KPJ
Puji Sokur Konjuk Gusti
181
Nomor
Do=Bes
Nada Dasar
Kode
KPJ 181
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Tematik
Kidung Pangucap Sokur
Nada Dasar
Do=Bes
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
120
Jumlah Bait
3 bait
Style
FinalWaltz
Pencipta Lagu
Johannes Alfred Hultman (1910)
Pencipta Syair
August Ludvig Storm (1891)
Cross Ref.
NKB 133, KK 466
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
1
Puji sokur konjuk Gusti, wit sihrahmat Paduka;
datan kendhat angasihi. cihnaning kawlasanta.
Sokur paring ingpakaryan, nadyan badamba ringkih;
sokur dene kadang mitra tansah anandukken sih.
2
Sokur, dene sesekaran, sedhep, endah ing warni
sokur mega ngantariksa, miwah surya ndadari.
Sokur krana bingah-sisah, Gusti tansah rumeksa;
awit Paduka kang tansah nuntun lampah kawula.
3
Sokur, wit brayat kawula rukun samnya sinihan;
sokur dene pasamuwan nuwuhken katentreman.
Sokur, krana wancinira bingah utawi sisah;
sokur de gesang kawula neng pamengkuning Allah.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
3 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu "Syukur Padamu, Ya Allah," yang aslinya berjudul "Tack, O Gud!" (Terima Kasih, Ya Tuhan!) dalam bahasa Swedia, adalah sebuah permata spiritual yang memiliki kisah latar belakang sangat menyentuh dan inspiratif. Lagu ini merupakan hasil kolaborasi antara seorang penulis lirik yang buta namun penuh syukur, **August Ludvig Storm**, dan seorang komposer serta penyanyi evangelis yang dikenal sebagai "The Sunshine Singer," **Johannes Alfred Hultman**.
Mari kita selami kisah detail di balik terciptanya lagu yang penuh makna ini:
---
### Bagian 1: Sang Penulis Lirik β August Ludvig Storm (1859-1914)
Kisah lagu ini berawal dari kehidupan seorang pria sederhana namun luar biasa bernama August Ludvig Storm. Lahir di SmΓ₯land, Swedia pada tahun 1859, kehidupan Storm jauh dari kata mudah. Sejak usia muda, ia harus menghadapi cobaan berat. Pada usia sekitar 12 tahun, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkannya kehilangan penglihatan secara total, menjadikannya buta permanen.
Kegelapan fisik ini bisa saja merenggut semangat hidupnya, namun bagi Storm, kegelapan justru membuka mata spiritualnya lebih lebar. Ia tumbuh dalam kemiskinan dan menghadapi keterbatasan yang sangat besar akibat kebutaannya. Namun, ia tidak pernah membiarkan kondisi fisiknya meredupkan imannya atau memadamkan api syukurnya.
Storm menemukan penghiburan dan tujuan hidupnya ketika ia bergabung dengan Bala Keselamatan (FrΓ€lsningsarmΓ©n) di Swedia. Di sana, ia menjadi seorang sersan lokal dan aktif dalam pelayanan. Meskipun buta dan hidup dalam kemiskinan, Storm dikenal karena imannya yang teguh, kerendahan hati, dan sikapnya yang selalu bersyukur atas segala hal. Ia adalah contoh nyata seseorang yang melihat berkat Tuhan dalam setiap aspek kehidupannya, sekecil apa pun itu.
**Inspirasi di Balik "Tack, O Gud!"**
Lirik "Tack, O Gud!" lahir dari kedalaman hati Storm yang penuh dengan rasa syukur yang tak tergoyahkan. Ia menulis lagu ini bukan sebagai tangisan kesusahan atau keluhan atas nasibnya, melainkan sebagai deklarasi iman dan terima kasih yang tulus kepada Tuhan untuk *segala-galanya*.
