NP
Kemuliaan dan Hormat
All Glory, Laud, and Honor
21
Nomor
Kode
NP 21
Buku
Nyanyian Pujian
Tematik
Tritunggal, Yesus Kristus, Pujian dan Pujaan
Metronom
0
Style
Cool8Beat
Pencipta Lagu
Melchior Teschner
Pencipta Syair
John Mason Neale
Cross Ref.
KJ 161
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
1
Kemuliaan dan hormat bagiMu, Rajaku.
"Hosana, puji Tuhan!" Bersorak anakMu.
Engkaulah Raja Israel, Engkau Taruk Isai.
Mubaraklah, hai Raja, Engkau Pembri damai!
2
Malaikat yang di surga memujiMu, Tuhan.
Segala ciptaanMu, Gemakan nyanyian!
Bagai umatMu Israel menyongsong datangMu,
Kunaikkan doa syukur padaMu, Tuhanku.
3
BagiMu, Juru Slamat, UmatMu bermadah.
Bagi Yang Mahatinggi, Laguku bergema.
Terimalah, ya Tuhan, Pujianku kini.
Kau Raja yang termulia, RahmatMu abadi!
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
3 slide
Kisah di Balik Lagu
Kisah di balik lagu "Segala Kemuliaan" (All Glory, Laud and Honour / Gloria, laus et honor) adalah narasi yang kaya, melintasi zaman dan menggabungkan sejarah, legenda, dan inspirasi spiritual. Lagu ini merupakan mahakarya yang luhur, terkenal di seluruh dunia sebagai himne prosesi Minggu Palma.
Mari kita selami kisahnya secara detail:
---
### Bagian 1: Asal Usul Lirik β Theodulph dari OrlΓ©ans (Abad ke-9 Masehi)
**1. Penulis Lirik dan Konteks Sejarah:**
* **Theodulph dari OrlΓ©ans** (sekitar 750-821 M) adalah seorang uskup, penyair, teolog, dan sarjana terkemuka pada masa Renaisans Carolingian. Ia berasal dari keturunan Visigothic dan menjadi salah satu penasihat utama Kaisar Charlemagne yang agung. Theodulph dikenal karena kecerdasannya, kontribusinya pada reformasi gereja, dan karyanya dalam bidang puisi dan teologi.
* Pada puncak kariernya, Theodulph menjabat sebagai Uskup OrlΓ©ans dan Kepala Biara Fleury, memegang posisi yang sangat berpengaruh dalam Kekaisaran Frank.
**2. Kisah di Balik Penulisannya β Legenda yang Mengharukan:**
* Pada akhir hidupnya, setelah kematian Charlemagne, Theodulph terperosok dalam intrik politik. Ia dituduh terlibat dalam konspirasi melawan putra Charlemagne, Kaisar Louis the Pious. Meskipun banyak yang meragukan kebenarannya, ia dihukum dan dipenjarakan di sebuah biara di Angers, sekitar tahun 818 M.
* Pada suatu **Minggu Palma** (sekitar tahun 820 M), saat Theodulph masih meringkuk dalam penjara, sebuah prosesi besar sedang berlangsung di luar tembok biara. Prosesi ini dipimpin langsung oleh Kaisar Louis the Pious, merayakan kedatangan Yesus ke Yerusalem.
* Menurut legenda yang populer dan mengharukan, saat prosesi agung itu melintas, Theodulph melihat dari jendela atau celah sempit di tembok penjaranya. Dia merasakan kesedihan yang mendalam, tidak hanya karena kehilangan kebebasannya, tetapi juga karena ia tidak dapat berpartisipasi dalam perayaan suci tersebut.
* **Momen Ajaib:** Tiba-tiba, dari puncak tembok atau jembatan di dekat biara, terdengar suara seorang anak laki-laki yang bening dan merdu. Anak itu mulai menyanyikan himne yang indah dan belum pernah didengar sebelumnya. Himne itu adalah "Gloria, laus et honor tibi sit, Rex Christe Redemptor" (Segala kemuliaan, pujian, dan hormat bagi-Mu, Raja Kristus Penebus).
