NKB
Kasihku PadaMu Tambahkanlah
More Love to Thee
141
Nomor
Kode
NKB 141
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Tematik
Doa Setiap Hari
Metronom
0
Pencipta Lagu
William H. Doane
Pencipta Syair
Elizabeth P. Prentiss
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI
Cross Ref.
NKI 68, NP 301, KPPK 271
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
Kasihku padaMu tambahkanlah!
Ya Kristus Tuhanku, o, dengarlah!
‘Ku mohon tak henti: Tambahkan kasihku,
makin besar kepadaMu!
2
Dahulu dunia andalanku,
kini Engkau, Tuhan, harapanku.
Inilah doaku: Tambahkan kasihku,
makin besar kepadaMu!
3
Walaupun badai k’ras memukulku,
namun penghiburku malak kudus.
Inilah laguku: Tambahkan kasihku,
makin besar kepadaMu!
4
Sungguh pun ajalku t’lah menjelang
pujian bagiMu tak berselang.
Tak lain doaku: Tambahkan kasihku,
makin besar kepadaMu!
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
4 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"More Love to Thee, O Christ"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Kasihku Pada-Mu, Tambahkanlah"*) adalah salah satu himne yang paling menyentuh hati dalam sejarah kekristenan. Lagu ini bukan lahir dari kegembiraan yang meluap-luap, melainkan dari kedalaman duka yang mendalam dan pergumulan pribadi penulisnya, **Elizabeth Prentiss**.
Berikut adalah kisah di balik terciptanya himne tersebut:
### 1. Latar Belakang Elizabeth Prentiss
Elizabeth Prentiss (1818–1878) adalah seorang penulis dari Amerika yang cerdas dan taat. Ia menikah dengan seorang pendeta bernama George Prentiss. Kehidupan rumah tangga mereka penuh dengan kasih, namun juga penuh dengan ujian yang sangat berat.
Pada pertengahan abad ke-19, angka kematian anak sangat tinggi. Elizabeth mengalami tragedi yang menghancurkan hatinya: ia kehilangan dua orang anaknya dalam waktu yang relatif singkat. Kehilangan ini membawa Elizabeth ke dalam masa berkabung yang sangat kelam. Ia merasa seolah-olah Tuhan sedang menjauh atau membiarkan rasa sakit yang tak tertahankan itu terjadi padanya.
### 2. Momen Perenungan yang Pahit
Dalam pergumulannya, Elizabeth tidak memalingkan diri dari Tuhan, melainkan justru bergumul *bersama* Tuhan. Ia merasa bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan lebih mengandalkan Kristus.
Pada suatu hari di tahun 1856, saat ia sedang duduk sendirian dan merenungkan hubungan pribadinya dengan Allah di tengah penderitaan, ia menuliskan baris-baris puisi di sebuah buku catatan kecil. Puisi itu adalah curahan hatinya yang jujur: bahwa meskipun ia telah kehilangan banyak hal di dunia, kerinduan terdalamnya bukanlah untuk mendapatkan kembali kenyamanan duniawi, melainkan untuk memiliki hubungan yang lebih intim dengan Kristus.
Ia menulis bait pertama:
> *"More love to Thee, O Christ, more love to Thee! / Hear Thou the prayer I make on bended knee."*
> (Kasihku pada-Mu, Tambahkanlah, ya Kristus, dengarlah doaku di lututku).
### 3. Lagu yang Disimpan sebagai Privasi
Awalnya, puisi tersebut **tidak dimaksudkan untuk dipublikasikan**. Elizabeth menulisnya hanya sebagai doa pribadi. Selama 13 tahun, puisi tersebut tersimpan di dalam buku catatannya tanpa diketahui orang lain.
Baru pada tahun 1869, saat suaminya sedang pergi dalam perjalanan dinas, Elizabeth mengeluarkan puisi itu dan mengirimkannya kepada suaminya sebagai ungkapan isi hatinya. Suaminya, yang melihat keindahan dan kedalaman spiritual dalam lirik tersebut, diam-diam mengirimkannya kepada seorang penerbit musik tanpa sepengetahuan Elizabeth.
### 4. Peran William H. Doane
Lirik tersebut kemudian sampai ke tangan **William Howard Doane**, seorang komposer musik rohani yang sangat produktif pada masa itu. Doane, yang dikenal mampu menciptakan melodi yang mampu menangkap emosi lirik dengan sangat baik, menggubah musik untuk kata-kata Elizabeth.
Lagu ini kemudian diterbitkan dalam sebuah koleksi himne dan segera menjadi sangat populer. Lagu ini menyentuh hati banyak orang, terutama mereka yang juga sedang mengalami masa-masa sulit dalam hidup mereka.
### Makna di Balik Liriknya
Jika kita memperhatikan liriknya dengan seksama:
* **"More love to Thee"**: Ini adalah pengakuan bahwa meski ia sudah mengasihi Tuhan, ia merasa masih kurang. Di tengah duka, ia tidak meminta kesembuhan dari rasa sakit, tetapi ia meminta **lebih banyak kasih** agar ia mampu menanggung rasa sakit itu bersama Kristus.
* **"Let sorrow do its work"**: Ini adalah bagian yang sangat dalam. Ia rela membiarkan dukacita menjadi alat untuk mendewasakan imannya. Ia tidak menolak penderitaan, tetapi menjadikannya jembatan untuk mendekat kepada Tuhan.
