MK
Di palungan dibaringkan
Cradled in a manger meanly
43
Nomor
Kode
MK 43b
Buku
Malam Kudus
Tematik
Natal
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 111, KK 169
Dengarkan di YouTube
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Di Palungan Dibaringkan"** (judul asli bahasa Inggris: *Cradled in a Manger Meanly*) adalah sebuah kidung Natal klasik yang memiliki akar sejarah panjang dalam tradisi Protestan Inggris.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: George Stringer Rowe
Lirik lagu ini ditulis oleh **George Stringer Rowe** (1828β1909), seorang pendeta metodis asal Inggris yang juga dikenal sebagai penulis dan misionaris. Rowe adalah sosok yang sangat dihormati di kalangan Gereja Metodis Inggris pada zamannya.
Ia menulis lagu ini dengan tujuan untuk menekankan kontras yang ekstrem antara kemuliaan surgawi Kristus dengan kerendahan hati kedatangan-Nya di dunia. Fokus utamanya adalah mengajak jemaat untuk merenungkan kasih Tuhan yang rela turun ke dunia dalam kondisi yang paling tidak layakβsebuah palunganβdemi menebus umat manusia.
### 2. Sumber Publikasi: *The Plymouth Collection*
Lagu ini sering dikaitkan dengan *The Plymouth Collection*. Penting untuk dicatat bahwa *The Plymouth Collection of Hymns and Tunes* (diterbitkan tahun 1855) adalah buku nyanyian yang disunting oleh **Henry Ward Beecher**, seorang pengkhotbah terkenal dari Plymouth Church di Brooklyn, New York.
Meskipun lagu ini muncul dalam berbagai kumpulan kidung (hymnal) di abad ke-19, kehadirannya dalam tradisi lagu-lagu Natal mencerminkan semangat kebangunan rohani pada masa itu yang sangat menekankan "Teologi Penjelmaan" (*The Theology of Incarnation*).
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Kisah di balik lagu ini tidak terletak pada sebuah peristiwa dramatis, melainkan pada **eksegesis (penafsiran) teologis** terhadap peristiwa Natal. Lirik aslinya (*Cradled in a Manger Meanly*) secara harfiah berarti "Dibaringkan di palungan yang hina".
Beberapa poin utama yang ingin disampaikan dalam lagu ini:
* **Kontras Kerendahan:** Lagu ini secara detail melukiskan bagaimana Raja alam semesta tidak lahir di istana, melainkan di kandang hewan. "Meanly" (hina/sederhana) digunakan untuk menyoroti kontras antara status-Nya sebagai Allah dan kondisi fisik tempat kelahiran-Nya.
* **Panggilan Ibadah:** Lagu ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah ajakan bagi orang percaya untuk berlutut dan menyembah Sang Bayi.
* **Kerendahan Hati sebagai Teladan:** Bagi pengikut Metodis pada masa itu, kelahiran Yesus yang sederhana dianggap sebagai standar etika bagi orang Kristen untuk hidup sederhana dan penuh kerendahan hati.
### 4. Melodi dan Adaptasi
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer karena diterjemahkan dengan indah ke dalam Bahasa Indonesia. Melodi yang digunakan sering kali terasa khidmat dan kontemplatif, mencerminkan suasana malam Natal yang tenang namun penuh makna.
### Mengapa lagu ini tetap bertahan?
Lagu ini tetap bertahan selama lebih dari 150 tahun bukan karena kemegahan musiknya, melainkan karena **pesan intinya yang universal**. Di dunia yang sering kali mengejar kemewahan dan status, *Di Palungan Dibaringkan* menjadi pengingat tahunan bahwa:
1. Tuhan hadir di tempat yang paling tidak terduga dan paling rendah.
2. Agama Kristen berpusat pada kasih yang rela mengosongkan diri (*kenosis*).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik *Di Palungan Dibaringkan* adalah kisah tentang upaya seorang pendeta abad ke-19 untuk menerjemahkan keajaiban teologis Natal ke dalam bahasa yang sederhana namun menyentuh hati. Lagu ini mengajak kita untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk perayaan Natal dan merenungkan satu fakta mendasar: **Tuhan turun ke bumi, bukan dengan kekuatan, melainkan dengan kelemahan seorang bayi di atas palungan.**
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: George Stringer Rowe
Lirik lagu ini ditulis oleh **George Stringer Rowe** (1828β1909), seorang pendeta metodis asal Inggris yang juga dikenal sebagai penulis dan misionaris. Rowe adalah sosok yang sangat dihormati di kalangan Gereja Metodis Inggris pada zamannya.