* Suara anak itu begitu murni, liriknya begitu kuat dan relevan dengan peristiwa Minggu Palma, sehingga seluruh prosesi, termasuk Kaisar Louis the Pious sendiri, berhenti untuk mendengarkannya. Kaisar tergerak secara mendalam oleh himne tersebut.
* **Pembebasan Theodulph:** Setelah prosesi berakhir, Kaisar bertanya siapa yang menulis himne itu. Ketika ia mengetahui bahwa himne itu adalah karya Theodulph dari OrlΓ©ans yang sedang dipenjara, dan bahwa ia dituduh hanya atas dasar bukti yang lemah, Kaisar Louis the Pious melihatnya sebagai tanda ilahi. Ia yakin bahwa himne yang penuh pengharapan dan pujian itu tidak mungkin berasal dari hati seorang pengkhianat. Kaisar memerintahkan pembebasan Theodulph secara langsung.
* Theodulph kemudian dikembalikan ke posisinya dan hidup beberapa tahun lagi, melayani gereja dan kekaisaran.
**3. Keindahan Lirik Asli (Latin):**
Lirik asli "Gloria, laus et honor" terdiri dari beberapa bait, dengan refrain yang kuat. Berikut adalah baris pembuka dan refrainnya:
* **Refrain (Antiphon):**
* *Gloria, laus et honor tibi sit, Rex Christe, Redemptor,*
* *Cui puerile decus prompsit osanna pium.*
(Segala kemuliaan, pujian, dan hormat bagi-Mu, Raja Kristus, Penebus,
Kepada-Mu anak-anak kecil berseru hosana yang kudus.)
* **Bait 1:**
* *Israel es tu Rex, Davidis et inclyta proles,*
* *Nomine qui in Domini, Rex benedicte, venis.*
(Engkaulah Raja Israel, keturunan Daud yang mulia,
Yang datang dalam nama Tuhan, Raja yang terpuji.)
Lirik-lirik ini dengan indah menggambarkan adegan masuknya Yesus ke Yerusalem, sorakan anak-anak, dan pengakuan Yesus sebagai Raja dan Penebus.
---
### Bagian 2: Asal Usul Melodi β Melchior Teschner (Abad ke-17 Masehi)
**1. Penulis Melodi dan Konteks Zaman:**
* Jauh berabad-abad kemudian, melodi yang sekarang kita kenal dan asosiasikan dengan lirik Theodulph ini ditulis oleh **Melchior Teschner** (1584β1635). Teschner adalah seorang komposer dan *cantor* (pemimpin paduan suara gereja) Jerman pada era Baroque awal.
* Ia menjabat sebagai *cantor* di Gereja Zittau, Jerman.
**2. Melodi Awal yang Berbeda Konteks:**
* Menariknya, melodi yang dikenal sebagai "St. Theodulph" atau "VALET WILL ICH DIR GEBEN" ini awalnya tidak ditulis untuk himne Minggu Palma. Teschner menulis melodi ini pada tahun 1613 untuk sebuah himne pemakaman Jerman berjudul "Valet will ich dir geben" ("Selamat jalan, dengan senang hati aku memberimu").
* Meskipun asalnya adalah himne pemakaman, melodi ini memiliki karakter yang kuat, bermartabat, dan penuh harap, yang membuatnya sangat cocok untuk perayaan dan prosesi.
* Barulah pada abad ke-18 dan ke-19, melodi Teschner ini mulai dipasangkan dengan lirik "Gloria, laus et honor" karya Theodulph. Perpaduan lirik yang penuh pujian dan melodi yang agung menciptakan suatu karya yang sempurna untuk prosesi Minggu Palma.
---
### Bagian 3: Penerjemahan dan Popularitas Modern β John Mason Neale (Abad ke-19 Masehi)
**1. Membawa ke Dunia Berbahasa Inggris:**
* Himne ini menjadi sangat populer di dunia berbahasa Inggris berkat terjemahan yang brilian oleh **John Mason Neale** (1818β1866). Neale adalah seorang pendeta Anglikan Inggris, sarjana, dan penerjemah himne liturgi kuno yang paling produktif dan dihormati di zamannya.
