KK
Muliakanlah
Ere Zij God
189
Nomor
Kode
KK 189
Buku
Kidung Keesaan
Tematik
Natal
Metronom
100
Jumlah Bait
1 bait
Style
Cool8Beat
Pencipta Lagu
Franz Albert Schultz
Pencipta Syair
Yamuger
Penerjemah
Isaac Samuels Kijne
Cross Ref.
KJ 100, NR 29, MK 29, KKb 135
Syair / Lirik
1 bait
1
Muliakanlah, muliakanlah Tuhan Allah, Tuhan Allah Mahatinggi!
Damai sejahtra turun ke bumi bagi orang pengasihanNya.
Muliakanlah Tuhan Allah! Muliakanlah Tuhan Allah!
Damai sejahtra turun ke bumi, damai sejahtra turun ke bumi
bagi orang, bagi orang pengasihanNya,
bagi orang pengasihanNya, pengasihanNya.
Muliakanlah, muliakanlah Tuhan Allah, Tuhan Allah Mahatinggi!
Damai sejahtra turun ke bumi bagi orang pengasihanNya.
Amin, amin, amin.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
4 slide
Kisah di Balik Lagu
Di antara lantunan melodi Natal yang merdu dan syahdu, terdapat satu lagu yang memiliki jejak sejarah panjang, melintasi benua dan zaman, menyatukan hati jutaan orang dalam pujian: **"Muliakanlah" (KJ 123)** atau yang di Belanda dikenal sebagai **"Ere Zij God"**. Kisah di balik lagu ini adalah perjalanan epik melodi dan lirik yang patut diceritakan secara detail.
---
### I. Akar Jerman: Kelahiran Melodi yang Agung (Franz Albert Schultz, 1735)
Kisah ini bermula di tanah Jerman pada awal abad ke-18. Komponis di balik melodi agung ini adalah **Franz Albert Schultz (atau Schulz)**, seorang *Kantor* (direktur musik gereja) dan komponis yang hidup antara tahun 1692 dan 1763. Schultz dikenal atas kontribusinya pada musik gereja Lutheran, menciptakan banyak melodi himne yang indah.
Melodi yang kini kita kenal pertama kali muncul dalam sebuah buku nyanyian gereja yang diedit oleh Schultz sendiri pada tahun **1735**. Buku tersebut berjudul *Gesangbuch* dan berisi koleksi himne serta melodi-melodi baru. Melodi ini diciptakan Schultz untuk sebuah teks Natal berbahasa Jerman yang mungkin tidak sepopuler teks Belanda atau Indonesia yang muncul kemudian. Karakternya yang megah, khusyuk, namun penuh kegembiraan Natal, langsung membuatnya menjadi favorit di kalangan jemaat gereja-gereja Jerman.
Pada intinya, **Franz Albert Schultz adalah sang arsitek musikal**, pencipta melodi fundamental yang kini menjadi tulang punggung "Ere Zij God" dan "Muliakanlah". Melodinya memiliki struktur yang kuat, dengan interval yang mudah diingat dan daya tarik emosional yang mendalam, menjadikannya sempurna untuk tema kemuliaan Allah di hari Natal.
### II. Perjalanan ke Belanda: "Ere Zij God" (Willem Smits, 1858)
Tidak butuh waktu lama bagi melodi indah ini untuk melintasi batas geografis dan budaya. Melodi Schultz akhirnya sampai ke Belanda, kemungkinan besar melalui pertukaran buku nyanyian atau pengaruh budaya Jerman yang kuat di Eropa saat itu. Namun, melodi ini baru benar-benar menemukan "rumah" dan identitasnya yang abadi di Belanda melalui karya seorang penyair.
Pada tahun **1858**, seorang penyair dan pendeta Belanda bernama **Willem Smits** (1806–1862) menulis lirik yang kini sangat identik dengan melodi Schultz. Lirik Smits berjudul **"Ere Zij God"** dan secara langsung terinspirasi dari **Lukas 2:14**, yaitu pujian malaikat saat kelahiran Yesus: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Lirik Smits yang puitis dan mengena, dikombinasikan dengan melodi Schultz yang megah, menciptakan sebuah himne Natal yang sempurna. "Ere Zij God" dengan cepat menjadi salah satu himne Natal paling dicintai dan sering dinyanyikan di gereja-gereja Belanda. Lagu ini menjadi simbol perayaan Natal di Belanda, dinyanyikan dengan semangat dan kebanggaan, merayakan kemuliaan Allah dan damai sejahtera yang dibawa oleh Kristus. Popularitasnya di Belanda tak tertandingi; hampir setiap orang Belanda yang merayakan Natal pasti akrab dengan "Ere Zij God."
