Bekasi, Cikarang & Karawang
60
Nomor
Kode
PKJ 60
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Tematik
Masa Adven, Masa Natal, dan Epifania
Metronom
0
Pencipta Lagu
tradisional Prancis
Pencipta Syair
Valentin Thilo
Cross Ref.
60
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
1
Hai umat manusia, siapkan hatimu dan sambutlah Mesias, Juruselamatmu! ‘kan datang segera Terang dan kehidupan yang dijanjikan Tuhan mengingat rahmatNya.
2
Terima Tamu Agung, siapkan jalanNya! Semua batu sandung singkirkan segera. Timbunilah lembah, ratakanlah yang tinggi, Yang bengkok dan yang miring luruskan bagiNya!
3
Tuhan ‘kan meninggikan yang suka merendah; olehNya disingkirkan yang angkuh bermegah. Yang tulus hatinya niscaya dilayakkan Menyambut kedatangan Sang Raja Mulia.
4
Dimasa suci ini ‘ku mohon padaMu: Ya Yesus, Kau sendiri siapkan diriku. Hatiku ubahlah, jadikanlah palungan tempat ‘ku mengagungkan namaMu s’lamanya.
Partitur / Not
Partitur Chord PKJ 60
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — PKJ 60 1
Slide 2 — PKJ 60 2
Slide 3 — PKJ 60 3
Slide 4 — PKJ 60 4
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Hai Umat Manusia"** (dalam bahasa Jerman berjudul *Mit Ernst, o Menschenkinder*) adalah sebuah himne klasik yang memiliki akar mendalam dalam tradisi teologi dan sastra Jerman abad ke-17. Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan sebuah seruan pertobatan yang lahir di tengah pergolakan sejarah Eropa.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Penulis Lirik: Valentin Thilo (1607–1662)
Lirik asli lagu ini ditulis oleh **Valentin Thilo**, seorang profesor retorika dan penyair asal Königsberg (saat itu bagian dari Prusia, sekarang Kaliningrad, Rusia).

Thilo hidup di masa yang sangat sulit. Ia adalah bagian dari era **Perang Tiga Puluh Tahun** (*Thirty Years' War*), sebuah konflik keagamaan dan politik yang menghancurkan sebagian besar Eropa Tengah. Kehidupan pada masa itu dipenuhi dengan kematian, kelaparan, dan wabah penyakit. Tulisan-tulisan Thilo mencerminkan pandangan dunia yang serius, di mana ia melihat kehidupan duniawi sebagai sesuatu yang singkat dan rapuh, sehingga manusia harus bersiap untuk menghadapi kekekalan.

### 2. Konteks Teologis: Masa Adven dan Pertobatan
Dalam tradisi Lutheran Jerman, *Mit Ernst, o Menschenkinder* sering dinyanyikan pada masa **Adven**. Berbeda dengan suasana Adven modern yang sering kali dianggap ceria, di abad ke-17, Adven adalah masa kontemplasi yang khidmat.

Lagu ini merupakan seruan agar umat manusia berhenti sejenak dari kesibukan duniawi yang fana dan mulai memikirkan "hari penghakiman" atau kedatangan Tuhan. Judulnya sendiri, *Mit Ernst* (Dengan Kesungguhan), menekankan bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.

### 3. Asal Usul Melodi: Tradisi Prancis yang Diadopsi
Menariknya, melodi yang digunakan dalam himne ini memiliki sejarah yang cukup unik. Banyak himne Jerman pada masa itu mengadopsi melodi dari lagu-lagu rakyat atau melodi yang sudah populer di Eropa.

Melodi yang paling umum dikaitkan dengan *Mit Ernst, o Menschenkinder* berasal dari sebuah lagu tradisional Prancis yang berjudul **"Es ist ein' Ros' entsprungen"** atau terkadang dikaitkan dengan melodi yang juga digunakan dalam koleksi lagu-lagu rohani Prancis kuno. Transmisi melodi ini melalui buku-buku nyanyian jemaat (*Choralbuch*) Jerman menjadikannya identitas kuat bagi jemaat Lutheran.

### 4. Makna dan Pesan Lagu
Jika kita membedah isi liriknya (dalam versi terjemahan Indonesia atau aslinya), lagu ini memiliki alur pemikiran yang progresif:
* **Panggilan:** Mengajak manusia untuk sadar akan kefanaan.
* **Peringatan:** Mengingatkan bahwa dunia ini tidak kekal.
* **Harapan:** Mengarahkan pandangan manusia kepada keselamatan yang datang dari Allah.

Lagu ini berfungsi sebagai "cermin" bagi umat untuk mengoreksi diri, menyadari dosa, dan mencari kedamaian batin sebelum akhir zaman tiba.

### 5. Mengapa Lagu ini Tetap Relevan?
Di Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan dan dinyanyikan di gereja-gereja (terutama gereja dengan akar tradisi Jerman/Luteran) karena kedalaman teologisnya. Meskipun menggunakan bahasa yang mungkin terasa "kuno" atau sangat serius bagi telinga modern, pesan tentang **kesadaran akan waktu** dan **pentingnya hidup dengan kesungguhan hati** tetap menjadi tema universal yang bisa dirasakan oleh siapa saja, terlepas dari latar belakang zamannya.

**Ringkasan:**
* **Penulis:** Valentin Thilo (1642).
* **Zaman:** Perang Tiga Puluh Tahun (masa penuh duka dan pencarian spiritual).
* **Tujuan:** Mengajak umat untuk bertobat dan mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan (masa Adven).
* **Karakteristik:** Serius, introspektif, dan memiliki nada melodi yang klasik/barok.

Lagu ini adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang kacau, manusia membutuhkan jangkar spiritual—sebuah tradisi yang tetap dijaga oleh banyak komunitas Kristen hingga hari ini.

Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.