* Ia dikenal karena kemampuannya untuk menangkap semangat dan keindahan puisi Latin asli ke dalam bahasa Inggris tanpa kehilangan makna teologisnya.
**2. Kapan Diterjemahkan:**
* Neale menerjemahkan "Gloria, laus et honor" pada tahun 1851 untuk koleksinya yang terkenal, "Hymnal Noted."
**3. Lirik Terjemahan (Bait 1 dan Refrain):**
* **Refrain:**
* *All glory, laud and honour to Thee, Redeemer, King,*
* *To whom the lips of children made sweet hosannas ring.*
(Segala kemuliaan, pujian, dan hormat bagi-Mu, Penebus, Raja,
Kepada-Mu bibir anak-anak melantunkan hosana yang manis.)
* **Bait 1:**
* *Thou art the King of Israel, Thou David's royal Son,*
* *Who in the Lord's name comest, the King and Blessed One.*
(Engkaulah Raja Israel, Engkau Putra Daud yang agung,
Yang datang dalam nama Tuhan, Raja dan Yang Terberkati.)
Terjemahan Neale ini segera diadopsi oleh gereja-gereja Anglikan dan Protestan lainnya di seluruh dunia, menjadikan "All Glory, Laud and Honour" sebagai salah satu himne Minggu Palma yang paling dicintai dan dikenal luas hingga saat ini.
---
### Warisan dan Signifikansi
Kisah di balik "Segala Kemuliaan" adalah cerminan dari bagaimana karya seni spiritual dapat melampaui batasan waktu dan budaya. Ini adalah himne yang lahir dari penderitaan dan pengharapan seorang uskup yang dipenjara, diberi melodi oleh seorang komposer berabad-abad kemudian, dan kemudian disebarkan ke seluruh dunia melalui terjemahan yang cermat.
Setiap tahun, saat paduan suara dan jemaat di seluruh dunia menyanyikan "Segala Kemuliaan" dengan daun palma di tangan, mereka tidak hanya merayakan masuknya Yesus ke Yerusalem, tetapi juga mengenang kisah inspiratif Theodulph dari OrlΓ©ans, melodi Melchior Teschner yang abadi, dan terjemahan John Mason Neale yang memperkaya pengalaman iman. Lagu ini menjadi simbol kekuatan spiritual, ketahanan, dan keindahan abadi yang dapat ditemukan dalam tradisi iman.
Mari kita selami kisahnya secara detail:
---
### Bagian 1: Asal Usul Lirik β Theodulph dari OrlΓ©ans (Abad ke-9 Masehi)
**1. Penulis Lirik dan Konteks Sejarah:**
* **Theodulph dari OrlΓ©ans** (sekitar 750-821 M) adalah seorang uskup, penyair, teolog, dan sarjana terkemuka pada masa Renaisans Carolingian. Ia berasal dari keturunan Visigothic dan menjadi salah satu penasihat utama Kaisar Charlemagne yang agung. Theodulph dikenal karena kecerdasannya, kontribusinya pada reformasi gereja, dan karyanya dalam bidang puisi dan teologi.
* Pada puncak kariernya, Theodulph menjabat sebagai Uskup OrlΓ©ans dan Kepala Biara Fleury, memegang posisi yang sangat berpengaruh dalam Kekaisaran Frank.
**2. Kisah di Balik Penulisannya β Legenda yang Mengharukan:**
* Pada akhir hidupnya, setelah kematian Charlemagne, Theodulph terperosok dalam intrik politik. Ia dituduh terlibat dalam konspirasi melawan putra Charlemagne, Kaisar Louis the Pious. Meskipun banyak yang meragukan kebenarannya, ia dihukum dan dipenjarakan di sebuah biara di Angers, sekitar tahun 818 M.
* Pada suatu **Minggu Palma** (sekitar tahun 820 M), saat Theodulph masih meringkuk dalam penjara, sebuah prosesi besar sedang berlangsung di luar tembok biara. Prosesi ini dipimpin langsung oleh Kaisar Louis the Pious, merayakan kedatangan Yesus ke Yerusalem.