Ia tidak hanya bersyukur atas berkat-berkat yang jelas terlihat, tetapi juga untuk hal-hal yang mungkin dianggap biasa saja, atau bahkan untuk kesulitan yang ia alami. Baginya, setiap detik kehidupan, setiap nafas, setiap pengalamanβbaik suka maupun dukaβadalah anugerah dari Tuhan. Kebutaan, kemiskinan, dan keterbatasan fisiknya tidak membuatnya berhenti melihat kebaikan Tuhan yang tak terbatas. Sebaliknya, hal-hal tersebut mungkin justru memperkuat keyakinannya bahwa Tuhan selalu hadir dan memelihara.
Liriknya sederhana, langsung, dan sangat jujur, mencerminkan karakter Storm sendiri:
* *"Tack, o Gud, fΓΆr vad du Γ€r!"* (Terima kasih, Ya Tuhan, atas diri-Mu!)
* *"Tack fΓΆr livet, tack fΓΆr allt!"* (Terima kasih untuk hidup, terima kasih untuk segalanya!)
* *"Tack fΓΆr korset, tack fΓΆr nΓ₯den, tack fΓΆr himlen!"* (Terima kasih untuk salib, terima kasih untuk kasih karunia, terima kasih untuk surga!)
* Dan yang paling mendalam: *"Tack fΓΆr allt, ja tack fΓΆr allt, som du ger mig!"* (Terima kasih untuk segalanya, ya terima kasih untuk segalanya, yang Kau berikan padaku!)
Lirik-lirik ini bukan hanya sekadar kata-kata; itu adalah cerminan dari filosofi hidup Storm yang mempraktikkan rasa syukur setiap hari, dalam setiap keadaan.
---
### Bagian 2: Sang Komposer β Johannes Alfred Hultman (1861-1942)
Beberapa tahun setelah August Ludvig Storm menulis liriknya yang menyentuh, seorang musisi dan evangelis Swedia-Amerika bernama Johannes Alfred Hultman memasuki panggung. Hultman, yang lahir di Ryarum, Swedia, pada tahun 1861, berimigrasi ke Amerika Serikat bersama keluarganya saat masih kecil. Ia dikenal luas sebagai "The Sunshine Singer" karena melodi-melodinya yang ceria, optimis, dan lirik-liriknya yang penuh harapan. Ia adalah seorang figur populer dalam gerakan kebangunan rohani di komunitas Swedia-Amerika pada awal abad ke-20.
Hultman memiliki bakat luar biasa dalam menciptakan melodi yang mudah diingat, menghibur, dan sekaligus memiliki pesan spiritual yang kuat. Ia sering kali menemukan lirik-lirik indah yang ditulis oleh orang lain dan kemudian menggubah musik untuk lirik tersebut, memberikannya "sayap" agar dapat terbang dan menyentuh hati lebih banyak orang.
**Pertemuan Lirik dan Melodi**
Tidak jelas kapan dan bagaimana Hultman pertama kali menemukan lirik "Tack, O Gud!" karya August Ludvig Storm. Namun, kemungkinan besar ia menjumpainya melalui publikasi Bala Keselamatan atau himne-himne populer yang beredar di komunitas Swedia pada masa itu.
Ketika Hultman membaca lirik Storm, ia pasti merasakan kedalaman dan ketulusan hati yang luar biasa di baliknya. Lirik dari seorang pria buta yang bersyukur atas *segala-galanya* adalah pesan yang kuat dan universal. Hultman menyadari bahwa lirik tersebut membutuhkan melodi yang dapat membawa pesan tersebut dengan terang, ceria, namun tetap penuh penghayatan.
Ia kemudian menggubah melodi untuk "Tack, O Gud!" yang kita kenal sekarang. Melodi Hultman sangat cocok dengan lirik Stormβsederhana, mudah dinyanyikan, namun memiliki alunan yang mengangkat dan menguatkan. Melodi ini tidak terlalu rumit, sehingga mudah dihafal dan dinyanyikan oleh jemaat, memungkinkan pesan syukur Storm menyebar luas.
