KK
Di Waktu 'Ku Masih Kecil
My Name In Mother's Prayer
605
Nomor
Do=Es
Nada Dasar
Kode
KK 605
Buku
Kidung Keesaan
Tematik
Keluarga
Nada Dasar
Do=Es
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
76
Jumlah Bait
4 bait
Style
ChristmasWaltz
Pencipta Lagu
Peter Philip Bilhorn (1896)
Pencipta Syair
Peter Philip Bilhorn (1896)
Penerjemah
Epafroditus Laurentius Pohan Shn (E.L. Pohan) (1973)
Cross Ref.
KPJ 381, KLIK 121
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
Di waktu ‘ku masih kecil, gembira dan senang
Tiada duka kukenal, tak kunjung mengerang
Di sore hari yang sepi, Ibuku bertelut
Sujud berdoa, kudengar namaku disebut
Reff
Di doa Ibuku namaku di sebut
Di doa ibu kudengar ada namaku disebut
2
Seringlah ini ‘ku kenang di masa yang berat
Di kala hidup mendesak dan nyaris ku sesat
Melintas gambar ibuku sewaktu bertelut
Kembali sayup kudengar, namaku disebut
Reff
3
Jalan sendiri ku tempuh tak ingin mendengar
Teguran Tuhan yang lembut, supaya ‘ku sadar
Tatkala tampaklah jelas hidupku kemelut
Doa ibuku terdengar, namaku disebut
Reff
4
Sekarang dia tlah pergi ke rumah yang senang
Namun kasihnya padaku selalu kukenang
Kelak di sana kami pun bersama bertelut
Memuji Tuhan yang dengar namaku di sebut
Reff
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
4 slide
Kisah di Balik Lagu
Kisah di balik lagu **"Di Waktu 'Ku Masih Kecil"** (judul asli bahasa Inggris: *"I Am Praying for You"* atau sering dikenal dengan baris pertamanya *"I Have a Savior"*), yang ditulis oleh **Peter Philip Bilhorn**, adalah sebuah kisah tentang kasih seorang ibu dan kekuatan doa yang tidak pernah putus.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Latar Belakang Peter Philip Bilhorn
Peter Philip Bilhorn (1865–1936) adalah seorang penginjil, penyanyi, dan penulis lagu asal Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai musisi yang sering mengadakan perjalanan penginjilan (evangelistik). Namun, sebelum ia menjadi tokoh agama yang dikenal, masa kecilnya penuh dengan tantangan.
### 2. Sosok Ibu yang Berdoa
Kisah lagu ini berakar pada kenangan masa kecil Bilhorn tentang ibunya. Sang ibu adalah seorang wanita yang sangat saleh dan memiliki beban yang besar untuk kerohanian anak-anaknya.
Di tengah kesibukan dan tantangan hidup, sang ibu selalu meluangkan waktu khusus untuk mendoakan anak-anaknya satu per satu. Bilhorn menceritakan bahwa ia sering mendengar ibunya menyebut namanya dalam doa dengan penuh kasih dan ketulusan. Baginya, doa-doa tersebut adalah "jangkar" yang menahannya saat ia mulai beranjak dewasa dan menghadapi dunia.
### 3. Momen Inspirasi
Suatu ketika, saat Bilhorn sedang dalam perjalanan penginjilannya, ia teringat kembali pada masa-masa kecilnya. Ia merenungkan bagaimana kasih sayang seorang ibu yang setia mendoakannya telah membentuk karakternya dan membimbingnya menuju iman kepada Kristus.
Ia ingin menulis sebuah lagu yang tidak hanya mengungkapkan syukur atas doa seorang ibu, tetapi juga mengingatkan setiap orang bahwa meskipun seorang ibu mungkin sudah tiada atau tidak bisa lagi menemani secara fisik, doa-doa yang pernah dipanjatkan itu tetap memiliki kuasa dan kenangan yang abadi.
Liriknya menekankan pada **keamanan dan perlindungan** yang dirasakan seseorang saat ia tahu ada seseorang yang dengan sungguh-sungguh berdoa untuknya.
### 4. Makna Lagu
Dalam lagu ini, Bilhorn ingin menyampaikan pesan bahwa:
* **Doa adalah warisan:** Doa seorang ibu adalah warisan rohani yang paling berharga bagi seorang anak.
* **Pengingat iman:** Lagu ini sering digunakan dalam ibadah untuk mengingatkan para ibu tentang betapa pentingnya mendoakan anak-anak mereka, dan bagi anak-anak untuk menghargai kasih orang tua.
* **Penghiburan:** Bagi mereka yang mungkin merasa jauh dari Tuhan atau sedang berada di masa sulit, mengingat bahwa ada seseorang (seperti ibu) yang telah mendoakan mereka dapat memberikan kekuatan untuk kembali kepada iman.
