KC
Sang Matahari
14
Nomor
Kode
KC 14
Buku
Kidung Ceria
Tematik
Khalik yang Mahakuasa
Metronom
0
Jumlah Bait
1 bait
Cross Ref.
NKB 40
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
1 bait
1
Sang Matahari terbit di waktu pagi.
Hari terang, alampun hidup kembali.
Bunga mekar, alam segar, memuji-Mu,
Allah yang besar.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
1 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Matahari Bersinar"** (sering juga dikenal dengan judul **"Gembala Setia"**) merupakan salah satu karya legendaris yang lahir dari rahim **Pusat Musik Liturgi (PML)**, Yogyakarta.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita perlu melihat konteks sejarah dan visi besar yang diusung oleh lembaga tersebut. Berikut adalah detail kisah dan latar belakangnya:
### 1. Konteks Sejarah: Semangat Inkulturasi
Pusat Musik Liturgi (PML) didirikan oleh **Romo Karl Edmund Prier, SJ**, seorang imam Jesuit asal Jerman yang mengabdikan hidupnya untuk musik gerejawi di Indonesia. Setelah Konsili Vatikan II, Gereja Katolik memberikan ruang bagi musik liturgi yang lebih kontekstual, yang menggunakan bahasa dan budaya setempat.
PML dibentuk dengan visi untuk menciptakan lagu-lagu liturgi yang tidak sekadar terjemahan dari bahasa Latin atau Barat, melainkan lagu yang "bernafas" dengan semangat budaya Indonesia. "Matahari Bersinar" adalah salah satu produk awal yang menunjukkan keberhasilan penggabungan antara **teologi Kristiani dengan nuansa puitis khas Indonesia.**
### 2. Makna Lirik: "Matahari Bersinar"
Lagu ini bukan sekadar lagu pujian biasa, melainkan sebuah refleksi tentang kehadiran Tuhan dalam keseharian.
* **Metafora Alam:** Penggunaan kata "Matahari" sebagai pembuka lagu adalah simbol klasik dalam liturgi (seperti dalam nyanyian *Benedictus* atau *Mazmur*), yang melambangkan Kristus sebagai "Terang Dunia".
* **Gembala Setia:** Bagian yang menekankan bahwa Allah adalah Gembala yang menuntun umat-Nya. Lirik ini sangat menyentuh bagi umat Katolik karena mencerminkan Mazmur 23 (Tuhan adalah Gembalaku).
### 3. Peran PML dalam Penciptaan
Lagu ini tidak ditulis oleh satu orang secara egois, melainkan melalui proses **workshop dan inkulturasi** yang menjadi ciri khas PML. Pada tahun 1970-an hingga 1980-an, PML sering mengadakan kursus musik liturgi bagi para guru musik, organis, dan dirigen dari berbagai pelosok Indonesia.
Dalam prosesnya, Romo Prier bersama para penggubah musik lokal (seperti FX. Sutopo atau rekan-rekan musisi di PML) mencoba memformulasikan lagu yang:
1. **Mudah dinyanyikan oleh umat (sing-along):** Melodinya dibuat tidak terlalu rumit namun memiliki nilai artistik yang tinggi.
2. **Harmonis:** Menggunakan teknik harmoni empat suara (SATB) yang menjadi standar PML agar lagu terdengar megah namun tetap syahdu di dalam gedung gereja.
### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Legendaris?
Keberhasilan lagu "Matahari Bersinar" terletak pada beberapa faktor:
* **Penyebaran Melalui Puji Syukur:** Lagu ini kemudian dimasukkan ke dalam buku *Puji Syukur* (buku nyanyian resmi Gereja Katolik di Indonesia yang diterbitkan oleh KWI dan dikerjakan oleh PML). Begitu sebuah lagu masuk ke dalam *Puji Syukur*, lagu tersebut menjadi standar nasional yang dinyanyikan di hampir seluruh paroki di Indonesia.
* **Melodinya yang Abadi:** Melodi lagu ini memiliki struktur yang sangat kuat. Ia tidak lekang oleh zaman karena menggunakan tangga nada yang nyaman bagi rentang suara jemaat umum.
* **Pesan yang Universal:** Karena bertema tentang "Gembala" dan "Terang", lagu ini cocok dinyanyikan dalam berbagai perayaan, mulai dari misa harian hingga perayaan ekaristi yang lebih meriah.
### 5. Warisan Romo Prier
Dibalik lagu ini, ada semangat Romo Prier untuk mengatakan kepada umat Katolik Indonesia bahwa: *"Tuhan itu tidak asing."* Dengan menyanyikan lagu ini, umat merasa bahwa Allah hadir di tengah teriknya matahari tropis Indonesia dan hadir sebagai Gembala yang akrab dengan keseharian mereka.
**Kesimpulan:**
Kisah di balik "Matahari Bersinar" adalah kisah tentang **perjalanan Gereja Katolik Indonesia dalam menemukan identitasnya sendiri.** Lagu ini lahir dari keinginan untuk memiliki musik liturgi yang tidak hanya benar secara teologis, tetapi juga indah secara estetika, dan sangat dekat dengan pengalaman hidup umat di Indonesia.