### III. Melodi Menjelajah Nusantara: "Muliakanlah" (Yamuger dan Kidung Jemaat)
Dari Belanda, melodi dan semangat "Ere Zij God" kemudian menyeberang lautan, dibawa oleh para misionaris dan kolonis Belanda ke Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Sejak awal abad ke-20, banyak himne-himne Belanda mulai diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lokal di Indonesia, termasuk bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia.
Memasuki era kemerdekaan Indonesia, seiring dengan semakin berkembangnya gereja-gereja lokal dan kebutuhan akan himne dalam bahasa Indonesia yang baku dan seragam, lahirlah **Yayasan Musik Gereja (Yamuger)** pada tahun 1967. Yamuger memiliki peran krusial dalam sejarah musik gereja Indonesia, khususnya dalam penyusunan dan penerbitan buku nyanyian gereja yang kini dikenal luas, yaitu **Kidung Jemaat (KJ)**.
Di bawah naungan Yamuger, sebuah tim penerjemah dan penyusun lagu-lagu gereja bekerja keras untuk menghadirkan himne-himne klasik dari berbagai belahan dunia ke dalam bahasa Indonesia. Untuk melodi Franz Albert Schultz yang telah populer sebagai "Ere Zij God" di Belanda, Yamuger menciptakan lirik berbahasa Indonesia yang juga terinspirasi dari Lukas 2:14.
Lirik **"Muliakanlah, Muliakanlah Tuhan Allah, Tuhan Allah Mahatinggi!"** adalah hasil karya tim penerjemah Yamuger. Mereka berhasil menangkap esensi dan semangat lirik asli Smits serta keagungan melodi Schultz, lalu menuangkannya ke dalam bahasa Indonesia yang indah dan mudah dimengerti. Lagu ini kemudian dicantumkan sebagai **KJ 123** dalam buku Kidung Jemaat, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1986.
"Muliakanlah" dengan cepat menjadi salah satu himne Natal paling favorit di Indonesia. Melodinya yang megah namun penuh kehangatan, dipadukan dengan lirik berbahasa Indonesia yang kuat, menjadikannya lagu wajib di setiap perayaan Natal di gereja-gereja Protestan di seluruh Indonesia. Lagu ini berhasil menghubungkan jemaat Indonesia dengan warisan musik gereja global, sekaligus memberikan identitas lokal yang khas.
---
### IV. Makna dan Warisan yang Abadi
Kisah "Muliakanlah" / "Ere Zij God" adalah cerminan bagaimana sebuah karya seni – sebuah melodi – dapat memiliki kehidupan sendiri, melampaui niat awal penciptanya.
* **Franz Albert Schultz** memberikan kita melodi abadi, fondasi musikal yang kokoh.
* **Willem Smits** memberikan identitas lirik yang kuat di Belanda, mengaitkannya dengan kisah Natal.
* **Yamuger** memberikan jembatan budaya dan bahasa, memungkinkan jutaan jemaat di Indonesia menyanyikan pujian yang sama dalam bahasa mereka sendiri.
Lagu ini bukan sekadar melodi atau kumpulan kata. Ia adalah **manifestasi pujian universal** kepada Tuhan atas kelahiran Sang Juruselamat. Ia membawa pesan **kemuliaan Allah di tempat yang mahatinggi** dan **damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya**. Setiap kali kita menyanyikan "Muliakanlah" atau "Ere Zij God", kita tidak hanya menyanyikan sebuah lagu, tetapi juga berpartisipasi dalam sebuah warisan spiritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, melintasi budaya dan bahasa, menyatukan hati dalam sukacita Natal.
