NP
Pujilah Yang Empunya Tuaian
Sing to the Lord of Harvest
349
Nomor
Kode
NP 349
Buku
Nyanyian Pujian
Tematik
Pengucapan Syukur, Kewarganegaraan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Jane M. Marshall
Pencipta Syair
John S. B. Monsell
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
Pujilah Yang Empunya Tuaian yang lebat;
Ucapkan haleluya Atas tiap berkat.
2
Musim berganti-ganti, Tetap beredarnya;
Nyanyilah bagi Tuhan, Ya atas kasihnya.
3
Bawa ke mezbah Tuhan Hasil anugrahNya;
Bawalah jiwa orang Yang dislamatkanNya.
4
Hatimu persembahkan, Sujudlah padaNya;
HidupNya dikorbankan Bagi manusia.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Kisah di Balik Lagu
Lagu pujian **"Sing to the Lord of Harvest"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Pujilah yang Empunya Tuaian"*) adalah sebuah lagu yang memiliki latar belakang yang sangat erat dengan tradisi syukur atas hasil bumi dan pengakuan akan kedaulatan Tuhan sebagai pemberi berkat.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: John S. B. Monsell
Lirik lagu ini ditulis oleh **John Samuel Bewley Monsell** (1811β1875), seorang pendeta Anglikan asal Irlandia yang sangat produktif dalam menulis syair lagu rohani. Ia dikenal sebagai penyair yang mampu menggambarkan keindahan alam sebagai refleksi dari kemuliaan Tuhan.
Lirik asli lagu ini pertama kali diterbitkan dalam bukunya yang berjudul *Hymns of Love and Praise for the Church's Year* pada tahun **1866**. Monsell menulis lagu ini bukan hanya sebagai lagu ucapan syukur atas panen, tetapi sebagai panggilan bagi umat percaya untuk tidak hanya berterima kasih atas hasil bumi, tetapi juga menyadari bahwa setiap aspek kehidupan, termasuk "tuaian rohani" (jiwa-jiwa), berada di bawah otoritas Tuhan.
### 2. Komposer Musik: Jane M. Marshall
Meskipun liriknya berasal dari abad ke-19, melodi yang paling populer dan sering dinyanyikan di gereja-gereja saat ini dikomposisikan oleh **Jane M. Marshall** (1924β2019).
Jane Marshall adalah seorang musisi dan komposer ternama dari Amerika Serikat. Ia dikenal karena kemampuannya menciptakan melodi yang segar namun tetap mempertahankan kekhidmatan lagu-lagu tradisional. Ia menggubah musik untuk lirik Monsell ini dengan pendekatan yang gembira (karena bertema syukur) namun memiliki kedalaman teologis.
### 3. Makna di Balik Liriknya
Kisah di balik lirik ini berakar pada **Festival Thanksgiving (Hari Pengucapan Syukur)**, yang dalam tradisi gereja Inggris sering dirayakan dengan membawa hasil bumi ke gereja. Namun, Monsell membawa pesan ini lebih jauh:
* **Pengakuan akan Kedaulatan Tuhan:** Lagu ini mengingatkan bahwa setiap tetes hujan, sinar matahari, dan kesuburan tanah adalah anugerah langsung dari "Tuan yang Empunya Tuaian".
* **Tanggung Jawab Manusia:** Bagian "Tuaian" di sini tidak hanya merujuk pada hasil pertanian, tetapi juga pada tugas umat Kristen untuk menjadi pekerja di ladang Tuhan (penginjilan). Ini selaras dengan perkataan Yesus dalam Matius 9:38: *"Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."*
* **Sukacita yang Universal:** Monsell menggunakan metafora alamβbunga, ladang gandum, buah-buahanβuntuk mengajak seluruh ciptaan (manusia, hewan, dan alam) untuk bersatu memuji Tuhan.
### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Ikonik?
Kombinasi antara kedalaman teologis Monsell dan keindahan harmoni Jane Marshall membuat lagu ini menjadi pilihan utama dalam kebaktian syukur panen (*Harvest Festival*).
Dalam tradisi gerejawi, lagu ini sering dinyanyikan dengan semangat yang megah. Keunggulan lagu ini terletak pada kemampuannya untuk mengubah momen makan bersama atau perayaan panen menjadi momen penyembahan yang mendalam. Lagu ini mengajarkan bahwa ketika kita memegang buah hasil kerja keras kita, kita sebenarnya sedang memegang "berkat yang dipinjamkan" oleh Tuhan.