Jika Anda mendengarkannya hari ini, lagu tersebut merupakan saksi bisu dari upaya besar para komponis musik liturgi Indonesia untuk menyatukan iman dengan kebudayaan lewat harmoni yang indah.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita perlu melihat konteks sejarah dan visi besar yang diusung oleh lembaga tersebut. Berikut adalah detail kisah dan latar belakangnya:
### 1. Konteks Sejarah: Semangat Inkulturasi
Pusat Musik Liturgi (PML) didirikan oleh **Romo Karl Edmund Prier, SJ**, seorang imam Jesuit asal Jerman yang mengabdikan hidupnya untuk musik gerejawi di Indonesia. Setelah Konsili Vatikan II, Gereja Katolik memberikan ruang bagi musik liturgi yang lebih kontekstual, yang menggunakan bahasa dan budaya setempat.
PML dibentuk dengan visi untuk menciptakan lagu-lagu liturgi yang tidak sekadar terjemahan dari bahasa Latin atau Barat, melainkan lagu yang "bernafas" dengan semangat budaya Indonesia. "Matahari Bersinar" adalah salah satu produk awal yang menunjukkan keberhasilan penggabungan antara **teologi Kristiani dengan nuansa puitis khas Indonesia.**
### 2. Makna Lirik: "Matahari Bersinar"
Lagu ini bukan sekadar lagu pujian biasa, melainkan sebuah refleksi tentang kehadiran Tuhan dalam keseharian.
* **Metafora Alam:** Penggunaan kata "Matahari" sebagai pembuka lagu adalah simbol klasik dalam liturgi (seperti dalam nyanyian *Benedictus* atau *Mazmur*), yang melambangkan Kristus sebagai "Terang Dunia".
* **Gembala Setia:** Bagian yang menekankan bahwa Allah adalah Gembala yang menuntun umat-Nya. Lirik ini sangat menyentuh bagi umat Katolik karena mencerminkan Mazmur 23 (Tuhan adalah Gembalaku).
### 3. Peran PML dalam Penciptaan
Lagu ini tidak ditulis oleh satu orang secara egois, melainkan melalui proses **workshop dan inkulturasi** yang menjadi ciri khas PML. Pada tahun 1970-an hingga 1980-an, PML sering mengadakan kursus musik liturgi bagi para guru musik, organis, dan dirigen dari berbagai pelosok Indonesia.
Dalam prosesnya, Romo Prier bersama para penggubah musik lokal (seperti FX. Sutopo atau rekan-rekan musisi di PML) mencoba memformulasikan lagu yang:
1. **Mudah dinyanyikan oleh umat (sing-along):** Melodinya dibuat tidak terlalu rumit namun memiliki nilai artistik yang tinggi.
2. **Harmonis:** Menggunakan teknik harmoni empat suara (SATB) yang menjadi standar PML agar lagu terdengar megah namun tetap syahdu di dalam gedung gereja.
### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Legendaris?
Keberhasilan lagu "Matahari Bersinar" terletak pada beberapa faktor:
* **Penyebaran Melalui Puji Syukur:** Lagu ini kemudian dimasukkan ke dalam buku *Puji Syukur* (buku nyanyian resmi Gereja Katolik di Indonesia yang diterbitkan oleh KWI dan dikerjakan oleh PML). Begitu sebuah lagu masuk ke dalam *Puji Syukur*, lagu tersebut menjadi standar nasional yang dinyanyikan di hampir seluruh paroki di Indonesia.
* **Melodinya yang Abadi:** Melodi lagu ini memiliki struktur yang sangat kuat. Ia tidak lekang oleh zaman karena menggunakan tangga nada yang nyaman bagi rentang suara jemaat umum.
* **Pesan yang Universal:** Karena bertema tentang "Gembala" dan "Terang", lagu ini cocok dinyanyikan dalam berbagai perayaan, mulai dari misa harian hingga perayaan ekaristi yang lebih meriah.
### 5. Warisan Romo Prier
Dibalik lagu ini, ada semangat Romo Prier untuk mengatakan kepada umat Katolik Indonesia bahwa: *"Tuhan itu tidak asing."* Dengan menyanyikan lagu ini, umat merasa bahwa Allah hadir di tengah teriknya matahari tropis Indonesia dan hadir sebagai Gembala yang akrab dengan keseharian mereka.
**Kesimpulan:**
Kisah di balik "Matahari Bersinar" adalah kisah tentang **perjalanan Gereja Katolik Indonesia dalam menemukan identitasnya sendiri.** Lagu ini lahir dari keinginan untuk memiliki musik liturgi yang tidak hanya benar secara teologis, tetapi juga indah secara estetika, dan sangat dekat dengan pengalaman hidup umat di Indonesia.
Jika Anda mendengarkannya hari ini, lagu tersebut merupakan saksi bisu dari upaya besar para komponis musik liturgi Indonesia untuk menyatukan iman dengan kebudayaan lewat harmoni yang indah.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
NKB 40
40
Matahari Bersinar
Tema :
Khalik yang Mahakuasa
1
Sungguh Indah Alam
2
Langit Dan Bumi, Alam Semesta
3
Siapa Bikin Bunga
4
Bila Kulihat Langit Mengikat
5
Lihatlah
6
Bunga-Bunga Yang Di Padang
7
Tahukah Kamu Jumlah Bintang
8
Tuhan, Karya-Mu Sungguh Besar
9
Tuhan Pencipta Semesta
10
Cakrawala Dan Malaikat
11
Kupuji Kuasa Tuhanku
12
Pujilah Tuhan, Sang Raja
13
Kami Puji Dengan Riang
15
Ribuan Suara
16
Bunyi Ombak