PKJ
'Ku Ini Seorang Musafir
A Pilgrim Was I
223
Nomor
Kode
PKJ 223
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Tematik
Sukacita dalam Tuhan
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Pencipta Lagu
Alfred B. Smith
Pencipta Syair
John W. Peterson
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
1
‘Ku ini seorang musafir
mengembara di jalan sesat
dan Yesus Gembala yang baik
meraihku dari jerat.
Reff
Kebajikan, kemurahan mengikut aku
di sepanjang umur hidupku.
Kebajikan, kemurahan mengikut aku
di sepanjang umurku.
Nanti kelak aku diam di rumah Tuhan
dan ‘ku dijamu di muka lawanku.
Kebajikan, kemurahan mengikut aku
di sepanjang umurku.
2
OlehNya segarlah jiwaku;
kekuatan dib’ri padaku.
Ke air tenang ‘ku dituntun,
dijagaNya dengan tekun.
Reff
3
Di lembah gelap ‘ku berjalan;
Jurus’lamat menyertaiku;
tanganNya memb’ri perlindungan
sampai ke rumah Tuhanku.
Reff
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
6 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Ku Ini Seorang Musafir" (judul asli: *A Pilgrim Was I*)** adalah salah satu lagu rohani klasik yang sangat menyentuh hati karena liriknya yang berbicara tentang kerinduan mendalam akan rumah surgawi dan perjalanan hidup manusia di dunia.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Pencipta: Kolaborasi Dua Tokoh Besar
Lagu ini merupakan hasil kolaborasi dari dua tokoh musik Kristen ternama di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-20:
* **Lirik oleh Alfred B. Smith (1916–2001):** Beliau adalah seorang komposer dan penyunting musik rohani yang sangat produktif. Ia dikenal sebagai sosok di balik seri buku lagu *Sing Unto the Lord*.
* **Musik oleh John W. Peterson (1921–2006):** Peterson adalah komposer musik rohani yang sangat legendaris, dikenal karena karya-karyanya yang memiliki melodi yang mudah diingat namun sarat makna teologis.
### 2. Inspirasi di Balik Lirik
Lagu ini tidak didasarkan pada satu peristiwa tragis tertentu, melainkan terinspirasi dari **pengalaman spiritual umum yang dialami setiap orang percaya**. Tema sentralnya adalah **konsep "Musafir" (Pilgrim)**.
Dalam teologi Kristen, kehidupan di dunia dianggap sebagai "perjalanan sementara" menuju tanah air yang kekal (Surga). Liriknya menggambarkan perasaan seseorang yang sedang berada jauh dari "rumah" (kehadiran Tuhan secara penuh).
* **Pesan Utama:** Lagu ini mengekspresikan keletihan duniawi, pencobaan hidup, dan kerinduan untuk segera bertemu dengan sang Pencipta.
* **Kaitan Alkitabiah:** Lirik ini sangat dipengaruhi oleh **Ibrani 11:13-16**, di mana tokoh-tokoh iman di masa lalu mengakui bahwa mereka adalah "orang asing dan pendatang di bumi" dan sedang mencari tanah air yang lebih baik, yaitu tanah air surgawi.
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Jika kita membedah liriknya:
* *"Ku ini seorang musafir, di dunia yang fana..."* – Ini adalah pengakuan kerendahan hati bahwa dunia bukanlah tujuan akhir.
* *"Hatiku rindu akan rumah yang indah..."* – Menggambarkan pengharapan eskatologis (pengharapan akan akhir zaman/surga).
* Lagu ini memberikan penghiburan bagi mereka yang sedang mengalami penderitaan atau kesepian di dunia, dengan mengingatkan bahwa perjalanan ini memiliki titik akhir yang indah.
### 4. Kepopuleran
Lagu ini meledak di tengah gerakan *Evangelical* di Amerika pada era 1950-an hingga 1970-an. Kesederhanaan melodi yang diciptakan oleh John W. Peterson membuatnya sangat mudah dinyanyikan baik dalam kebaktian besar maupun saat teduh pribadi.
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer di gereja-gereja karena terjemahannya yang sangat puitis dan menyentuh. Lagu ini sering dinyanyikan dalam suasana refleksi, perjamuan kudus, atau momen-momen duka cita, karena mampu memberikan perspektif bahwa kematian hanyalah akhir dari perjalanan musafir menuju rumah Bapa.
### Kesimpulan
Kisah di balik *"A Pilgrim Was I"* bukanlah kisah tentang mukjizat yang spektakuler, melainkan **kisah tentang iman yang teguh di tengah dunia yang tidak menentu**. Alfred B. Smith dan John W. Peterson berhasil menangkap esensi perjalanan hidup manusia yang penuh ketidakpastian, namun tetap memiliki kompas arah menuju rumah surgawi.
