NP
Bila Tugasku Kelak Selesai
When All My Labors and Trials Are O'er
336
Nomor
Kode
NP 336
Buku
Nyanyian Pujian
Tematik
Surga
Metronom
0
Pencipta Lagu
Charles H. Gabriel
Pencipta Syair
Charles H. Gabriel, Yamuger, 1978
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
1
Bila tugasku kelak selesai,
Slamat ku tiba di pantai permai,
Dan dari Tuhanku tak tercerai,
Itu bagiku bahagia baka.
Ku slamanya bahagia, bahagia, bahagia;
Diperkenankan memandang Tuhan,
Itu bagiku bahagia baka.
2
Bila kelak oleh kurniaNya
Aku disambut di surga cerah
Dan ku memandang sinar wajahNya,
Itu bagiku bahagia baka.
3
Walau di surga berjumpa teman,
Sobat, kekasih di dalam Tuhan,
Namun melihat Tuhan berkenan,
Itu bagiku bahagia baka.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
4 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Bila Tugasku Kelak Selesai"** (judul asli: *When All My Labors and Trials Are O'er*) adalah salah satu himne yang paling menyentuh dan populer dalam tradisi Kristen. Lagu ini ditulis oleh seorang komposer dan penulis himne ternama asal Amerika, **Charles Hutchinson Gabriel** (1856–1932).
Berikut adalah kisah mendalam di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Sosok Charles H. Gabriel
Charles H. Gabriel adalah sosok yang sangat produktif. Sepanjang hidupnya, ia menulis ribuan lagu rohani dan menyunting banyak buku nyanyian gereja. Ia dibesarkan di sebuah pertanian di Iowa dan belajar musik secara otodidak. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat religius dan memiliki pandangan hidup yang optimis namun tetap bersandar pada pengharapan akan kehidupan setelah kematian.
### 2. Inspirasi di Balik Lagu
Meskipun tidak ada catatan biografi tunggal yang merinci satu peristiwa traumatis spesifik yang menjadi pemicu lagu ini, para ahli musik gereja sepakat bahwa lagu ini ditulis pada masa di mana Gabriel sedang merenungkan **konsep "istirahat" (rest) bagi seorang pekerja Tuhan**.
* **Latar Belakang Masa Hidupnya:** Gabriel hidup di era di mana kehidupan kerja fisik sangat keras. Sebagai orang yang sangat sibuk dalam pelayanan gereja, ia sering mengalami kelelahan.
* **Tema Utama:** Lagu ini ditulis sebagai ekspresi kerinduan akan "Rumah Surgawi". Ia membayangkan momen di mana perjuangan, penderitaan, dan kerja keras di dunia ini berakhir. Fokus utamanya bukan pada kematian sebagai akhir, melainkan pada **pertemuan dengan Yesus Kristus**.
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Judul asli lagu ini, *"When All My Labors and Trials Are O'er"*, mencerminkan teologi yang sangat kuat tentang kepastian iman:
* **Penerimaan atas Kehidupan Dunia:** Liriknya mengakui bahwa hidup di dunia ini penuh dengan "tugas" (labors) dan "pencobaan" (trials). Gabriel tidak menyangkal kenyataan pahit dunia, melainkan menerimanya sebagai bagian dari tugas yang harus diselesaikan.
* **Harapan akan Upah:** Bait lagu ini dengan indah menggambarkan momen "masuk ke gerbang surga" dan disambut langsung oleh Tuhan. Ada kalimat yang sangat ikonik dalam lirik aslinya: *"And I shall see Him face to face"* (Dan aku akan melihat Dia berhadapan muka).
* **Penghiburan:** Lagu ini sering dinyanyikan dalam upacara pemakaman karena mampu memberikan penghiburan bagi mereka yang ditinggalkan, mengingatkan bahwa orang yang berpulang telah selesai menjalankan tugasnya dengan baik dan kini beristirahat dengan damai.
### 4. Masuk ke Indonesia (Yamuger)
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer karena dimasukkan ke dalam buku nyanyian gereja **Kidung Jemaat (KJ 407)** oleh **Yamuger** (Yayasan Musik Gereja) pada tahun 1978.
Penerjemahan lagu ini ke dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan sangat apik sehingga esensi dari pengharapan surgawi tetap terjaga. Versi bahasa Indonesia:
> *"Bila tugasku kelak selesai, 'ku kan melihat wajah-Nya;*
> *Puaslah hatiku, aman dan damai, dalam rumah-Nya yang baka."*
Terjemahan ini berhasil menangkap nada kerinduan Gabriel yang tenang dan tidak penuh dengan ketakutan akan kematian, melainkan rasa syukur akan selesainya sebuah perjalanan hidup.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini bukanlah tentang kesedihan yang mendalam, melainkan tentang **tanggung jawab dan penyelesaian tugas**. Charles H. Gabriel ingin menyampaikan bahwa jika kita setia melakukan tugas kita di dunia ini, akhir dari perjalanan bukanlah sebuah kekosongan, melainkan perjumpaan dengan Sang Pencipta.