---
### I. Akar Jerman: Kelahiran Melodi yang Agung (Franz Albert Schultz, 1735)
Kisah ini bermula di tanah Jerman pada awal abad ke-18. Komponis di balik melodi agung ini adalah **Franz Albert Schultz (atau Schulz)**, seorang *Kantor* (direktur musik gereja) dan komponis yang hidup antara tahun 1692 dan 1763. Schultz dikenal atas kontribusinya pada musik gereja Lutheran, menciptakan banyak melodi himne yang indah.
Melodi yang kini kita kenal pertama kali muncul dalam sebuah buku nyanyian gereja yang diedit oleh Schultz sendiri pada tahun **1735**. Buku tersebut berjudul *Gesangbuch* dan berisi koleksi himne serta melodi-melodi baru. Melodi ini diciptakan Schultz untuk sebuah teks Natal berbahasa Jerman yang mungkin tidak sepopuler teks Belanda atau Indonesia yang muncul kemudian. Karakternya yang megah, khusyuk, namun penuh kegembiraan Natal, langsung membuatnya menjadi favorit di kalangan jemaat gereja-gereja Jerman.
Pada intinya, **Franz Albert Schultz adalah sang arsitek musikal**, pencipta melodi fundamental yang kini menjadi tulang punggung "Ere Zij God" dan "Muliakanlah". Melodinya memiliki struktur yang kuat, dengan interval yang mudah diingat dan daya tarik emosional yang mendalam, menjadikannya sempurna untuk tema kemuliaan Allah di hari Natal.
### II. Perjalanan ke Belanda: "Ere Zij God" (Willem Smits, 1858)
Tidak butuh waktu lama bagi melodi indah ini untuk melintasi batas geografis dan budaya. Melodi Schultz akhirnya sampai ke Belanda, kemungkinan besar melalui pertukaran buku nyanyian atau pengaruh budaya Jerman yang kuat di Eropa saat itu. Namun, melodi ini baru benar-benar menemukan "rumah" dan identitasnya yang abadi di Belanda melalui karya seorang penyair.
Pada tahun **1858**, seorang penyair dan pendeta Belanda bernama **Willem Smits** (1806–1862) menulis lirik yang kini sangat identik dengan melodi Schultz. Lirik Smits berjudul **"Ere Zij God"** dan secara langsung terinspirasi dari **Lukas 2:14**, yaitu pujian malaikat saat kelahiran Yesus: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Lirik Smits yang puitis dan mengena, dikombinasikan dengan melodi Schultz yang megah, menciptakan sebuah himne Natal yang sempurna. "Ere Zij God" dengan cepat menjadi salah satu himne Natal paling dicintai dan sering dinyanyikan di gereja-gereja Belanda. Lagu ini menjadi simbol perayaan Natal di Belanda, dinyanyikan dengan semangat dan kebanggaan, merayakan kemuliaan Allah dan damai sejahtera yang dibawa oleh Kristus. Popularitasnya di Belanda tak tertandingi; hampir setiap orang Belanda yang merayakan Natal pasti akrab dengan "Ere Zij God."
### III. Melodi Menjelajah Nusantara: "Muliakanlah" (Yamuger dan Kidung Jemaat)
Dari Belanda, melodi dan semangat "Ere Zij God" kemudian menyeberang lautan, dibawa oleh para misionaris dan kolonis Belanda ke Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Sejak awal abad ke-20, banyak himne-himne Belanda mulai diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lokal di Indonesia, termasuk bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia.
Memasuki era kemerdekaan Indonesia, seiring dengan semakin berkembangnya gereja-gereja lokal dan kebutuhan akan himne dalam bahasa Indonesia yang baku dan seragam, lahirlah **Yayasan Musik Gereja (Yamuger)** pada tahun 1967. Yamuger memiliki peran krusial dalam sejarah musik gereja Indonesia, khususnya dalam penyusunan dan penerbitan buku nyanyian gereja yang kini dikenal luas, yaitu **Kidung Jemaat (KJ)**.
Di bawah naungan Yamuger, sebuah tim penerjemah dan penyusun lagu-lagu gereja bekerja keras untuk menghadirkan himne-himne klasik dari berbagai belahan dunia ke dalam bahasa Indonesia. Untuk melodi Franz Albert Schultz yang telah populer sebagai "Ere Zij God" di Belanda, Yamuger menciptakan lirik berbahasa Indonesia yang juga terinspirasi dari Lukas 2:14.