---
### Bagian 3: Penyebaran dan Warisan Lagu
Kombinasi lirik Storm yang tulus dan mendalam dengan melodi Hultman yang ceria dan mudah diingat menjadikan "Tack, O Gud!" sebuah lagu yang sangat populer. Lagu ini dengan cepat menyebar di antara jemaat gereja-gereja Swedia di Amerika dan Swedia sendiri. Hultman sering membawakan lagu ini dalam pertemuan-pertemuan kebangunan rohani, dan ia adalah salah satu alasan utama mengapa lagu ini dikenal luas.
**"Syukur Padamu, Ya Allah" di Indonesia**
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan dengan judul "Syukur Padamu, Ya Allah" dan menjadi salah satu lagu rohani yang sangat dicintai dan sering dinyanyikan. Lirik terjemahannya berhasil menangkap esensi dan semangat asli dari lagu tersebut:
* "Syukur padamu ya Allah, atas kasih karuniaMu"
* "Syukur padamu ya Allah, atas hidupku sβlamanya"
* "Syukur padamu ya Allah, atas salib dan rahmatMu"
* "Syukur padamu ya Allah, atas segalanya"
* "Walau susah hatiku sβlalu, bersyukur padaMu, ya Allah"
Lagu ini menjadi pengingat yang kuat bagi umat Kristen di Indonesiaβdan di seluruh duniaβuntuk senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan, bukan hanya ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi juga di tengah kesulitan dan tantangan. Ini adalah seruan untuk mempraktikkan syukur secara radikal, seperti yang dicontohkan oleh August Ludvig Storm.
---
### Kesimpulan
Kisah di balik "Syukur Padamu, Ya Allah / Tack, O Gud!" adalah sebuah testimoni yang indah tentang iman, ketahanan, dan kekuatan rasa syukur. Dari kegelapan fisik seorang pria buta yang menemukan cahaya rohani yang luar biasa (August Ludvig Storm) hingga sentuhan melodi ceria dari seorang "penyanyi mentari" (Johannes Alfred Hultman), lagu ini terus menginspirasi jutaan orang untuk mengangkat hati dalam syukur yang tulus kepada Tuhan, atas *segala-galanya*. Ini adalah himne yang mengajarkan bahwa syukur sejati tidak bergantung pada keadaan, tetapi pada perspektif hati yang melihat kebaikan Tuhan di setiap momen kehidupan.
Mari kita selami kisah detail di balik terciptanya lagu yang penuh makna ini:
---
### Bagian 1: Sang Penulis Lirik β August Ludvig Storm (1859-1914)
Kisah lagu ini berawal dari kehidupan seorang pria sederhana namun luar biasa bernama August Ludvig Storm. Lahir di SmΓ₯land, Swedia pada tahun 1859, kehidupan Storm jauh dari kata mudah. Sejak usia muda, ia harus menghadapi cobaan berat. Pada usia sekitar 12 tahun, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkannya kehilangan penglihatan secara total, menjadikannya buta permanen.
Kegelapan fisik ini bisa saja merenggut semangat hidupnya, namun bagi Storm, kegelapan justru membuka mata spiritualnya lebih lebar. Ia tumbuh dalam kemiskinan dan menghadapi keterbatasan yang sangat besar akibat kebutaannya. Namun, ia tidak pernah membiarkan kondisi fisiknya meredupkan imannya atau memadamkan api syukurnya.
Storm menemukan penghiburan dan tujuan hidupnya ketika ia bergabung dengan Bala Keselamatan (FrΓ€lsningsarmΓ©n) di Swedia. Di sana, ia menjadi seorang sersan lokal dan aktif dalam pelayanan. Meskipun buta dan hidup dalam kemiskinan, Storm dikenal karena imannya yang teguh, kerendahan hati, dan sikapnya yang selalu bersyukur atas segala hal. Ia adalah contoh nyata seseorang yang melihat berkat Tuhan dalam setiap aspek kehidupannya, sekecil apa pun itu.
**Inspirasi di Balik "Tack, O Gud!"**
Lirik "Tack, O Gud!" lahir dari kedalaman hati Storm yang penuh dengan rasa syukur yang tak tergoyahkan. Ia menulis lagu ini bukan sebagai tangisan kesusahan atau keluhan atas nasibnya, melainkan sebagai deklarasi iman dan terima kasih yang tulus kepada Tuhan untuk *segala-galanya*.
