KK
Kasihanilah, Ya Tuhan
Nun, Gusti Nu Sipat Murah
76
Nomor
la=f
Nada Dasar
Kode
KK 76
Buku
Kidung Keesaan
Tematik
Pengakuan dan Pengampunan Dosa
Nada Dasar
la=f
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
72
Pencipta Lagu
Adrianus Djalimun
Pencipta Syair
Adrianus Djalimun
Penerjemah
Wahono Hadi
Cross Ref.
KKb 38
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
Kasihanilah, ya Tuhan, dan ampunilah diriku.
Hapuslah pelanggaranku, karna rahmat-Mu yang besar.
Sucikan, tahirkan aku, ya Tuhan.Sucikan, tahirkan aku, ya Tuhan.
Tuhan, bebaskan aku dari dosaku.
2
Aku sadar penuh cela dan bergumul penuh sesal.
Ku berdosa terhadap-Mu, melakukan yang tak benar.
Ampuni diriku, o, ampunilah.Ampuni diriku, o, ampunilah.
Karena sungguh adil keputusan-Mu.
3
Dalam dosa penuh cemar aku dikandung ibuku.
Namun Kau slalu berkenan kebenaran di batinku.
Sucikan, tahirkan aku, ya Tuhan.Sucikan, tahirkan aku, ya Tuhan.
Basuh aku, ya Tuhan, hingga ku bersih.
4
Biarlah aku mendengar sukacita dan bergemar.
Biarlah tulang yang remuk kan bersorak dengan senang.
Ya Tuhan, hapuslah kesalahanku.Ya Tuhan, hapuslah kesalahanku.
Palingkanlah wajah-Mu dari dosaku.
Syair: Nun, Gusti nu Sipat Murah, Adrianus Djalimun, 1979,
berdasarkan Mazmur 51:3-10,
saduran Abdhi Khristianta Samuel, 2014/2017, revisi Wahono Hadi, 2019
Lagu: Adrianus Djalimun, 1979
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
4 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Kasihanilah, Ya Tuhan"** (atau dalam bahasa Sunda dikenal dengan judul **"Nun, Gusti Nu Sipat Murah"**) adalah salah satu lagu liturgi yang sangat ikonik dalam Gereja Katolik di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat dan lingkup budaya Sunda.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat sosok **Adrianus Djalimun** dan konteks inkulturasi Gereja Katolik di tanah Sunda pada pertengahan abad ke-20.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Sosok Adrianus Djalimun
Adrianus Djalimun adalah seorang tokoh musik gerejawi yang mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan musik liturgi yang bernuansa lokal. Beliau dikenal sebagai seorang komponis yang memiliki kerinduan besar agar umat Katolik di Jawa Barat tidak hanya berdoa dengan bahasa Indonesia atau Latin, tetapi juga bisa mengungkapkan imannya melalui "bahasa ibu", yakni bahasa Sunda, dengan irama yang menyentuh hati masyarakat setempat.
### 2. Konteks Inkulturasi: Semangat Konsili Vatikan II
Lagu ini lahir dari semangat **Konsili Vatikan II** (1962-1965), yang mendorong Gereja untuk membuka diri terhadap budaya setempat (inkulturasi). Sebelum masa itu, lagu-lagu dalam Misa umumnya menggunakan bahasa Latin atau bahasa Indonesia yang formal.
Adrianus Djalimun melihat bahwa umat Katolik di tanah Pasundan membutuhkan doa yang lebih "dekat" dengan budaya mereka. Ia ingin menciptakan lagu yang tidak hanya sekadar terjemahan dari teks liturgi universal (seperti *Kyrie Eleison*), tetapi memiliki "rasa" (soul) Sunda.
### 3. Makna dan Kekuatan Musikal
* **Lirik:** Kata *"Nun, Gusti nu sipat murah"* (Ya Tuhan yang Maha Pengasih/Pemurah) adalah ungkapan yang sangat akrab bagi orang Sunda dalam memohon ampunan. Kata "Sipat Murah" (Sifat Murah Hati) mencerminkan pemahaman teologis bahwa Tuhan adalah kasih yang tak terbatas.
