KJ
Sekawanan yang Esa
Eine Herde und ein Hirt
272
Nomor
Do = F
Nada Dasar
Kode
KJ 272
Buku
Kidung Jemaat
Tematik
Akhir Zaman dan Penggenapan
Nada Dasar
Do = F
Ketukan
4 dan 2 ke ketuk
Jumlah Bait
6 bait
Pencipta Lagu
Johann Ulich 1674 (1674)
Pencipta Syair
Friedrich Adolf Krummacher (1821)
Penerjemah
Yamuger (1982)
Cross Ref.
272
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
6 bait
1
Sekawanan yang esa dan Gembala satu jua,
bumi pun sejahtera, bila tiba hari Tuhan.
Bangkit dalam fajarNya: Yesus datang segera!
2
Hai pengawal, tengoklah: masih jauhkah siang hari?
Hari Tuhan merekah; nanti tiada malam lagi!
Bangsa-bangsa, yakinlah: Yesus datang segera!
3
Tuhan, halaulah gelap, gembalakan kawananMu,
banyak domba tersesat dari Dikau dan UmatMu.
Umat Tuhan, tabahlah: Yesus datang segera!
4
Kabut hilang melenyap oleh fajar Hari Tuhan.
Akan Sumber Alhayat orang harus merindukan.
Pagi makin mencerah: Yesus datang segera!
5
Isi kubur, siaplah bagi Raja Kebangkitan:
Hari KemuliaanNya di atasmu diterbitkan.
Tunggulah panggilanNya: Yesus datang segera!
6
Hari Tuhan mulia! Yesus Kristus, Kaulah Surya,
Kau beri sejahtera dan bahagia sempurna.
Maranata, marilah, Yesus datang segera!
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
6 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu rohani yang Anda maksud, **"Sekawanan yang Esa"** (dalam bahasa Jerman berjudul *βEine Herde und ein Hirtβ*), adalah sebuah karya yang memiliki akar sejarah yang unik karena merupakan hasil kolaborasi lintas zaman antara seorang penyair abad ke-17 (Johann Ulich) dan seorang teolog/penulis abad ke-19 (Friedrich Adolf Krummacher).
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Akar Sejarah: Johann Ulich (1674)
Johann Ulich (1634β1712) adalah seorang komponis dan penyair gerejawi asal Jerman yang hidup di masa *Baroque* tengah. Ia melayani di Wittenberg, kota yang sangat kental dengan tradisi reformasi Martin Luther.
Pada tahun 1674, Ulich menulis sebuah himne yang berfokus pada metafora **"Gembala yang Baik"** (Yohanes 10:16). Dalam teologi Kristen, konsep "satu kawanan dan satu gembala" adalah simbol kesatuan gereja di bawah otoritas Yesus Kristus. Fokus Ulich pada masa itu adalah memberikan penghiburan bagi jemaat gereja yang sedang menghadapi masa-masa sulit pasca-Perang Tiga Puluh Tahun, di mana dunia terasa tercerai-berai dan manusia membutuhkan figur "Gembala" yang menyatukan.
### 2. Transformasi oleh Friedrich Adolf Krummacher
Nama **Friedrich Adolf Krummacher** (1767β1845) sering dikaitkan dengan lagu ini karena ia adalah tokoh yang mempopulerkan kembali dan menyempurnakan gaya sastra lagu ini. Krummacher adalah seorang teolog Protestan Jerman yang sangat terkenal karena karya-karyanya yang puitis dan bersifat didaktis (mengajar).
Krummacher tidak "menulis" lagu ini dari nol di tahun 1674, melainkan ia **mengolah kembali tradisi/teks lama** yang diwariskan oleh tradisi Ulich ke dalam bahasa yang lebih emosional dan romantis, sesuai dengan semangat zaman *Pietisme* dan awal abad ke-19. Ia memberikan kedalaman pada narasi tentang bagaimana domba yang tersesat akhirnya menemukan jalan kembali ke dalam "kandang" yang aman di bawah perlindungan Sang Gembala.
### 3. Makna Teologis di Balik Lagu
Lagu ini memiliki tema sentral yang kuat:
* **Kesatuan (The One Flock):** Liriknya menekankan bahwa meskipun manusia berasal dari latar belakang yang berbeda, dalam pandangan Tuhan, mereka adalah satu kawanan. Ini adalah pesan perdamaian yang sangat kuat di Eropa yang saat itu sering terpecah karena konflik agama.
* **Pemeliharaan (The Shepherd):** Gembala dalam lagu ini digambarkan bukan sebagai penguasa yang otoriter, melainkan sebagai sosok yang mengenal setiap dombanya secara pribadi. Ini mencerminkan hubungan personal antara Tuhan dan individu.
* **Keselamatan:** Lagu ini mengajak pendengarnya untuk melepaskan kecemasan duniawi dan berserah diri sepenuhnya pada pimpinan Sang Gembala yang akan menuntun mereka melewati "lembah kekelaman" menuju padang rumput yang tenang.
### 4. Mengapa Lagu Ini Penting?
Dalam tradisi gereja (termasuk gereja-gereja di Indonesia yang menerjemahkan lagu ini ke dalam buku nyanyian seperti *Kidung Jemaat* atau *Pelengkap Kidung Jemaat*), lagu ini menjadi sangat populer karena:
1. **Melodi yang Tenang:** Biasanya dibawakan dengan tempo *andante* (seperti berjalan tenang) yang menggambarkan ketenteraman jiwa.