Ia menulis lagu ini dengan tujuan untuk menekankan kontras yang ekstrem antara kemuliaan surgawi Kristus dengan kerendahan hati kedatangan-Nya di dunia. Fokus utamanya adalah mengajak jemaat untuk merenungkan kasih Tuhan yang rela turun ke dunia dalam kondisi yang paling tidak layakβsebuah palunganβdemi menebus umat manusia.
### 2. Sumber Publikasi: *The Plymouth Collection*
Lagu ini sering dikaitkan dengan *The Plymouth Collection*. Penting untuk dicatat bahwa *The Plymouth Collection of Hymns and Tunes* (diterbitkan tahun 1855) adalah buku nyanyian yang disunting oleh **Henry Ward Beecher**, seorang pengkhotbah terkenal dari Plymouth Church di Brooklyn, New York.
Meskipun lagu ini muncul dalam berbagai kumpulan kidung (hymnal) di abad ke-19, kehadirannya dalam tradisi lagu-lagu Natal mencerminkan semangat kebangunan rohani pada masa itu yang sangat menekankan "Teologi Penjelmaan" (*The Theology of Incarnation*).
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Kisah di balik lagu ini tidak terletak pada sebuah peristiwa dramatis, melainkan pada **eksegesis (penafsiran) teologis** terhadap peristiwa Natal. Lirik aslinya (*Cradled in a Manger Meanly*) secara harfiah berarti "Dibaringkan di palungan yang hina".
Beberapa poin utama yang ingin disampaikan dalam lagu ini:
* **Kontras Kerendahan:** Lagu ini secara detail melukiskan bagaimana Raja alam semesta tidak lahir di istana, melainkan di kandang hewan. "Meanly" (hina/sederhana) digunakan untuk menyoroti kontras antara status-Nya sebagai Allah dan kondisi fisik tempat kelahiran-Nya.
* **Panggilan Ibadah:** Lagu ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah ajakan bagi orang percaya untuk berlutut dan menyembah Sang Bayi.
* **Kerendahan Hati sebagai Teladan:** Bagi pengikut Metodis pada masa itu, kelahiran Yesus yang sederhana dianggap sebagai standar etika bagi orang Kristen untuk hidup sederhana dan penuh kerendahan hati.
### 4. Melodi dan Adaptasi
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer karena diterjemahkan dengan indah ke dalam Bahasa Indonesia. Melodi yang digunakan sering kali terasa khidmat dan kontemplatif, mencerminkan suasana malam Natal yang tenang namun penuh makna.
### Mengapa lagu ini tetap bertahan?
Lagu ini tetap bertahan selama lebih dari 150 tahun bukan karena kemegahan musiknya, melainkan karena **pesan intinya yang universal**. Di dunia yang sering kali mengejar kemewahan dan status, *Di Palungan Dibaringkan* menjadi pengingat tahunan bahwa:
1. Tuhan hadir di tempat yang paling tidak terduga dan paling rendah.
2. Agama Kristen berpusat pada kasih yang rela mengosongkan diri (*kenosis*).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik *Di Palungan Dibaringkan* adalah kisah tentang upaya seorang pendeta abad ke-19 untuk menerjemahkan keajaiban teologis Natal ke dalam bahasa yang sederhana namun menyentuh hati. Lagu ini mengajak kita untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk perayaan Natal dan merenungkan satu fakta mendasar: **Tuhan turun ke bumi, bukan dengan kekuatan, melainkan dengan kelemahan seorang bayi di atas palungan.**
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
Tema :
Natal
20
Sayang
21
Betlehem
22
Hai Kota mungil Betlehem
23
Nina bobo
24
Tidur, tidur
25
Malam kudus
26
Gembala waktu malam g'lap
26
Gembala waktu malam glap
27
Jauh dari sorga datangku
28
Wahai hatiku
29
Muliakanlah
30
Lahir seorang Putera
31
Gita sorga bergema
32
Hai malaikat dari sorga
33
Malaikat sorga datanglah
34
Alam raya berkumandang
35
O dengarlah lagu apa
36
Dengarlah kidung
37
Gembaia yang ada di padang
38
Mari gembala ke kandang rendah
39
O Natalan di Betlehem
40
Di malam sunyi bergema
41
Waktu malam yang sepi
42
Siapakah yang menerima
43
Di palungan dibaringkan
44
Di zaman yang silam
45
Di dalam palungan
46
Ya Anak kecil
47
Dalam palungan
48
Siapa namaNya
49
Bernyanyilah merdu
50
Dalam kota Raja Daud
51
Malam kudus, malam kudus
52
Malam kudus, kartika berkilauan
53
Bintang-bintang cemerlang