NKB
'Ku Tahu Negeri Terang
There is a Land of Pure Delight
148
Nomor
Kode
NKB 148
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Tematik
Pengharapan Pemenuhan Janji Allah
Metronom
0
Pencipta Lagu
Tradisional Inggris
Pencipta Syair
Isaac Watts
Penerjemah
YAMUGER
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
‘Ku tahu negeri terang , kudus penduduknya;
tiada malam yang kelam, derita pun enyah.
2
Kembang tak layu s’lamanya, harinya pun cerah;
yang bagi kita di dunia sang maut pemisahnya.
3
Tetapi di tepi Yordan manusia resah
dan takut akan tenggelam, tak mau mengarungnya.
4
Haruslah ragu dan segan dijauhkan segera:
‘kan nampaklah dengan terang neg’ri bahagia
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Ku Tahu Negeri Terang"** (judul asli: *"There is a Land of Pure Delight"*) adalah salah satu himne Kristen paling berpengaruh dalam sejarah. Lagu ini ditulis oleh **Isaac Watts**, bapak himne bahasa Inggris, pada awal abad ke-18.
Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Latar Belakang: Rasa Sakit dan Pemandangan Southampton
Kisah lagu ini berakar pada kondisi fisik Isaac Watts yang lemah dan sering sakit-sakitan. Pada tahun 1707, saat ia masih muda (sekitar usia 33 tahun), ia sedang berada di **Southampton, Inggris**.
Dikisahkan bahwa Watts sedang duduk di tepi sungai **Itchen** yang memisahkan kota Southampton dari desa yang terletak di seberangnya. Desa tersebut bernama **Netley**, di mana terdapat reruntuhan sebuah biara tua yang indah (Netley Abbey).
Di seberang sungai, padang rumput di sana tampak sangat hijau, subur, dan indah, kontras dengan kondisi kesehatan Watts yang rapuh. Saat memandang pemandangan yang tenang dan indah itu, imajinasinya melambung. Ia membayangkan **Surga** sebagai "negeri yang indah" di seberang "sungai maut" yang memisahkan kehidupan duniawi yang penuh penderitaan dengan kehidupan kekal yang damai.
### 2. Teologi di Balik Liriknya
Watts menulis lirik ini dengan pandangan teologis yang sangat kental. Ada beberapa poin utama dalam syairnya:
* **Sungai Maut:** Watts menggambarkan kematian sebagai sebuah sungai sempit yang harus diseberangi. Bagi orang percaya, kematian bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan jembatan menuju "negeri terang".
* **Ketakutan yang Hilang:** Dalam baitnya, ia menulis tentang bagaimana orang sering gemetar di tepi sungai tersebut (takut akan kematian), namun saat melihat kemuliaan yang menanti di seberang, ketakutan itu sirna.
* **Inspirasi Alkitabiah:** Lagu ini sangat terinspirasi dari kitab **Wahyu** mengenai Yerusalem Baru dan gambaran Musa yang memandang tanah Kanaan dari Gunung Nebo (Ulangan 34). Sebagaimana Musa memandang tanah perjanjian sebelum ia menutup mata, Watts memandang Surga sebagai tempat istirahat bagi jiwa yang lelah.
### 3. Struktur Puisi
Lirik aslinya (dalam bahasa Inggris) memiliki rima yang sangat rapi dan gaya bahasa abad ke-18 yang elegan. Berikut adalah terjemahan bait pertamanya yang terkenal:
> *There is a land of pure delight,*
> *Where saints immortal reign;*
> *Infinite day excludes the night,*
> *And pleasures banish pain.*
(Ada negeri yang penuh sukacita murni, di mana orang suci memerintah selamanya; siang yang tak berujung mengusir malam, dan kesenangan menghapus rasa sakit.)
### 4. Pengaruh Lagu Ini
* **Revolusi Musik Gerejawi:** Sebelum Isaac Watts, gereja-gereja Protestan di Inggris umumnya hanya menyanyikan Mazmur (psalms) dengan nada yang monoton. Watts memperkenalkan "himne" (puisi baru tentang iman), yang mengubah cara gereja beribadah. Lagu ini menjadi salah satu karya yang membuktikan bahwa puitisasi iman bisa sangat menyentuh hati.
* **Musik:** Awalnya, lagu ini sering dinyanyikan dengan nada yang cukup bersemangat. Namun, di Amerika Serikat pada abad ke-19, lagu ini sering dihubungkan dengan nada **"Jordan"** (yang diambil dari koleksi *The Sacred Harp*), yang memberikan nuansa melankolis namun penuh pengharapan yang sangat dalam.
