NKB
Ladang yang Terhampar Subur
The Call for Reapers
174
Nomor
Kode
NKB 174
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Tematik
Peristiwa Gerejawi
Metronom
0
Pencipta Lagu
J.B.O. Clemm
Pencipta Syair
John O. Thompson
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
1
Ladang yang terhampar subur tampak indah nan permai.
Padi yang telah ditabur kini siap dituai.
Tuhan, utuslah penuai, kami mohon padamu.
Jangan lewat musim panen utuslah pelayanMu.
2
Dari fajar hingga senja, utuslah penuaiMu;
dan βpabila malam tiba, kumpulkanlah hambaMu.
Tuhan, utuslah penuai, kami mohon padamu.
Jangan lewat musim panen utuslah pelayanMu.
3
Hai penuai yang diutus, bawa hasil panenmu,
dan serahkan pada Kristus yang sedang menantimu.
Tuhan, utuslah penuai, kami mohon padamu.
Jangan lewat musim panen utuslah pelayanMu.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
3 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Ladang yang Terhampar Subur"** (judul asli bahasa Inggris: ***"The Call for Reapers"***) adalah salah satu himne misi paling ikonik yang ditulis pada akhir abad ke-19. Lagu ini bukan sekadar melodi, melainkan sebuah seruan mendesak yang lahir dari semangat penginjilan yang berkobar pada zamannya.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis dan Latar Belakang
Lagu ini ditulis oleh **John O. Thompson** (1848β1908), seorang penginjil dan penulis lagu asal Amerika Serikat. Liriknya pertama kali dipublikasikan sekitar tahun 1883.
Pada era itu, dunia kekristenan sedang mengalami apa yang disebut sebagai *"The Great Century of Missions"*. Semangat untuk menginjili "bangsa-bangsa yang belum terjangkau" sedang berada di puncaknya. Thompson menulis lagu ini sebagai respons terhadap nubuat Alkitab yang sering dikutip pada masa itu, yakni **Matius 9:37-38**:
> *"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."*
### 2. Makna di Balik Lirik
Lagu ini menggunakan metafora pertanian (pemanenan) sebagai simbol tugas penginjilan. Berikut adalah bedah maknanya:
* **Ladang yang Terhampar Subur:** Merupakan gambaran dunia yang sedang menunggu "pesan keselamatan". Metafora "menguning" (sudah matang) menunjukkan urgensi bahwa waktu untuk menyampaikan Injil sangat terbatas dan harus segera dilakukan.
* **Panggilan bagi Para Penuai:** Lagu ini berfungsi sebagai "panggilan untuk bertindak" (*call to action*). Thompson ingin menghilangkan sikap pasif orang Kristen. Ia menegaskan bahwa tugas ini bukan hanya untuk pendeta atau misionaris profesional, melainkan bagi setiap orang percaya.
* **Tanggung Jawab:** Bait-bait lagu ini menyoroti bahwa banyak jiwa yang sedang terhilang dan menanti untuk "dituai" (diselamatkan), namun yang menjadi kendala utama bukanlah kurangnya ladang, melainkan **kurangnya tenaga kerja**.
### 3. J.B.O. Clemm dan Aransemen Musik
Sering kali nama **J.B.O. Clemm** muncul dalam kredit lagu ini sebagai komposer musiknya. Clemm adalah seorang musisi gerejawi pada masa itu yang mengaransemen melodi lagu ini agar memiliki ritme yang penuh semangat, menggugah, dan mudah dinyanyikan dalam pertemuan-pertemuan kebangunan rohani (*revival meetings*).
Kombinasi lirik Thompson yang mendesak dengan melodi Clemm yang lugas membuat lagu ini sangat populer di gereja-gereja evangelikal di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
### 4. Dampak Lagu dalam Sejarah
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan masuk ke dalam berbagai buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* atau buku himne misi lainnya).
**Mengapa lagu ini sangat penting?**
* **Mobilisasi Misionaris:** Lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian pengutusan misionaris. Banyak tokoh misi pada abad ke-19 dan awal ke-20 mengaku bahwa "panggilan" mereka untuk pergi ke luar negeri terinspirasi saat menyanyikan lagu ini di gereja.
* **Pengingat Urgensi:** Lagu ini tetap relevan karena terus mengingatkan umat Kristen tentang tanggung jawab sosial dan spiritual untuk menjadi "pekerja" di tengah masyarakat.