* **Melodi:** Melodi lagu ini digubah dengan sentuhan **Laras Salendro** atau **Pelog** (meskipun dalam notasi Barat, ia tetap mempertahankan nuansa meliuk khas musik Sunda). Iramanya yang lambat, syahdu, dan penuh penyerahan diri membuat umat yang menyanyikannya merasa benar-benar sedang berada di hadapan Tuhan dengan rendah hati.
* **Tujuan:** Lagu ini berfungsi sebagai seruan tobat (*Kyrie*). Djalimun ingin agar umat tidak hanya membaca teks, tetapi "meratap" dan mengakui dosa dengan ketulusan yang mendalam, sesuai dengan karakter budaya Sunda yang lembut dan santun.
### 4. Warisan yang Abadi
Lagu ini menjadi bukti keberhasilan proses inkulturasi di Indonesia. "Nun, Gusti Nu Sipat Murah" tidak dianggap sebagai lagu "asing" atau sekadar lagu tambahan, melainkan sudah menjadi bagian integral dari identitas liturgi Katolik di Keuskupan Bandung dan sekitarnya.
Beberapa hal yang menjadikan lagu ini istimewa:
* **Kedalaman Spiritual:** Meskipun sederhana, lagu ini mampu menyatukan umat dalam suasana pertobatan yang sangat kuat.
* **Penerimaan Luas:** Lagu ini diterima dengan baik bukan hanya oleh umat Katolik keturunan Sunda, tetapi juga oleh umat Katolik dari latar belakang etnis lain yang berada di Jawa Barat karena keindahan melodinya.
* **Simbol Identitas:** Lagu ini menjadi simbol bahwa Gereja Katolik di Indonesia adalah "Gereja yang menghargai budaya lokal".
### Kesimpulan
Kisah di balik *Kasihanilah, Ya Tuhan/Nun, Gusti Nu Sipat Murah* adalah kisah tentang **kasih dan keberanian**. Kasih Adrianus Djalimun kepada Tuhan dan budaya leluhurnya, serta keberaniannya untuk membawa identitas budaya Sunda masuk ke dalam altar suci Gereja. Ia berhasil mengubah seruan tobat yang dingin menjadi sebuah permohonan yang hangat, penuh kasih, dan sangat manusiawi, yang hingga kini masih terus bergema di gereja-gereja setiap kali Misa dirayakan.
Jika Anda mendengarkan lagu ini dengan saksama, Anda akan merasakan bahwa ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah doa yang lahir dari kerendahan hati seorang budayawan dan pengikut Kristus yang taat.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat sosok **Adrianus Djalimun** dan konteks inkulturasi Gereja Katolik di tanah Sunda pada pertengahan abad ke-20.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Sosok Adrianus Djalimun
Adrianus Djalimun adalah seorang tokoh musik gerejawi yang mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan musik liturgi yang bernuansa lokal. Beliau dikenal sebagai seorang komponis yang memiliki kerinduan besar agar umat Katolik di Jawa Barat tidak hanya berdoa dengan bahasa Indonesia atau Latin, tetapi juga bisa mengungkapkan imannya melalui "bahasa ibu", yakni bahasa Sunda, dengan irama yang menyentuh hati masyarakat setempat.
### 2. Konteks Inkulturasi: Semangat Konsili Vatikan II
Lagu ini lahir dari semangat **Konsili Vatikan II** (1962-1965), yang mendorong Gereja untuk membuka diri terhadap budaya setempat (inkulturasi). Sebelum masa itu, lagu-lagu dalam Misa umumnya menggunakan bahasa Latin atau bahasa Indonesia yang formal.
Adrianus Djalimun melihat bahwa umat Katolik di tanah Pasundan membutuhkan doa yang lebih "dekat" dengan budaya mereka. Ia ingin menciptakan lagu yang tidak hanya sekadar terjemahan dari teks liturgi universal (seperti *Kyrie Eleison*), tetapi memiliki "rasa" (soul) Sunda.
### 3. Makna dan Kekuatan Musikal
* **Lirik:** Kata *"Nun, Gusti nu sipat murah"* (Ya Tuhan yang Maha Pengasih/Pemurah) adalah ungkapan yang sangat akrab bagi orang Sunda dalam memohon ampunan. Kata "Sipat Murah" (Sifat Murah Hati) mencerminkan pemahaman teologis bahwa Tuhan adalah kasih yang tak terbatas.
