerja sebagai tukang kayu di London.

Suatu pagi, saat ia sedang berjalan menuju tempat kerjanya, sebuah pikiran melintas di benaknya: *"Saya harus menulis lagu tentang dasar iman Kristen."* Sepanjang perjalanan itu, bait demi bait mulai tersusun di kepalanya. Begitu sampai di tempat kerja, ia segera menuliskan lirik tersebut di selembar kertas.

Awalnya, lagu ini berjudul **"The Immutable Basis of a Sinner’s Hope"** (Dasar yang Tidak Berubah dari Harapan Orang Berdosa). Mote menuliskan keyakinannya bahwa tidak ada hal lain—baik itu usaha manusia, harta, atau jabatan—yang bisa menjadi dasar keselamatan, selain dari "darah dan kebenaran Yesus Kristus."

### 3. Dari Catatan Kecil Menjadi Himne Abadi
Mote tidak menyangka bahwa catatan kecil yang ia buat akan menjadi warisan dunia. Ia kemudian membagikan lirik tersebut kepada pasangan suami istri yang merupakan sahabatnya, keluarga King, yang sedang sakit keras. Mereka sangat terhibur dengan lirik tersebut.

Mote kemudian menambahkan beberapa bait lagi hingga menjadi bentuk lagu yang kita kenal sekarang. Beberapa tahun kemudian, ia menerbitkan kumpulan lagu-lagu rohani, dan lagu ini termasuk di dalamnya.

### 4. Peran William B. Bradbury
Meskipun liriknya ditulis oleh Edward Mote, melodi yang kita kenal hari ini (yang sangat ikonik dengan repetisi *"On Christ the solid rock I stand"*) diciptakan oleh komposer ternama, **William B. Bradbury**, pada tahun 1863.

Bradbury adalah seorang musisi yang sangat produktif dalam menyusun lagu-lagu sekolah Minggu dan himne. Ia menggabungkan lirik Mote dengan melodi yang kuat dan megah, yang akhirnya membuat lagu ini bertahan selama berabad-abad dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

### Makna Mendalam dalam Liriknya
Lirik Mote mencerminkan teologi yang sangat kuat tentang *Sola Gratia* (hanya oleh kasih karunia):

* **Bait pertama:** *"My hope is built on nothing less than Jesus' blood and righteousness"* (Harapanku tak bersandar pada apa pun kecuali darah dan kebenaran Yesus). Ini adalah penolakan terhadap kesombongan diri atau perbuatan baik sebagai syarat keselamatan.
* **Reff (Chorus):** *"On Christ the solid rock I stand, all other ground is sinking sand"* (Di atas Kristus Batu Karang yang teguh, aku berdiri; semua landasan lain adalah pasir yang tenggelam).

### Akhir Hidup Edward Mote
Edward Mote akhirnya menjadi seorang pendeta di gereja baptis di Horsham, Inggris, selama 21 tahun. Ia melayani jemaatnya dengan penuh kasih hingga akhir hayatnya. Menjelang ajalnya, ia pernah berkata, *"Lagu-lagu yang saya tulis tidak akan pernah bisa menyelamatkan saya, hanya Kristus yang bisa."*

Ketika ia meninggal pada tahun 1874, pesan yang tertulis di batu nisannya sangat sederhana: **"Ia (Kristus) adalah harapanku."**

Hingga saat ini, lagu "Tiada Lain Landasanku" tetap menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa di tengah dunia yang tidak pasti, satu-satunya landasan yang tidak akan pernah goyah adalah iman kepada Yesus Kristus.

Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.