### 5. Adaptasi di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja, terutama dalam kebaktian keluarga atau ibadah Hari Ibu. Terjemahannya yang menyentuh hati—yang dimulai dengan *"Di waktu 'ku masih kecil, ibuku berdoa..."*—sangat membekas di ingatan banyak orang karena melodi yang sederhana namun emosional.
### Kesimpulan
Lagu ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah **monumen syukur**. Peter Philip Bilhorn berhasil mengubah kenangan intim di masa kecilnya menjadi sebuah pujian universal. Setiap kali lagu ini dinyanyikan, ia menjadi pengingat bahwa doa seorang ibu yang tulus tidak akan pernah sia-sia, dan cinta yang dipancarkan melalui doa akan tetap hidup melampaui waktu.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Latar Belakang Peter Philip Bilhorn
Peter Philip Bilhorn (1865–1936) adalah seorang penginjil, penyanyi, dan penulis lagu asal Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai musisi yang sering mengadakan perjalanan penginjilan (evangelistik). Namun, sebelum ia menjadi tokoh agama yang dikenal, masa kecilnya penuh dengan tantangan.
### 2. Sosok Ibu yang Berdoa
Kisah lagu ini berakar pada kenangan masa kecil Bilhorn tentang ibunya. Sang ibu adalah seorang wanita yang sangat saleh dan memiliki beban yang besar untuk kerohanian anak-anaknya.
Di tengah kesibukan dan tantangan hidup, sang ibu selalu meluangkan waktu khusus untuk mendoakan anak-anaknya satu per satu. Bilhorn menceritakan bahwa ia sering mendengar ibunya menyebut namanya dalam doa dengan penuh kasih dan ketulusan. Baginya, doa-doa tersebut adalah "jangkar" yang menahannya saat ia mulai beranjak dewasa dan menghadapi dunia.
### 3. Momen Inspirasi
Suatu ketika, saat Bilhorn sedang dalam perjalanan penginjilannya, ia teringat kembali pada masa-masa kecilnya. Ia merenungkan bagaimana kasih sayang seorang ibu yang setia mendoakannya telah membentuk karakternya dan membimbingnya menuju iman kepada Kristus.
Ia ingin menulis sebuah lagu yang tidak hanya mengungkapkan syukur atas doa seorang ibu, tetapi juga mengingatkan setiap orang bahwa meskipun seorang ibu mungkin sudah tiada atau tidak bisa lagi menemani secara fisik, doa-doa yang pernah dipanjatkan itu tetap memiliki kuasa dan kenangan yang abadi.
Liriknya menekankan pada **keamanan dan perlindungan** yang dirasakan seseorang saat ia tahu ada seseorang yang dengan sungguh-sungguh berdoa untuknya.
### 4. Makna Lagu
Dalam lagu ini, Bilhorn ingin menyampaikan pesan bahwa:
* **Doa adalah warisan:** Doa seorang ibu adalah warisan rohani yang paling berharga bagi seorang anak.
* **Pengingat iman:** Lagu ini sering digunakan dalam ibadah untuk mengingatkan para ibu tentang betapa pentingnya mendoakan anak-anak mereka, dan bagi anak-anak untuk menghargai kasih orang tua.
* **Penghiburan:** Bagi mereka yang mungkin merasa jauh dari Tuhan atau sedang berada di masa sulit, mengingat bahwa ada seseorang (seperti ibu) yang telah mendoakan mereka dapat memberikan kekuatan untuk kembali kepada iman.
### 5. Adaptasi di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja, terutama dalam kebaktian keluarga atau ibadah Hari Ibu. Terjemahannya yang menyentuh hati—yang dimulai dengan *"Di waktu 'ku masih kecil, ibuku berdoa..."*—sangat membekas di ingatan banyak orang karena melodi yang sederhana namun emosional.
### Kesimpulan
Lagu ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah **monumen syukur**. Peter Philip Bilhorn berhasil mengubah kenangan intim di masa kecilnya menjadi sebuah pujian universal. Setiap kali lagu ini dinyanyikan, ia menjadi pengingat bahwa doa seorang ibu yang tulus tidak akan pernah sia-sia, dan cinta yang dipancarkan melalui doa akan tetap hidup melampaui waktu.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
Tema :
Keluarga
601
Kumulai Dari Diri Sendiri
602
Benang Yang Kusut
603
Berbahagia Tiap Rumah Tangga
604
Dalam Rumah Yang Gembira
606
Inilah Rumah Kami
607
Istri Yang Teramat Baik
608
Keluarga Hidup Indah
609
Keluarga Yang Damai
610
Kerukunan Dalam Rumah Tangga
611
Oh, Ibuku Tersayang
612
Pendidikan
613
Pendidikan Yang Baik
614
Tanggung Jawab Seorang Ayah
615
Tuhan, Lindungi Anak-Anak