* Menurut legenda yang populer dan mengharukan, saat prosesi agung itu melintas, Theodulph melihat dari jendela atau celah sempit di tembok penjaranya. Dia merasakan kesedihan yang mendalam, tidak hanya karena kehilangan kebebasannya, tetapi juga karena ia tidak dapat berpartisipasi dalam perayaan suci tersebut.
* **Momen Ajaib:** Tiba-tiba, dari puncak tembok atau jembatan di dekat biara, terdengar suara seorang anak laki-laki yang bening dan merdu. Anak itu mulai menyanyikan himne yang indah dan belum pernah didengar sebelumnya. Himne itu adalah "Gloria, laus et honor tibi sit, Rex Christe Redemptor" (Segala kemuliaan, pujian, dan hormat bagi-Mu, Raja Kristus Penebus).
* Suara anak itu begitu murni, liriknya begitu kuat dan relevan dengan peristiwa Minggu Palma, sehingga seluruh prosesi, termasuk Kaisar Louis the Pious sendiri, berhenti untuk mendengarkannya. Kaisar tergerak secara mendalam oleh himne tersebut.
* **Pembebasan Theodulph:** Setelah prosesi berakhir, Kaisar bertanya siapa yang menulis himne itu. Ketika ia mengetahui bahwa himne itu adalah karya Theodulph dari OrlΓ©ans yang sedang dipenjara, dan bahwa ia dituduh hanya atas dasar bukti yang lemah, Kaisar Louis the Pious melihatnya sebagai tanda ilahi. Ia yakin bahwa himne yang penuh pengharapan dan pujian itu tidak mungkin berasal dari hati seorang pengkhianat. Kaisar memerintahkan pembebasan Theodulph secara langsung.
* Theodulph kemudian dikembalikan ke posisinya dan hidup beberapa tahun lagi, melayani gereja dan kekaisaran.
**3. Keindahan Lirik Asli (Latin):**
Lirik asli "Gloria, laus et honor" terdiri dari beberapa bait, dengan refrain yang kuat. Berikut adalah baris pembuka dan refrainnya:
* **Refrain (Antiphon):**
* *Gloria, laus et honor tibi sit, Rex Christe, Redemptor,*
* *Cui puerile decus prompsit osanna pium.*
(Segala kemuliaan, pujian, dan hormat bagi-Mu, Raja Kristus, Penebus,
Kepada-Mu anak-anak kecil berseru hosana yang kudus.)
* **Bait 1:**
* *Israel es tu Rex, Davidis et inclyta proles,*
* *Nomine qui in Domini, Rex benedicte, venis.*
(Engkaulah Raja Israel, keturunan Daud yang mulia,
Yang datang dalam nama Tuhan, Raja yang terpuji.)
Lirik-lirik ini dengan indah menggambarkan adegan masuknya Yesus ke Yerusalem, sorakan anak-anak, dan pengakuan Yesus sebagai Raja dan Penebus.
---
### Bagian 2: Asal Usul Melodi β Melchior Teschner (Abad ke-17 Masehi)
**1. Penulis Melodi dan Konteks Zaman:**
* Jauh berabad-abad kemudian, melodi yang sekarang kita kenal dan asosiasikan dengan lirik Theodulph ini ditulis oleh **Melchior Teschner** (1584β1635). Teschner adalah seorang komposer dan *cantor* (pemimpin paduan suara gereja) Jerman pada era Baroque awal.
* Ia menjabat sebagai *cantor* di Gereja Zittau, Jerman.
**2. Melodi Awal yang Berbeda Konteks:**
* Menariknya, melodi yang dikenal sebagai "St. Theodulph" atau "VALET WILL ICH DIR GEBEN" ini awalnya tidak ditulis untuk himne Minggu Palma. Teschner menulis melodi ini pada tahun 1613 untuk sebuah himne pemakaman Jerman berjudul "Valet will ich dir geben" ("Selamat jalan, dengan senang hati aku memberimu").
* Meskipun asalnya adalah himne pemakaman, melodi ini memiliki karakter yang kuat, bermartabat, dan penuh harap, yang membuatnya sangat cocok untuk perayaan dan prosesi.