2. **Metafora Universal:** Siapa pun dapat memahami perasaan sebagai "domba" yang membutuhkan perlindungan dari "gembala" di tengah dunia yang kacau.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **keberlanjutan iman**. Johann Ulich meletakkan fondasi teologisnya di tengah abad ke-17 yang kelam, dan Friedrich Adolf Krummacher menyempurnakan keindahannya di abad ke-19 agar tetap relevan.
Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan **proklamasi kesatuan**. Hingga hari ini, lagu ini tetap dinyanyikan untuk mengingatkan umat bahwa di atas segala perbedaan, ada "Satu Gembala" yang tetap memelihara, mencari, dan melindungi mereka sebagai "Satu Kawanan" yang utuh.
*Catatan: Jika Anda sedang merujuk pada versi bahasa Indonesia, lagu ini sering muncul dalam buku nyanyian gerejawi sebagai pengingat akan kasih setia Tuhan yang tidak pernah berubah melintasi zaman.*
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Akar Sejarah: Johann Ulich (1674)
Johann Ulich (1634β1712) adalah seorang komponis dan penyair gerejawi asal Jerman yang hidup di masa *Baroque* tengah. Ia melayani di Wittenberg, kota yang sangat kental dengan tradisi reformasi Martin Luther.
Pada tahun 1674, Ulich menulis sebuah himne yang berfokus pada metafora **"Gembala yang Baik"** (Yohanes 10:16). Dalam teologi Kristen, konsep "satu kawanan dan satu gembala" adalah simbol kesatuan gereja di bawah otoritas Yesus Kristus. Fokus Ulich pada masa itu adalah memberikan penghiburan bagi jemaat gereja yang sedang menghadapi masa-masa sulit pasca-Perang Tiga Puluh Tahun, di mana dunia terasa tercerai-berai dan manusia membutuhkan figur "Gembala" yang menyatukan.
### 2. Transformasi oleh Friedrich Adolf Krummacher
Nama **Friedrich Adolf Krummacher** (1767β1845) sering dikaitkan dengan lagu ini karena ia adalah tokoh yang mempopulerkan kembali dan menyempurnakan gaya sastra lagu ini. Krummacher adalah seorang teolog Protestan Jerman yang sangat terkenal karena karya-karyanya yang puitis dan bersifat didaktis (mengajar).
Krummacher tidak "menulis" lagu ini dari nol di tahun 1674, melainkan ia **mengolah kembali tradisi/teks lama** yang diwariskan oleh tradisi Ulich ke dalam bahasa yang lebih emosional dan romantis, sesuai dengan semangat zaman *Pietisme* dan awal abad ke-19. Ia memberikan kedalaman pada narasi tentang bagaimana domba yang tersesat akhirnya menemukan jalan kembali ke dalam "kandang" yang aman di bawah perlindungan Sang Gembala.
### 3. Makna Teologis di Balik Lagu
Lagu ini memiliki tema sentral yang kuat:
* **Kesatuan (The One Flock):** Liriknya menekankan bahwa meskipun manusia berasal dari latar belakang yang berbeda, dalam pandangan Tuhan, mereka adalah satu kawanan. Ini adalah pesan perdamaian yang sangat kuat di Eropa yang saat itu sering terpecah karena konflik agama.
* **Pemeliharaan (The Shepherd):** Gembala dalam lagu ini digambarkan bukan sebagai penguasa yang otoriter, melainkan sebagai sosok yang mengenal setiap dombanya secara pribadi. Ini mencerminkan hubungan personal antara Tuhan dan individu.
* **Keselamatan:** Lagu ini mengajak pendengarnya untuk melepaskan kecemasan duniawi dan berserah diri sepenuhnya pada pimpinan Sang Gembala yang akan menuntun mereka melewati "lembah kekelaman" menuju padang rumput yang tenang.
### 4. Mengapa Lagu Ini Penting?
Dalam tradisi gereja (termasuk gereja-gereja di Indonesia yang menerjemahkan lagu ini ke dalam buku nyanyian seperti *Kidung Jemaat* atau *Pelengkap Kidung Jemaat*), lagu ini menjadi sangat populer karena:
1. **Melodi yang Tenang:** Biasanya dibawakan dengan tempo *andante* (seperti berjalan tenang) yang menggambarkan ketenteraman jiwa.
2. **Metafora Universal:** Siapa pun dapat memahami perasaan sebagai "domba" yang membutuhkan perlindungan dari "gembala" di tengah dunia yang kacau.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **keberlanjutan iman**. Johann Ulich meletakkan fondasi teologisnya di tengah abad ke-17 yang kelam, dan Friedrich Adolf Krummacher menyempurnakan keindahannya di abad ke-19 agar tetap relevan.
Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan **proklamasi kesatuan**. Hingga hari ini, lagu ini tetap dinyanyikan untuk mengingatkan umat bahwa di atas segala perbedaan, ada "Satu Gembala" yang tetap memelihara, mencari, dan melindungi mereka sebagai "Satu Kawanan" yang utuh.
*Catatan: Jika Anda sedang merujuk pada versi bahasa Indonesia, lagu ini sering muncul dalam buku nyanyian gerejawi sebagai pengingat akan kasih setia Tuhan yang tidak pernah berubah melintasi zaman.*
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.