Bekasi, Cikarang & Karawang
40
Nomor
Kode
NR 40
Buku
Nyanyian Rohani
Tematik
Hari Raya Kejadian Tuhan
Metronom
0
Cross Ref.
PKJ 65, KK 177, GB 151
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
1
Hai gembala Efrata, bangun, bangun, tengoklah! Dengar, segenap udara dipenuhi bunyi suara. Gloria, gloria! Kidung yang belum pernah terdengar didunia bawa kabar yang senang dari langit yang cerlang.
2
Betlehem di Efrata, baik di sana carilah. Anak dalam kain bedungan, yang berbaring di palungan. Gloria, gloria! Kanak-kanak itulah, Tuhan segnap dunia. Bangun, carilah terus, Putra yang kudus.
3
Persembahan apakah kamu bri kepada-Nya? Atas mas dan harta benda, dipilih-Nya hati rendah. Gloria, gloria! Mari, kita kabarkan di negri sekalian: Kejadian Putera, Juruslamat dunia!
Partitur / Not
Partitur Chord NR 40
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 6 slide
Slide 1 — NR 40 1
Slide 2 — NR 40 2
Slide 3 — NR 40 3
Slide 4 — NR 40 4
Slide 5 — NR 40 5
Slide 6 — NR 40 6
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Hai Gembala Efrata"** (dalam bahasa Belanda berjudul asli **"Herders, hoe ontwaakt gij niet?"**) adalah salah satu kidung Natal klasik yang sangat berakar dalam tradisi perayaan Natal di Belanda.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Asal-Usul dan Bahasa
Lagu ini merupakan lagu rakyat (folk song) tradisional Belanda. Judul aslinya, *Herders, hoe ontwaakt gij niet?*, secara harfiah berarti *"Para gembala, mengapa kalian tidak terbangun?"*.

Lagu ini tidak memiliki satu penulis tunggal yang terdokumentasi secara resmi (anonim), melainkan berkembang melalui tradisi lisan di masyarakat Belanda selama berabad-abad. Melodinya memiliki karakteristik musik Barok awal atau akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18, yang sering dikaitkan dengan tradisi musik gerejawi di Belanda Utara.

### 2. Makna dan Narasi Lirik
Lagu ini berbentuk ajakan atau "seruan" kepada para gembala yang sedang berjaga di padang Efrata pada malam Natal.

* **Panggilan untuk Bangun:** Liriknya dimulai dengan pertanyaan retoris kepada para gembala: "Mengapa kalian tidak terbangun?" Ini melambangkan panggilan Tuhan bagi jiwa-jiwa yang sedang "tertidur" (tidak peduli atau tidak sadar) untuk segera menyaksikan peristiwa besar yang akan terjadi.
* **Pesan Sukacita:** Lagu ini kemudian menarasikan bagaimana para gembala tersebut dipanggil untuk pergi ke Betlehem guna melihat bayi Yesus, sang Juruselamat dunia.
* **Suasana:** Lagu ini diciptakan untuk menciptakan suasana kontemplatif sekaligus penuh sukacita. Dalam tradisi Belanda, lagu ini sering dinyanyikan dalam persekutuan doa atau ibadah rumah tangga menjelang hari Natal.

### 3. Struktur Musik
Secara musikal, lagu ini dikenal karena nadanya yang lembut namun memiliki tempo yang ajak untuk bergerak (seperti melangkah menuju kandang Betlehem). Melodinya bersifat *pastoral* (berhubungan dengan kehidupan gembala), yang lazim digunakan dalam musik klasik untuk menggambarkan suasana pedesaan di sekitar Betlehem pada malam kelahiran Yesus.

### 4. Masuknya ke Indonesia
Kehadiran lagu ini di Indonesia tidak lepas dari sejarah misi zending Belanda di tanah air. Banyak lagu-lagu Natal dari Belanda diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dimasukkan ke dalam buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* atau *Pelengkap Kidung Jemaat*).

Di Indonesia, lagu ini lebih dikenal dengan judul **"Hai Gembala Efrata"**. Terjemahannya disesuaikan agar tetap mempertahankan rima dan makna teologisnya, yaitu ajakan untuk meninggalkan ketakutan dan keraguan, lalu bergegas menemui Sang Raja yang lahir di kandang domba.

### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Ikonik?
Ada beberapa alasan mengapa lagu ini tetap lestari:
* **Kesederhanaan:** Pesan yang disampaikan sangat lugas dan mudah dimengerti, bahkan oleh anak-anak.
* **Panggilan Pribadi:** Tidak seperti lagu Natal yang hanya bersifat memuji (seperti *Malam Kudus*), lagu ini bersifat *ajakan*. Pendengar seolah diajak langsung oleh penulisnya untuk ikut bersama para gembala.
* **Warisan Budaya:** Bagi banyak jemaat di Indonesia yang memiliki akar tradisi gereja Protestan yang kuat, lagu ini membangkitkan nostalgia masa kecil akan ibadah Natal yang khidmat.

### Lirik Singkat (Bahasa Indonesia):
*Hai gembala Efrata, bangkitlah dan bangunlah!*
*Dengar warta mulia: Kristus lahir bagi kita.*
*Mari pergi, jangan ragu, lihat bayi di palungan,*
*Sujud syukur, kasih tulus, bagi Raja kes'lamatan.*

**Kesimpulan:**
*Herders, hoe ontwaakt gij niet?* adalah saksi bisu bagaimana tradisi Natal rakyat Belanda tetap hidup hingga hari ini melalui nyanyian. Lagu ini berfungsi sebagai "panggilan untuk berjaga-jaga" secara spiritual, mengingatkan umat Kristiani bahwa berita kelahiran Yesus bukanlah berita yang hanya didengar, tetapi berita yang harus membuat kita "bangun" dan bergegas untuk menemui-Nya.

Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.