Bekasi, Cikarang & Karawang
241
Nomor
Kode
KK 241
Buku
Kidung Keesaan
Tematik
Jumat Agung
Metronom
0
Jumlah Bait
2 bait
Pencipta Lagu
Sitompul
Pencipta Syair
Siddik Sitompul
Penerjemah
Epafroditus Laurentius Pohan Shn (E.L. Pohan)
Cross Ref.
PKJ 84
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 2 bait
1
Tatkala Kau ëkan ditawan, tiada Engkau mau melawan. Hati remuk tak terpíri menerima cium keji. Tidak seorangpun kawan, murid semua menghilang, bagaikan domba kelu Kau ikuti penyiksaMu. Bagikulah Kau menyerah, membírikan nyawaMu. Kini jelas aku lepas dari beban dosaku.
2
Kau diludahi, dihina, Kau dipecut dan disiksa, muka terluka, lebam oleh duri tajuk kejam. Ya, Yesus karína dosaku akulah patut dipaku, namun kasihMu besar melepaskan aku cemar. Bagikulah Kau menyerah, membírikan nyawaMu. Kini jelas aku lepas dari beban dosaku.
Partitur / Not
Partitur Chord KK 241
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KK 241 1
Slide 2 — KK 241 2
Slide 3 — KK 241 3
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Tatkala 'Kau 'Kan Ditawan"** (dalam bahasa Batak Toba berjudul ***"Tu Golgota Ho Diboan"***) adalah salah satu lagu rohani yang paling mendalam dan menyentuh dalam khazanah lagu gerejawi di Indonesia, khususnya di kalangan masyarakat Batak.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Sosok Penulis: Siddik Sitompul
Lagu ini diciptakan oleh **Siddik Sitompul**. Beliau dikenal sebagai seorang komponis dan pelayan gereja yang memiliki talenta besar dalam menggubah lagu-lagu rohani yang puitis sekaligus teologis. Karya-karya beliau sering kali berfokus pada kasih Allah, penderitaan Kristus, dan pertobatan manusia.

### 2. Latar Belakang dan Makna Lagu
Kisah di balik lagu ini bukanlah sebuah peristiwa tragis yang spesifik menimpa penulisnya, melainkan sebuah **perenungan mendalam (kontemplasi)** tentang perjalanan sengsara Yesus Kristus (Jalan Salib).

* **Panggilan kepada Pendengar:** Lagu ini ditulis sebagai sebuah ajakan pribadi. Kata-kata "Kau 'kan ditawan" atau *"Tu Golgota ho diboan"* (Ke Golgota engkau dibawa) adalah cara penulis mengajak setiap orang Kristen untuk menempatkan diri mereka di posisi Yesus yang sedang memikul salib menuju Bukit Golgota.
* **Tema Penderitaan:** Lagu ini menggambarkan secara emosional bagaimana Yesus disiksa, dihina, dan akhirnya dipaku di kayu salib. Penulis ingin pembaca/pendengar merasakan betapa beratnya beban dosa manusia yang harus dipikul oleh Yesus.

### 3. Analisis Lirik (Bahasa Batak vs Bahasa Indonesia)
Judul asli bahasa Batak, ***"Tu Golgota Ho Diboan"***, memiliki makna yang sangat kuat:
* *"Tu Golgota"* (Ke Golgota)
* *"Ho Diboan"* (Engkau dibawa/dituntun).

Liriknya secara konsisten mengajak pendengar untuk merenungkan: "Mengapa Dia harus menderita demikian?" Jawaban yang diberikan dalam lagu tersebut adalah karena **cinta kasih yang tak terhingga** kepada manusia yang berdosa.

### 4. Mengapa Lagu ini Begitu Berkesan?
Ada beberapa alasan mengapa lagu ini tetap abadi di gereja-gereja (khususnya HKBP dan gereja Batak lainnya):

* **Melodi yang Melankolis:** Musik dalam lagu ini disusun dengan tempo lambat dan nada minor yang menyayat hati, sehingga sangat cocok dinyanyikan dalam ibadah Jumat Agung atau saat perjamuan kudus.
* **Sentuhan Emosional:** Lagu ini tidak hanya sekadar menceritakan sejarah, tetapi memaksa pendengar untuk berefleksi: *"Apakah aku sudah menghargai pengorbanan itu?"*
* **Kedalaman Teologis:** Siddik Sitompul berhasil merangkum inti ajaran Kristen mengenai penebusan dosa dalam lirik yang sederhana namun sangat puitis.

### 5. Relevansi Saat Ini
Meskipun zaman telah berubah, lagu ini tetap sering dinyanyikan karena pesannya yang universal tentang pengorbanan. Banyak orang Kristen merasakan "kehadiran" Tuhan saat menyanyikan lagu ini, terutama ketika mereka merasa sedang mengalami pergumulan hidup yang berat. Lagu ini mengingatkan bahwa jika Tuhan saja mau menempuh jalan penderitaan menuju Golgota demi manusia, maka manusia pun harus mampu menghadapi beban hidupnya dengan iman.

**Kesimpulan:**
Kisah di balik *Tatka' 'Kau 'Kan Ditawan* adalah kisah tentang **"cinta yang berkorban"**. Siddik Sitompul tidak menulisnya sebagai sebuah narasi sejarah belaka, melainkan sebagai sebuah undangan rohani agar setiap orang Kristen ikut merasakan "perjalanan" Yesus ke kayu salib dan menyadari bahwa pengorbanan itulah yang memberikan kehidupan bagi umat manusia.

Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.