### Warisan
Elizabeth Prentiss meninggal dunia pada tahun 1878, sekitar 22 tahun setelah ia menulis puisi tersebut. Hingga saat ini, "More Love to Thee, O Christ" tetap menjadi salah satu himne yang paling sering dinyanyikan dalam upacara kedukaan atau momen perenungan pribadi di seluruh dunia.
Kisah lagu ini mengajarkan kita bahwa **penderitaan bukan alasan untuk menjauh dari Tuhan, melainkan sarana untuk mengalami kasih-Nya yang lebih dalam dan lebih nyata.** Elizabeth Prentiss mengubah air matanya menjadi sebuah doa abadi yang terus menguatkan jutaan orang yang sedang berjalan dalam "lembah kekelaman".
Berikut adalah kisah di balik terciptanya himne tersebut:
### 1. Latar Belakang Elizabeth Prentiss
Elizabeth Prentiss (1818–1878) adalah seorang penulis dari Amerika yang cerdas dan taat. Ia menikah dengan seorang pendeta bernama George Prentiss. Kehidupan rumah tangga mereka penuh dengan kasih, namun juga penuh dengan ujian yang sangat berat.
Pada pertengahan abad ke-19, angka kematian anak sangat tinggi. Elizabeth mengalami tragedi yang menghancurkan hatinya: ia kehilangan dua orang anaknya dalam waktu yang relatif singkat. Kehilangan ini membawa Elizabeth ke dalam masa berkabung yang sangat kelam. Ia merasa seolah-olah Tuhan sedang menjauh atau membiarkan rasa sakit yang tak tertahankan itu terjadi padanya.
### 2. Momen Perenungan yang Pahit
Dalam pergumulannya, Elizabeth tidak memalingkan diri dari Tuhan, melainkan justru bergumul *bersama* Tuhan. Ia merasa bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan lebih mengandalkan Kristus.
Pada suatu hari di tahun 1856, saat ia sedang duduk sendirian dan merenungkan hubungan pribadinya dengan Allah di tengah penderitaan, ia menuliskan baris-baris puisi di sebuah buku catatan kecil. Puisi itu adalah curahan hatinya yang jujur: bahwa meskipun ia telah kehilangan banyak hal di dunia, kerinduan terdalamnya bukanlah untuk mendapatkan kembali kenyamanan duniawi, melainkan untuk memiliki hubungan yang lebih intim dengan Kristus.
Ia menulis bait pertama:
> *"More love to Thee, O Christ, more love to Thee! / Hear Thou the prayer I make on bended knee."*
> (Kasihku pada-Mu, Tambahkanlah, ya Kristus, dengarlah doaku di lututku).
### 3. Lagu yang Disimpan sebagai Privasi
Awalnya, puisi tersebut **tidak dimaksudkan untuk dipublikasikan**. Elizabeth menulisnya hanya sebagai doa pribadi. Selama 13 tahun, puisi tersebut tersimpan di dalam buku catatannya tanpa diketahui orang lain.
Baru pada tahun 1869, saat suaminya sedang pergi dalam perjalanan dinas, Elizabeth mengeluarkan puisi itu dan mengirimkannya kepada suaminya sebagai ungkapan isi hatinya. Suaminya, yang melihat keindahan dan kedalaman spiritual dalam lirik tersebut, diam-diam mengirimkannya kepada seorang penerbit musik tanpa sepengetahuan Elizabeth.
### 4. Peran William H. Doane
Lirik tersebut kemudian sampai ke tangan **William Howard Doane**, seorang komposer musik rohani yang sangat produktif pada masa itu. Doane, yang dikenal mampu menciptakan melodi yang mampu menangkap emosi lirik dengan sangat baik, menggubah musik untuk kata-kata Elizabeth.
Lagu ini kemudian diterbitkan dalam sebuah koleksi himne dan segera menjadi sangat populer. Lagu ini menyentuh hati banyak orang, terutama mereka yang juga sedang mengalami masa-masa sulit dalam hidup mereka.
### Makna di Balik Liriknya
Jika kita memperhatikan liriknya dengan seksama:
* **"More love to Thee"**: Ini adalah pengakuan bahwa meski ia sudah mengasihi Tuhan, ia merasa masih kurang. Di tengah duka, ia tidak meminta kesembuhan dari rasa sakit, tetapi ia meminta **lebih banyak kasih** agar ia mampu menanggung rasa sakit itu bersama Kristus.
* **"Let sorrow do its work"**: Ini adalah bagian yang sangat dalam. Ia rela membiarkan dukacita menjadi alat untuk mendewasakan imannya. Ia tidak menolak penderitaan, tetapi menjadikannya jembatan untuk mendekat kepada Tuhan.
### Warisan
Elizabeth Prentiss meninggal dunia pada tahun 1878, sekitar 22 tahun setelah ia menulis puisi tersebut. Hingga saat ini, "More Love to Thee, O Christ" tetap menjadi salah satu himne yang paling sering dinyanyikan dalam upacara kedukaan atau momen perenungan pribadi di seluruh dunia.
Kisah lagu ini mengajarkan kita bahwa **penderitaan bukan alasan untuk menjauh dari Tuhan, melainkan sarana untuk mengalami kasih-Nya yang lebih dalam dan lebih nyata.** Elizabeth Prentiss mengubah air matanya menjadi sebuah doa abadi yang terus menguatkan jutaan orang yang sedang berjalan dalam "lembah kekelaman".
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
NKI 68, NP 301, KPPK 271
271
Lebih Kasihi-Mu, O Tuhanku
68
Tambahlah Kasihku Akan Tuhan
301
Banyakkan Kasihku
Tema :
Doa Setiap Hari