Ia tidak hanya bersyukur atas berkat-berkat yang jelas terlihat, tetapi juga untuk hal-hal yang mungkin dianggap biasa saja, atau bahkan untuk kesulitan yang ia alami. Baginya, setiap detik kehidupan, setiap nafas, setiap pengalamanβbaik suka maupun dukaβadalah anugerah dari Tuhan. Kebutaan, kemiskinan, dan keterbatasan fisiknya tidak membuatnya berhenti melihat kebaikan Tuhan yang tak terbatas. Sebaliknya, hal-hal tersebut mungkin justru memperkuat keyakinannya bahwa Tuhan selalu hadir dan memelihara.
Liriknya sederhana, langsung, dan sangat jujur, mencerminkan karakter Storm sendiri:
* *"Tack, o Gud, fΓΆr vad du Γ€r!"* (Terima kasih, Ya Tuhan, atas diri-Mu!)
* *"Tack fΓΆr livet, tack fΓΆr allt!"* (Terima kasih untuk hidup, terima kasih untuk segalanya!)
* *"Tack fΓΆr korset, tack fΓΆr nΓ₯den, tack fΓΆr himlen!"* (Terima kasih untuk salib, terima kasih untuk kasih karunia, terima kasih untuk surga!)
* Dan yang paling mendalam: *"Tack fΓΆr allt, ja tack fΓΆr allt, som du ger mig!"* (Terima kasih untuk segalanya, ya terima kasih untuk segalanya, yang Kau berikan padaku!)
Lirik-lirik ini bukan hanya sekadar kata-kata; itu adalah cerminan dari filosofi hidup Storm yang mempraktikkan rasa syukur setiap hari, dalam setiap keadaan.
---
### Bagian 2: Sang Komposer β Johannes Alfred Hultman (1861-1942)
Beberapa tahun setelah August Ludvig Storm menulis liriknya yang menyentuh, seorang musisi dan evangelis Swedia-Amerika bernama Johannes Alfred Hultman memasuki panggung. Hultman, yang lahir di Ryarum, Swedia, pada tahun 1861, berimigrasi ke Amerika Serikat bersama keluarganya saat masih kecil. Ia dikenal luas sebagai "The Sunshine Singer" karena melodi-melodinya yang ceria, optimis, dan lirik-liriknya yang penuh harapan. Ia adalah seorang figur populer dalam gerakan kebangunan rohani di komunitas Swedia-Amerika pada awal abad ke-20.
Hultman memiliki bakat luar biasa dalam menciptakan melodi yang mudah diingat, menghibur, dan sekaligus memiliki pesan spiritual yang kuat. Ia sering kali menemukan lirik-lirik indah yang ditulis oleh orang lain dan kemudian menggubah musik untuk lirik tersebut, memberikannya "sayap" agar dapat terbang dan menyentuh hati lebih banyak orang.
**Pertemuan Lirik dan Melodi**
Tidak jelas kapan dan bagaimana Hultman pertama kali menemukan lirik "Tack, O Gud!" karya August Ludvig Storm. Namun, kemungkinan besar ia menjumpainya melalui publikasi Bala Keselamatan atau himne-himne populer yang beredar di komunitas Swedia pada masa itu.
Ketika Hultman membaca lirik Storm, ia pasti merasakan kedalaman dan ketulusan hati yang luar biasa di baliknya. Lirik dari seorang pria buta yang bersyukur atas *segala-galanya* adalah pesan yang kuat dan universal. Hultman menyadari bahwa lirik tersebut membutuhkan melodi yang dapat membawa pesan tersebut dengan terang, ceria, namun tetap penuh penghayatan.
Ia kemudian menggubah melodi untuk "Tack, O Gud!" yang kita kenal sekarang. Melodi Hultman sangat cocok dengan lirik Stormβsederhana, mudah dinyanyikan, namun memiliki alunan yang mengangkat dan menguatkan. Melodi ini tidak terlalu rumit, sehingga mudah dihafal dan dinyanyikan oleh jemaat, memungkinkan pesan syukur Storm menyebar luas.