Bagi banyak orang, menyanyikan lagu ini bukan hanya soal mengenang kematian, tetapi tentang **mengingat kembali tujuan hidup**—bahwa setiap kesulitan yang kita hadapi saat ini hanyalah sementara, dan ada "upah" kebahagiaan di ujung jalan bagi mereka yang bertahan hingga akhir.
Berikut adalah kisah mendalam di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Sosok Charles H. Gabriel
Charles H. Gabriel adalah sosok yang sangat produktif. Sepanjang hidupnya, ia menulis ribuan lagu rohani dan menyunting banyak buku nyanyian gereja. Ia dibesarkan di sebuah pertanian di Iowa dan belajar musik secara otodidak. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat religius dan memiliki pandangan hidup yang optimis namun tetap bersandar pada pengharapan akan kehidupan setelah kematian.
### 2. Inspirasi di Balik Lagu
Meskipun tidak ada catatan biografi tunggal yang merinci satu peristiwa traumatis spesifik yang menjadi pemicu lagu ini, para ahli musik gereja sepakat bahwa lagu ini ditulis pada masa di mana Gabriel sedang merenungkan **konsep "istirahat" (rest) bagi seorang pekerja Tuhan**.
* **Latar Belakang Masa Hidupnya:** Gabriel hidup di era di mana kehidupan kerja fisik sangat keras. Sebagai orang yang sangat sibuk dalam pelayanan gereja, ia sering mengalami kelelahan.
* **Tema Utama:** Lagu ini ditulis sebagai ekspresi kerinduan akan "Rumah Surgawi". Ia membayangkan momen di mana perjuangan, penderitaan, dan kerja keras di dunia ini berakhir. Fokus utamanya bukan pada kematian sebagai akhir, melainkan pada **pertemuan dengan Yesus Kristus**.
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Judul asli lagu ini, *"When All My Labors and Trials Are O'er"*, mencerminkan teologi yang sangat kuat tentang kepastian iman:
* **Penerimaan atas Kehidupan Dunia:** Liriknya mengakui bahwa hidup di dunia ini penuh dengan "tugas" (labors) dan "pencobaan" (trials). Gabriel tidak menyangkal kenyataan pahit dunia, melainkan menerimanya sebagai bagian dari tugas yang harus diselesaikan.
* **Harapan akan Upah:** Bait lagu ini dengan indah menggambarkan momen "masuk ke gerbang surga" dan disambut langsung oleh Tuhan. Ada kalimat yang sangat ikonik dalam lirik aslinya: *"And I shall see Him face to face"* (Dan aku akan melihat Dia berhadapan muka).
* **Penghiburan:** Lagu ini sering dinyanyikan dalam upacara pemakaman karena mampu memberikan penghiburan bagi mereka yang ditinggalkan, mengingatkan bahwa orang yang berpulang telah selesai menjalankan tugasnya dengan baik dan kini beristirahat dengan damai.
### 4. Masuk ke Indonesia (Yamuger)
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer karena dimasukkan ke dalam buku nyanyian gereja **Kidung Jemaat (KJ 407)** oleh **Yamuger** (Yayasan Musik Gereja) pada tahun 1978.
Penerjemahan lagu ini ke dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan sangat apik sehingga esensi dari pengharapan surgawi tetap terjaga. Versi bahasa Indonesia:
> *"Bila tugasku kelak selesai, 'ku kan melihat wajah-Nya;*
> *Puaslah hatiku, aman dan damai, dalam rumah-Nya yang baka."*
Terjemahan ini berhasil menangkap nada kerinduan Gabriel yang tenang dan tidak penuh dengan ketakutan akan kematian, melainkan rasa syukur akan selesainya sebuah perjalanan hidup.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini bukanlah tentang kesedihan yang mendalam, melainkan tentang **tanggung jawab dan penyelesaian tugas**. Charles H. Gabriel ingin menyampaikan bahwa jika kita setia melakukan tugas kita di dunia ini, akhir dari perjalanan bukanlah sebuah kekosongan, melainkan perjumpaan dengan Sang Pencipta.
Bagi banyak orang, menyanyikan lagu ini bukan hanya soal mengenang kematian, tetapi tentang **mengingat kembali tujuan hidup**—bahwa setiap kesulitan yang kita hadapi saat ini hanyalah sementara, dan ada "upah" kebahagiaan di ujung jalan bagi mereka yang bertahan hingga akhir.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.