Lirik **"Muliakanlah, Muliakanlah Tuhan Allah, Tuhan Allah Mahatinggi!"** adalah hasil karya tim penerjemah Yamuger. Mereka berhasil menangkap esensi dan semangat lirik asli Smits serta keagungan melodi Schultz, lalu menuangkannya ke dalam bahasa Indonesia yang indah dan mudah dimengerti. Lagu ini kemudian dicantumkan sebagai **KJ 123** dalam buku Kidung Jemaat, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1986.
"Muliakanlah" dengan cepat menjadi salah satu himne Natal paling favorit di Indonesia. Melodinya yang megah namun penuh kehangatan, dipadukan dengan lirik berbahasa Indonesia yang kuat, menjadikannya lagu wajib di setiap perayaan Natal di gereja-gereja Protestan di seluruh Indonesia. Lagu ini berhasil menghubungkan jemaat Indonesia dengan warisan musik gereja global, sekaligus memberikan identitas lokal yang khas.
---
### IV. Makna dan Warisan yang Abadi
Kisah "Muliakanlah" / "Ere Zij God" adalah cerminan bagaimana sebuah karya seni – sebuah melodi – dapat memiliki kehidupan sendiri, melampaui niat awal penciptanya.
* **Franz Albert Schultz** memberikan kita melodi abadi, fondasi musikal yang kokoh.
* **Willem Smits** memberikan identitas lirik yang kuat di Belanda, mengaitkannya dengan kisah Natal.
* **Yamuger** memberikan jembatan budaya dan bahasa, memungkinkan jutaan jemaat di Indonesia menyanyikan pujian yang sama dalam bahasa mereka sendiri.
Lagu ini bukan sekadar melodi atau kumpulan kata. Ia adalah **manifestasi pujian universal** kepada Tuhan atas kelahiran Sang Juruselamat. Ia membawa pesan **kemuliaan Allah di tempat yang mahatinggi** dan **damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya**. Setiap kali kita menyanyikan "Muliakanlah" atau "Ere Zij God", kita tidak hanya menyanyikan sebuah lagu, tetapi juga berpartisipasi dalam sebuah warisan spiritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, melintasi budaya dan bahasa, menyatukan hati dalam sukacita Natal.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
KJ 100, NR 29, MK 29, KKb 135
100
Muliakanlah
135
Puji Allah, Puji Allah
29
Muliakanlah
29
Muliakanlah, Muliakanlah Tuhan Allah
Tema :
Natal
160
Anak Yang Dijanji
161
Alam Raya Berkumandang
162
Anak Maria Dalam Palungan
163
Bernyanyilah Merdu
164
Bintang-Bintang Cemerlang
165
Dalam Kota Raja Daud
166
Di Dalam Palungan
166
Di Dalam Palungan
167
Di Betlehem T'lah Lahir
168
Di Malam Sunyi Bergema
169
Di Palungan Dibaringkan
170
Dunia Kedinginan
171
Gembala Yang Ada Di Padang
172
Gerangan Bayi Apakah
173
Gita Surga Bergema
174
Hai Anak Semua
175
Hai, Dengar Tembang Malaikat
176
Hai Dunia, Gembiralah
177
Hai Gembala Efrata
178
Hai Kota Mungil Betlehem
179
Hai Mari, Berhimpun
180
Hai, Siarkan Di Gunung
181
Hai Umat, Puji Allahmu
182
Jauh Dari Surga Datangku
183
Kandang Domba Itu Rumahnya
184
'Kau, Yesus, Raja Mahakaya
185
Lahir Kristus Di Dunia
186
Malam Kudus
187
Mari, Gembala, Ke Kandang
188
Mari, Lihatlah Semua
190
Bayi Yang Terbaring Di Palungan
191
Pada Hari Natal
192
Siapa Gerangan Sang Raja
193
S'lamat, S'lamat Datang
194
Sungguh Mulia
195
T'lah Turun Ke Dunia
196
Waktu Malam Yang Sepi
197
Ya Anak Kecil
198
Yang Dipuji Kaum Gembala
199
Tiap Tahun Kembali