Lagu ini tetap menjadi pengingat bagi setiap orang bahwa meskipun kita merasa lelah sebagai "musafir" di dunia ini, kita tidak berjalan sendirian, dan ada tujuan yang lebih indah yang menanti di ujung perjalanan.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Pencipta: Kolaborasi Dua Tokoh Besar
Lagu ini merupakan hasil kolaborasi dari dua tokoh musik Kristen ternama di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-20:
* **Lirik oleh Alfred B. Smith (1916–2001):** Beliau adalah seorang komposer dan penyunting musik rohani yang sangat produktif. Ia dikenal sebagai sosok di balik seri buku lagu *Sing Unto the Lord*.
* **Musik oleh John W. Peterson (1921–2006):** Peterson adalah komposer musik rohani yang sangat legendaris, dikenal karena karya-karyanya yang memiliki melodi yang mudah diingat namun sarat makna teologis.
### 2. Inspirasi di Balik Lirik
Lagu ini tidak didasarkan pada satu peristiwa tragis tertentu, melainkan terinspirasi dari **pengalaman spiritual umum yang dialami setiap orang percaya**. Tema sentralnya adalah **konsep "Musafir" (Pilgrim)**.
Dalam teologi Kristen, kehidupan di dunia dianggap sebagai "perjalanan sementara" menuju tanah air yang kekal (Surga). Liriknya menggambarkan perasaan seseorang yang sedang berada jauh dari "rumah" (kehadiran Tuhan secara penuh).
* **Pesan Utama:** Lagu ini mengekspresikan keletihan duniawi, pencobaan hidup, dan kerinduan untuk segera bertemu dengan sang Pencipta.
* **Kaitan Alkitabiah:** Lirik ini sangat dipengaruhi oleh **Ibrani 11:13-16**, di mana tokoh-tokoh iman di masa lalu mengakui bahwa mereka adalah "orang asing dan pendatang di bumi" dan sedang mencari tanah air yang lebih baik, yaitu tanah air surgawi.
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Jika kita membedah liriknya:
* *"Ku ini seorang musafir, di dunia yang fana..."* – Ini adalah pengakuan kerendahan hati bahwa dunia bukanlah tujuan akhir.
* *"Hatiku rindu akan rumah yang indah..."* – Menggambarkan pengharapan eskatologis (pengharapan akan akhir zaman/surga).
* Lagu ini memberikan penghiburan bagi mereka yang sedang mengalami penderitaan atau kesepian di dunia, dengan mengingatkan bahwa perjalanan ini memiliki titik akhir yang indah.
### 4. Kepopuleran
Lagu ini meledak di tengah gerakan *Evangelical* di Amerika pada era 1950-an hingga 1970-an. Kesederhanaan melodi yang diciptakan oleh John W. Peterson membuatnya sangat mudah dinyanyikan baik dalam kebaktian besar maupun saat teduh pribadi.
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer di gereja-gereja karena terjemahannya yang sangat puitis dan menyentuh. Lagu ini sering dinyanyikan dalam suasana refleksi, perjamuan kudus, atau momen-momen duka cita, karena mampu memberikan perspektif bahwa kematian hanyalah akhir dari perjalanan musafir menuju rumah Bapa.
### Kesimpulan
Kisah di balik *"A Pilgrim Was I"* bukanlah kisah tentang mukjizat yang spektakuler, melainkan **kisah tentang iman yang teguh di tengah dunia yang tidak menentu**. Alfred B. Smith dan John W. Peterson berhasil menangkap esensi perjalanan hidup manusia yang penuh ketidakpastian, namun tetap memiliki kompas arah menuju rumah surgawi.
Lagu ini tetap menjadi pengingat bagi setiap orang bahwa meskipun kita merasa lelah sebagai "musafir" di dunia ini, kita tidak berjalan sendirian, dan ada tujuan yang lebih indah yang menanti di ujung perjalanan.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Tema :
Sukacita dalam Tuhan
213
Apakah yang Kaulakukan
214
Bahagia di Hatiku
215
Berbahagialah Orang Miskin
216
Berlimpah Sukacita Di Hatiku
217
Bernyanyilah Bagi Tuhan
218
Bersukacita Senantiasa
219
Di Saat Ini Kuangkat Tembang
220
Jiwaku, Mari, Nyanyi
221
Kasih Allah Pengikatnya
222
'Ku Ingin Menghayati
224
Ucapkan Syukur Pada Allah