---
### Bagian 3: Penyebaran dan Warisan Lagu
Kombinasi lirik Storm yang tulus dan mendalam dengan melodi Hultman yang ceria dan mudah diingat menjadikan "Tack, O Gud!" sebuah lagu yang sangat populer. Lagu ini dengan cepat menyebar di antara jemaat gereja-gereja Swedia di Amerika dan Swedia sendiri. Hultman sering membawakan lagu ini dalam pertemuan-pertemuan kebangunan rohani, dan ia adalah salah satu alasan utama mengapa lagu ini dikenal luas.
**"Syukur Padamu, Ya Allah" di Indonesia**
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan dengan judul "Syukur Padamu, Ya Allah" dan menjadi salah satu lagu rohani yang sangat dicintai dan sering dinyanyikan. Lirik terjemahannya berhasil menangkap esensi dan semangat asli dari lagu tersebut:
* "Syukur padamu ya Allah, atas kasih karuniaMu"
* "Syukur padamu ya Allah, atas hidupku sβlamanya"
* "Syukur padamu ya Allah, atas salib dan rahmatMu"
* "Syukur padamu ya Allah, atas segalanya"
* "Walau susah hatiku sβlalu, bersyukur padaMu, ya Allah"
Lagu ini menjadi pengingat yang kuat bagi umat Kristen di Indonesiaβdan di seluruh duniaβuntuk senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan, bukan hanya ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi juga di tengah kesulitan dan tantangan. Ini adalah seruan untuk mempraktikkan syukur secara radikal, seperti yang dicontohkan oleh August Ludvig Storm.
---
### Kesimpulan
Kisah di balik "Syukur Padamu, Ya Allah / Tack, O Gud!" adalah sebuah testimoni yang indah tentang iman, ketahanan, dan kekuatan rasa syukur. Dari kegelapan fisik seorang pria buta yang menemukan cahaya rohani yang luar biasa (August Ludvig Storm) hingga sentuhan melodi ceria dari seorang "penyanyi mentari" (Johannes Alfred Hultman), lagu ini terus menginspirasi jutaan orang untuk mengangkat hati dalam syukur yang tulus kepada Tuhan, atas *segala-galanya*. Ini adalah himne yang mengajarkan bahwa syukur sejati tidak bergantung pada keadaan, tetapi pada perspektif hati yang melihat kebaikan Tuhan di setiap momen kehidupan.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
Tema :
Kidung Pangucap Sokur
154
Adrenging Tyas Kula
155
Aku Tan Nate Mangerti
156
Alon Sang Surya Gumiwang
157
Caosna Pisungsungmu
158
Ditansah Padha Bungaha
159
Gesang Kawula
160
Gusti, Kawula Ngaturken Badan-Nyawa
161
Jiwa-Raga Kawula
162
Katur Ngarsa Paduka, Gusti
163
Kawula Bombong
164
Klawan Bungah Muji
165
Konjuk Mring Kang Mahaagung
166
Kula Ngaturken Sembah Bekti
167
Kula Tansah Ngraosken Bingah
168
Lah Ta Padha Mawasa
169
Lamun Kawula
170
Lubering Berkah Sing Gusti
171
Mangga Saos Pisungsung
172
Manungsa Nanem Wiji
173
Mara Dha Aturna Pisungsungmu
174
Mara Padha Ngaturake
175
Neng Gunung Wah Neng Ngare
176
Padha Saosa Sokur
177
Para Manuk Ora Tau Anyebar
178
Pasrah Sumarah Mring Gusti
178
Pasrah Sumarah Mring Gusti
178
Pasrah Sumarah Mring Gusti
179
Pisungsung Kagem Gusti
180
Pisungsung Konjuk Mring Gusti
182
Puji Sokur Lan Panggunggung
183
Saosna Badanmu
184
Sukur Akanthi Tulus
185
Sumarah Mring Allah
186
Urip Kang Smesthine