* Barulah pada abad ke-18 dan ke-19, melodi Teschner ini mulai dipasangkan dengan lirik "Gloria, laus et honor" karya Theodulph. Perpaduan lirik yang penuh pujian dan melodi yang agung menciptakan suatu karya yang sempurna untuk prosesi Minggu Palma.
---
### Bagian 3: Penerjemahan dan Popularitas Modern β John Mason Neale (Abad ke-19 Masehi)
**1. Membawa ke Dunia Berbahasa Inggris:**
* Himne ini menjadi sangat populer di dunia berbahasa Inggris berkat terjemahan yang brilian oleh **John Mason Neale** (1818β1866). Neale adalah seorang pendeta Anglikan Inggris, sarjana, dan penerjemah himne liturgi kuno yang paling produktif dan dihormati di zamannya.
* Ia dikenal karena kemampuannya untuk menangkap semangat dan keindahan puisi Latin asli ke dalam bahasa Inggris tanpa kehilangan makna teologisnya.
**2. Kapan Diterjemahkan:**
* Neale menerjemahkan "Gloria, laus et honor" pada tahun 1851 untuk koleksinya yang terkenal, "Hymnal Noted."
**3. Lirik Terjemahan (Bait 1 dan Refrain):**
* **Refrain:**
* *All glory, laud and honour to Thee, Redeemer, King,*
* *To whom the lips of children made sweet hosannas ring.*
(Segala kemuliaan, pujian, dan hormat bagi-Mu, Penebus, Raja,
Kepada-Mu bibir anak-anak melantunkan hosana yang manis.)
* **Bait 1:**
* *Thou art the King of Israel, Thou David's royal Son,*
* *Who in the Lord's name comest, the King and Blessed One.*
(Engkaulah Raja Israel, Engkau Putra Daud yang agung,
Yang datang dalam nama Tuhan, Raja dan Yang Terberkati.)
Terjemahan Neale ini segera diadopsi oleh gereja-gereja Anglikan dan Protestan lainnya di seluruh dunia, menjadikan "All Glory, Laud and Honour" sebagai salah satu himne Minggu Palma yang paling dicintai dan dikenal luas hingga saat ini.
---
### Warisan dan Signifikansi
Kisah di balik "Segala Kemuliaan" adalah cerminan dari bagaimana karya seni spiritual dapat melampaui batasan waktu dan budaya. Ini adalah himne yang lahir dari penderitaan dan pengharapan seorang uskup yang dipenjara, diberi melodi oleh seorang komposer berabad-abad kemudian, dan kemudian disebarkan ke seluruh dunia melalui terjemahan yang cermat.
Setiap tahun, saat paduan suara dan jemaat di seluruh dunia menyanyikan "Segala Kemuliaan" dengan daun palma di tangan, mereka tidak hanya merayakan masuknya Yesus ke Yerusalem, tetapi juga mengenang kisah inspiratif Theodulph dari OrlΓ©ans, melodi Melchior Teschner yang abadi, dan terjemahan John Mason Neale yang memperkaya pengalaman iman. Lagu ini menjadi simbol kekuatan spiritual, ketahanan, dan keindahan abadi yang dapat ditemukan dalam tradisi iman.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
KJ 161
161
Segala Kemuliaan
22
Pujilah Yesus yang Mulia
23
Pujilah Yesus yang Mulia
24
Pujilah Yesus yang Mulia
25
Puji Yesus
26
Ya Yesus, Bila Kukenang
27
Sumber Hidupku, Ya Yesus
28
Tuhanku Yesus
29
Turunlah, Kasih Ilahi
30
Tuhan Penebus Kupuja
31
Dengarkan Nama Kucinta
32
Puji NamaNya
33
Mulia NamaMu, Tuhan!
34
Puji Yesus Kristus
35
Aku Ingin Menyanyikan
36
Seribu Lidah Berpadu
37
Hai Kristen, Pujilah
38
Kasih Juru S'lamatku
39
Kasihku T'rimalah, Tuhan
40
Ku Cinta PadaMu
41
Ku Memuji Penebusku