### Ringkasan Pesan Utama:
Jika Anda menyanyikan lagu ini, ingatlah bahwa pesan utamanya adalah: **Kehidupan kita dan hasil kerja kita bukanlah hasil dari kekuatan kita sendiri semata, melainkan buah dari pemeliharaan Tuhan yang setia.** Seperti petani yang menunggu musim panen, kita pun dipanggil untuk menabur kebaikan dengan iman, sambil menantikan saat Tuhan menuai hasilnya.
Apakah Anda sedang mempelajari lagu ini untuk paduan suara atau untuk perenungan pribadi? Lagu ini memang sangat indah jika dinyanyikan dengan penuh penghayatan di saat-saat kita merenungkan berkat Tuhan.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: John S. B. Monsell
Lirik lagu ini ditulis oleh **John Samuel Bewley Monsell** (1811β1875), seorang pendeta Anglikan asal Irlandia yang sangat produktif dalam menulis syair lagu rohani. Ia dikenal sebagai penyair yang mampu menggambarkan keindahan alam sebagai refleksi dari kemuliaan Tuhan.
Lirik asli lagu ini pertama kali diterbitkan dalam bukunya yang berjudul *Hymns of Love and Praise for the Church's Year* pada tahun **1866**. Monsell menulis lagu ini bukan hanya sebagai lagu ucapan syukur atas panen, tetapi sebagai panggilan bagi umat percaya untuk tidak hanya berterima kasih atas hasil bumi, tetapi juga menyadari bahwa setiap aspek kehidupan, termasuk "tuaian rohani" (jiwa-jiwa), berada di bawah otoritas Tuhan.
### 2. Komposer Musik: Jane M. Marshall
Meskipun liriknya berasal dari abad ke-19, melodi yang paling populer dan sering dinyanyikan di gereja-gereja saat ini dikomposisikan oleh **Jane M. Marshall** (1924β2019).
Jane Marshall adalah seorang musisi dan komposer ternama dari Amerika Serikat. Ia dikenal karena kemampuannya menciptakan melodi yang segar namun tetap mempertahankan kekhidmatan lagu-lagu tradisional. Ia menggubah musik untuk lirik Monsell ini dengan pendekatan yang gembira (karena bertema syukur) namun memiliki kedalaman teologis.
### 3. Makna di Balik Liriknya
Kisah di balik lirik ini berakar pada **Festival Thanksgiving (Hari Pengucapan Syukur)**, yang dalam tradisi gereja Inggris sering dirayakan dengan membawa hasil bumi ke gereja. Namun, Monsell membawa pesan ini lebih jauh:
* **Pengakuan akan Kedaulatan Tuhan:** Lagu ini mengingatkan bahwa setiap tetes hujan, sinar matahari, dan kesuburan tanah adalah anugerah langsung dari "Tuan yang Empunya Tuaian".
* **Tanggung Jawab Manusia:** Bagian "Tuaian" di sini tidak hanya merujuk pada hasil pertanian, tetapi juga pada tugas umat Kristen untuk menjadi pekerja di ladang Tuhan (penginjilan). Ini selaras dengan perkataan Yesus dalam Matius 9:38: *"Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."*
* **Sukacita yang Universal:** Monsell menggunakan metafora alamβbunga, ladang gandum, buah-buahanβuntuk mengajak seluruh ciptaan (manusia, hewan, dan alam) untuk bersatu memuji Tuhan.
### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Ikonik?
Kombinasi antara kedalaman teologis Monsell dan keindahan harmoni Jane Marshall membuat lagu ini menjadi pilihan utama dalam kebaktian syukur panen (*Harvest Festival*).
Dalam tradisi gerejawi, lagu ini sering dinyanyikan dengan semangat yang megah. Keunggulan lagu ini terletak pada kemampuannya untuk mengubah momen makan bersama atau perayaan panen menjadi momen penyembahan yang mendalam. Lagu ini mengajarkan bahwa ketika kita memegang buah hasil kerja keras kita, kita sebenarnya sedang memegang "berkat yang dipinjamkan" oleh Tuhan.
### Ringkasan Pesan Utama:
Jika Anda menyanyikan lagu ini, ingatlah bahwa pesan utamanya adalah: **Kehidupan kita dan hasil kerja kita bukanlah hasil dari kekuatan kita sendiri semata, melainkan buah dari pemeliharaan Tuhan yang setia.** Seperti petani yang menunggu musim panen, kita pun dipanggil untuk menabur kebaikan dengan iman, sambil menantikan saat Tuhan menuai hasilnya.
Apakah Anda sedang mempelajari lagu ini untuk paduan suara atau untuk perenungan pribadi? Lagu ini memang sangat indah jika dinyanyikan dengan penuh penghayatan di saat-saat kita merenungkan berkat Tuhan.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.