Bekasi, Cikarang & Karawang
106
Nomor
Kode
NKB 106
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Tematik
Pencurahan Roh Kudus / Pentakosta
Metronom
0
Jumlah Bait
5 bait
Pencipta Lagu
W.S. Marshal
Pencipta Syair
Manie Payne Ferguson
Penerjemah
F. Suleeman
Cross Ref.
NKI 183
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
1
Hidup dalam sukacita limpah ruah dan penuh; Roh Penghibur sudah datang, tinggal dalam hatiku. Sungguh indahlah, sungguh ajaiblah, dan hatiku pun lega. Dalam badai laut damai diberi, nanti ombak ‘kan reda.
2
Hidup baru , kesenangan, sudah diberikanNya; Keraguan, kesedihan, pun dihapus olehNya. Sungguh indahlah, sungguh ajaiblah, dan hatiku pun lega. Dalam badai laut damai diberi, nanti ombak ‘kan reda.
3
Bagai sinar sang mentari, bagai angin yang kencang; T’lah tercurah Roh Ilahi dari sorga yang cerlang. Sungguh indahlah, sungguh ajaiblah, dan hatiku pun lega. Dalam badai laut damai diberi, nanti ombak ‘kan reda.
4
Lihat, buah kebenaran tampak indah berseri; Sudah hadir kehidupan dalam gurun yang sepi. Sungguh indahlah, sungguh ajaiblah, dan hatiku pun lega. Dalam badai laut damai diberi, nanti ombak ‘kan reda.
5
Sungguh ajaib kes’lamatan, bertemu Mukhalisku; dan sempurna kediaman dalam rumah Bapaku. Sungguh indahlah, sungguh ajaiblah, dan hatiku pun lega. Dalam badai laut damai diberi, nanti ombak ‘kan reda.
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 106
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — NKB 106 1
Slide 2 — NKB 106 2
Slide 3 — NKB 106 3
Slide 4 — NKB 106 4
Slide 5 — NKB 106 5
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Hidup dalam Sukacita"** (judul asli bahasa Inggris: **"Blessed Quietness"**) adalah salah satu lagu rohani klasik yang sangat dicintai karena melodi dan liriknya yang menenangkan jiwa.

Di balik lagu yang megah ini, terdapat kisah tentang pencarian ketenangan batin di tengah dunia yang penuh kekacauan. Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:

### 1. Sosok Penulis: Manie Payne Ferguson
Lagu ini ditulis oleh **Manie Payne Ferguson** (1850–1932). Ia adalah seorang penginjil, penulis, dan musisi yang aktif pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Manie menikah dengan William Stewart (W.S.) Ferguson.

### 2. Latar Belakang Penulisan (Tahun 1897)
Kisah penciptaan lagu ini berakar pada pengalaman pribadi Manie Ferguson akan **"Ketenangan yang Ilahi"** (*Blessed Quietness*).

Pada tahun 1897, Manie sedang mengalami masa-masa di mana ia merasa lelah secara rohani dan emosional karena kesibukan pelayanannya. Di tengah tuntutan pekerjaan dan hiruk-pikuk kehidupan, ia merindukan sebuah kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh dunia.

Suatu hari, saat ia sedang berdoa dan merenungkan janji Tuhan, ia mengalami sebuah momen perjumpaan spiritual yang mendalam. Ia merasa seolah-olah "badai" di dalam jiwanya tiba-tiba reda, digantikan oleh kesadaran akan kehadiran Tuhan yang sangat nyata. Ia merasakan sebuah kedamaian yang melampaui segala akal.

Dari pengalaman itulah ia menulis lirik lagu ini. Ia ingin menyampaikan bahwa meskipun badai kehidupan (penderitaan, kecemasan, konflik) mungkin berkecamuk di sekitar kita, orang percaya bisa tetap memiliki "ketenangan yang diberkati" di dalam hati karena persekutuan dengan Kristus.

### 3. Makna Liriknya
Lirik lagu ini menggambarkan kontras antara dunia luar yang kacau dan kedamaian di dalam hati:

* **Bait 1:** Menggambarkan sukacita yang memenuhi jiwa dan kedamaian yang tak terlukiskan (*"Joy within my soul sweeps like a river"*).
* **Reff:** Menjadi inti dari lagu ini, yaitu tentang *Blessed Quietness*. Ia menyebutnya sebagai "sebuah ketenangan yang kudus" (*a holy quietness*), yang ia rasakan mengalir dari kehadiran Tuhan Yesus.

### 4. Peran W.S. Marshal (W.S. Ferguson)
Sering kali nama **W.S. Marshal** atau **W.S. Ferguson** muncul dalam kredit lagu ini. William Stewart Ferguson, suami Manie, adalah orang yang sangat mendukung pelayanan istrinya. Mereka berdua sering bekerja sama dalam menulis lagu-lagu rohani. Dalam banyak literatur musik gerejawi, lagu ini dikaitkan dengan mereka berdua karena kontribusi keduanya dalam aransemen musik dan penyebaran lagu tersebut melalui pelayanan mereka.

### 5. Dampak Lagu Ini
Lagu "Blessed Quietness" menjadi sangat populer di kalangan gerakan kekudusan (*Holiness Movement*) di Amerika Serikat pada zamannya. Lagu ini tidak hanya menjadi lagu pujian, tetapi juga menjadi sebuah "doa" yang dinyanyikan oleh banyak orang yang mencari ketenangan di tengah depresi, duka, atau tekanan hidup yang berat.

### Kesimpulan
Lagu ini bukan sekadar hasil karya sastra, melainkan **kesaksian hidup**. Manie Payne Ferguson tidak menulis lagu ini karena teori teologi semata, tetapi karena ia benar-benar telah "mencicipi" ketenangan yang ia tuliskan.

Pesan abadi dari lagu ini adalah bahwa **kedamaian sejati bukanlah ketidakhadiran masalah, melainkan kehadiran Tuhan di dalam diri kita**, yang membuat jiwa kita tetap tenang meski badai sedang mengamuk di luar.

---
*Catatan: Di Indonesia, lagu ini sangat populer dalam bahasa Indonesia dengan judul "Hidup dalam Sukacita" dan sering dinyanyikan dalam berbagai ibadah gerejawi, terutama sebagai lagu refleksi.*

Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.