* **Melodi:** Melodi lagu ini digubah dengan sentuhan **Laras Salendro** atau **Pelog** (meskipun dalam notasi Barat, ia tetap mempertahankan nuansa meliuk khas musik Sunda). Iramanya yang lambat, syahdu, dan penuh penyerahan diri membuat umat yang menyanyikannya merasa benar-benar sedang berada di hadapan Tuhan dengan rendah hati.
* **Tujuan:** Lagu ini berfungsi sebagai seruan tobat (*Kyrie*). Djalimun ingin agar umat tidak hanya membaca teks, tetapi "meratap" dan mengakui dosa dengan ketulusan yang mendalam, sesuai dengan karakter budaya Sunda yang lembut dan santun.
### 4. Warisan yang Abadi
Lagu ini menjadi bukti keberhasilan proses inkulturasi di Indonesia. "Nun, Gusti Nu Sipat Murah" tidak dianggap sebagai lagu "asing" atau sekadar lagu tambahan, melainkan sudah menjadi bagian integral dari identitas liturgi Katolik di Keuskupan Bandung dan sekitarnya.
Beberapa hal yang menjadikan lagu ini istimewa:
* **Kedalaman Spiritual:** Meskipun sederhana, lagu ini mampu menyatukan umat dalam suasana pertobatan yang sangat kuat.
* **Penerimaan Luas:** Lagu ini diterima dengan baik bukan hanya oleh umat Katolik keturunan Sunda, tetapi juga oleh umat Katolik dari latar belakang etnis lain yang berada di Jawa Barat karena keindahan melodinya.
* **Simbol Identitas:** Lagu ini menjadi simbol bahwa Gereja Katolik di Indonesia adalah "Gereja yang menghargai budaya lokal".
### Kesimpulan
Kisah di balik *Kasihanilah, Ya Tuhan/Nun, Gusti Nu Sipat Murah* adalah kisah tentang **kasih dan keberanian**. Kasih Adrianus Djalimun kepada Tuhan dan budaya leluhurnya, serta keberaniannya untuk membawa identitas budaya Sunda masuk ke dalam altar suci Gereja. Ia berhasil mengubah seruan tobat yang dingin menjadi sebuah permohonan yang hangat, penuh kasih, dan sangat manusiawi, yang hingga kini masih terus bergema di gereja-gereja setiap kali Misa dirayakan.
Jika Anda mendengarkan lagu ini dengan saksama, Anda akan merasakan bahwa ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah doa yang lahir dari kerendahan hati seorang budayawan dan pengikut Kristus yang taat.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
KKb 38
38
Nun, Gusti Nu Sipat Murah
63
Tuhan, 'Kau Yang Mahabesar
64
Tuhan, Tuhan, Hapuskanlah Dosa
65
Angin Ribut Menyerang
66
Bila Kurenung Dosaku
67
Dari Bawah Tubir Dosa
68
Dari Kungkungan Duka Kelam
69
Di Hadapan Tuhan Yesus
70
Ampuni Umatmu
71
Engkau Sabar Menanti
72
Hanya Debulah Aku
73
Jikalau Tuhan Tidak Menebusku
74
Kasihanilah Aku, Ya Allah
75
Kasihanilah Aku Yang Lemah
77
Mampirlah Dengar Doaku
78
Meski Tak Layak Diriku
79
Mungkinkah Aku Pun Serta
80
O Tuhanku, 'Kau Datang Ke Dunia
81
Padamu, Tuhanku, Kubawa Dosaku
82
Suaramu Kudengar
83
Tiada Yang Sehat Dagingku
84
Tuhan Allah, Janganlah
85
Tuhan, Kami Berlumuran Dosa
86
Kumohon Pengampunan
87
Tuhan Yesus, Kami Sering Tidak Patuh
88
Tuhanku, Ampunilah Hambamu
89
Ya Allah Bapa
90
Ya Allahku, Di Cah'yamu
91
Umatku, Bertobatlah
92
Ya Tuhan, Berdiamlah Di Hatiku
93
Ya Tuhan, Dengarkanlah