### Kesimpulan
Kisah di balik *"The Call for Reapers"* adalah kisah tentang **urgensi**. Thompson tidak menulis lagu ini untuk sekadar menghibur, melainkan untuk "mengganggu" kenyamanan orang percaya agar mereka sadar bahwa di luar sana ada kebutuhan besar yang menuntut tindakan nyata.
Jika Anda menyanyikan lagu ini hari ini, ingatlah bahwa lagu tersebut adalah "teriakan" dari abad ke-19 yang meminta pendengarnya untuk berhenti berdiam diri dan mulai berkontribusi dalam ladang kemanusiaan yang sedang menanti untuk dilayani.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis dan Latar Belakang
Lagu ini ditulis oleh **John O. Thompson** (1848β1908), seorang penginjil dan penulis lagu asal Amerika Serikat. Liriknya pertama kali dipublikasikan sekitar tahun 1883.
Pada era itu, dunia kekristenan sedang mengalami apa yang disebut sebagai *"The Great Century of Missions"*. Semangat untuk menginjili "bangsa-bangsa yang belum terjangkau" sedang berada di puncaknya. Thompson menulis lagu ini sebagai respons terhadap nubuat Alkitab yang sering dikutip pada masa itu, yakni **Matius 9:37-38**:
> *"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."*
### 2. Makna di Balik Lirik
Lagu ini menggunakan metafora pertanian (pemanenan) sebagai simbol tugas penginjilan. Berikut adalah bedah maknanya:
* **Ladang yang Terhampar Subur:** Merupakan gambaran dunia yang sedang menunggu "pesan keselamatan". Metafora "menguning" (sudah matang) menunjukkan urgensi bahwa waktu untuk menyampaikan Injil sangat terbatas dan harus segera dilakukan.
* **Panggilan bagi Para Penuai:** Lagu ini berfungsi sebagai "panggilan untuk bertindak" (*call to action*). Thompson ingin menghilangkan sikap pasif orang Kristen. Ia menegaskan bahwa tugas ini bukan hanya untuk pendeta atau misionaris profesional, melainkan bagi setiap orang percaya.
* **Tanggung Jawab:** Bait-bait lagu ini menyoroti bahwa banyak jiwa yang sedang terhilang dan menanti untuk "dituai" (diselamatkan), namun yang menjadi kendala utama bukanlah kurangnya ladang, melainkan **kurangnya tenaga kerja**.
### 3. J.B.O. Clemm dan Aransemen Musik
Sering kali nama **J.B.O. Clemm** muncul dalam kredit lagu ini sebagai komposer musiknya. Clemm adalah seorang musisi gerejawi pada masa itu yang mengaransemen melodi lagu ini agar memiliki ritme yang penuh semangat, menggugah, dan mudah dinyanyikan dalam pertemuan-pertemuan kebangunan rohani (*revival meetings*).
Kombinasi lirik Thompson yang mendesak dengan melodi Clemm yang lugas membuat lagu ini sangat populer di gereja-gereja evangelikal di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
### 4. Dampak Lagu dalam Sejarah
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan masuk ke dalam berbagai buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* atau buku himne misi lainnya).
**Mengapa lagu ini sangat penting?**
* **Mobilisasi Misionaris:** Lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian pengutusan misionaris. Banyak tokoh misi pada abad ke-19 dan awal ke-20 mengaku bahwa "panggilan" mereka untuk pergi ke luar negeri terinspirasi saat menyanyikan lagu ini di gereja.
* **Pengingat Urgensi:** Lagu ini tetap relevan karena terus mengingatkan umat Kristen tentang tanggung jawab sosial dan spiritual untuk menjadi "pekerja" di tengah masyarakat.
### Kesimpulan
Kisah di balik *"The Call for Reapers"* adalah kisah tentang **urgensi**. Thompson tidak menulis lagu ini untuk sekadar menghibur, melainkan untuk "mengganggu" kenyamanan orang percaya agar mereka sadar bahwa di luar sana ada kebutuhan besar yang menuntut tindakan nyata.
Jika Anda menyanyikan lagu ini hari ini, ingatlah bahwa lagu tersebut adalah "teriakan" dari abad ke-19 yang meminta pendengarnya untuk berhenti berdiam diri dan mulai berkontribusi dalam ladang kemanusiaan yang sedang menanti untuk dilayani.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.