### Kesimpulan
"Ku Tahu Negeri Terang" adalah **ekspresi kerinduan seorang yang sakit akan kenyamanan yang abadi.** Isaac Watts tidak menulis lagu ini dari puncak kesuksesan, melainkan dari sudut sunyi di tepi sungai saat ia merasa rapuh.
Lagu ini menjadi pengingat bagi banyak orang selama 300 tahun terakhir bahwa penderitaan di dunia ini hanyalah "sungai sempit" yang harus dilalui, dan di seberangnya, ada "negeri terang" di mana semua air mata akan dihapuskan.
Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Latar Belakang: Rasa Sakit dan Pemandangan Southampton
Kisah lagu ini berakar pada kondisi fisik Isaac Watts yang lemah dan sering sakit-sakitan. Pada tahun 1707, saat ia masih muda (sekitar usia 33 tahun), ia sedang berada di **Southampton, Inggris**.
Dikisahkan bahwa Watts sedang duduk di tepi sungai **Itchen** yang memisahkan kota Southampton dari desa yang terletak di seberangnya. Desa tersebut bernama **Netley**, di mana terdapat reruntuhan sebuah biara tua yang indah (Netley Abbey).
Di seberang sungai, padang rumput di sana tampak sangat hijau, subur, dan indah, kontras dengan kondisi kesehatan Watts yang rapuh. Saat memandang pemandangan yang tenang dan indah itu, imajinasinya melambung. Ia membayangkan **Surga** sebagai "negeri yang indah" di seberang "sungai maut" yang memisahkan kehidupan duniawi yang penuh penderitaan dengan kehidupan kekal yang damai.
### 2. Teologi di Balik Liriknya
Watts menulis lirik ini dengan pandangan teologis yang sangat kental. Ada beberapa poin utama dalam syairnya:
* **Sungai Maut:** Watts menggambarkan kematian sebagai sebuah sungai sempit yang harus diseberangi. Bagi orang percaya, kematian bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan jembatan menuju "negeri terang".
* **Ketakutan yang Hilang:** Dalam baitnya, ia menulis tentang bagaimana orang sering gemetar di tepi sungai tersebut (takut akan kematian), namun saat melihat kemuliaan yang menanti di seberang, ketakutan itu sirna.
* **Inspirasi Alkitabiah:** Lagu ini sangat terinspirasi dari kitab **Wahyu** mengenai Yerusalem Baru dan gambaran Musa yang memandang tanah Kanaan dari Gunung Nebo (Ulangan 34). Sebagaimana Musa memandang tanah perjanjian sebelum ia menutup mata, Watts memandang Surga sebagai tempat istirahat bagi jiwa yang lelah.
### 3. Struktur Puisi
Lirik aslinya (dalam bahasa Inggris) memiliki rima yang sangat rapi dan gaya bahasa abad ke-18 yang elegan. Berikut adalah terjemahan bait pertamanya yang terkenal:
> *There is a land of pure delight,*
> *Where saints immortal reign;*
> *Infinite day excludes the night,*
> *And pleasures banish pain.*
(Ada negeri yang penuh sukacita murni, di mana orang suci memerintah selamanya; siang yang tak berujung mengusir malam, dan kesenangan menghapus rasa sakit.)
### 4. Pengaruh Lagu Ini
* **Revolusi Musik Gerejawi:** Sebelum Isaac Watts, gereja-gereja Protestan di Inggris umumnya hanya menyanyikan Mazmur (psalms) dengan nada yang monoton. Watts memperkenalkan "himne" (puisi baru tentang iman), yang mengubah cara gereja beribadah. Lagu ini menjadi salah satu karya yang membuktikan bahwa puitisasi iman bisa sangat menyentuh hati.
* **Musik:** Awalnya, lagu ini sering dinyanyikan dengan nada yang cukup bersemangat. Namun, di Amerika Serikat pada abad ke-19, lagu ini sering dihubungkan dengan nada **"Jordan"** (yang diambil dari koleksi *The Sacred Harp*), yang memberikan nuansa melankolis namun penuh pengharapan yang sangat dalam.
### Kesimpulan
"Ku Tahu Negeri Terang" adalah **ekspresi kerinduan seorang yang sakit akan kenyamanan yang abadi.** Isaac Watts tidak menulis lagu ini dari puncak kesuksesan, melainkan dari sudut sunyi di tepi sungai saat ia merasa rapuh.
Lagu ini menjadi pengingat bagi banyak orang selama 300 tahun terakhir bahwa penderitaan di dunia ini hanyalah "sungai sempit" yang harus dilalui, dan di seberangnya, ada "negeri terang" di mana semua air mata akan dihapuskan.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.